Berita

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Djaduk Butet

KAMIS, 14 NOVEMBER 2019 | 05:11 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

HARUSNYA Djaduk Ferianto menjalani operasi jantung. Hari-hari kemarin. Dokter sudah mengharuskan jantungnya harus dipasangi ring.
 
Tapi Sabtu lusa akan ada perhelatan musik di Jogja: Ngayogjazz. Yang lagi diusahakan menjadi legendaris itu. Yang Djaduk memegang peran sentral di dalamnya.
 
Hanya lima hari sebelum konser itu, Rabu dini hari kemarin --Anda sudah tahu-- jantung Djaduk berhenti. Djaduk meninggal dunia. Di rumahnya: Singosaren Jogja. Di tempat tidurnya: di sebelah istrinya.
 

 
Sang istri terbangun menjelang jam 3 pagi itu. Suaminya mengeluh nyeri dada. Sesak nafas. Tidak sempat dibawa ke rumah sakit. Mendadak meninggal dunia. Di usianya yang baru 55 tahun.
 
Dokter yang dipanggil memang datang. Tapi tidak keburu. Kakak-kakak Djaduk yang di Jogja juga dihubungi. Rumah mereka berdekatan. Semua bergegas ke rumah Djaduk --juga sudah terlambat.
 
Kakak perempuannya yang di Jakarta pun ditelepon. Hanya bisa menangis. Hanya satu dari tujuh anak maestro Bagong Kussudiardja yang tinggal di Jakarta: Rondang Ciptasari.
 
Rondang bergegas mencari tiket pesawat. Dapat Batik Air jam 9.30. Bersama putri bungsu Butet Kartarajasa: Galuh Pascamagma. Yang lahir setelah Gunung Merapi meletus. Yang kini bekerja di Djarum Fondation Jakarta.
 
Saya bertemu mereka di ruang tunggu bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Terlihat juga banyak seniman di ruang tunggu itu. Yang juga akan melayat ke Jogja. Salah satunya Cak Lontong.
 
Rondang tidak henti-hentinya menangis. Demikian juga Galuh.
 
"Kapan terakhir bertemu Djaduk?" tanya saya.
 
"Ketemu terakhir di video call. Dua minggu lalu," ujar Rondang --dalam bahasa Batak berarti bulan.
 
Dia seorang penari. Seperti kakak sulungnya yang sudah almarhumah.
 
Adik-adiknya seniman semua - -menurun dari ayahanda mereka: Bagong Kussudiardja.
 
Djaduk menjadi musisi terkemuka. Butet menjadi raja teater Indonesia. Adiknya lagi ahli di gamelan Jawa.
 
Tapi mereka semua juga mewarisi 'bakat' sang ayah yang lain: sakit gula darah. Yang bisa merembet ke mana-mana. Termasuk ke jantung.
 
Apalagi Djaduk perokok berat. Lebih-lebih lagi Butet.
 
Dan Djaduk tidak berhasil menyelaraskan berat badannya. Sampai melewati angka 100 kg. Pun irama makannya: seperti jazz - -banyak improvisasi.
 
Butet yang kelihatan berhasil menurunkan berat badannya. Saya lihat dari fotonya.
 
Dua tahun yang lalu pun Djaduk sudah tahu: gula darahnya sudah mengganggu jantungnya. Anak-anak maestro Bagong ini kenal baik Dokter Terawan. Yang mayor jenderal itu. Yang kini menjadi menteri kesehatan itu.
 
Dua tahun lalu Djaduk bertemu dokter Terawan. Ia bersedia dirayu menjalani 'cuci otak' --metode kontroversial yang jadi trade mark dokter Terawan. Saat itulah dokter mengatakan jantung Djaduk sudah mulai bermasalah.
 
Maka sekalian saja pembuluh darah di jantungnya juga 'dicuci'.
 
Saya sendiri dua kali menjalani 'cuci otak' di dokter Terawan. Yakni saat masih menjadi sesuatu enam tahun yang lalu. Tapi saya belum pernah merasakan 'cuci jantung' --waktu itu belum berkembang ke sana.
 
Djaduk --seperti juga Butet-- hidupnya memang sangat seniman. Sepertinya di dunia ini tidak ada yang lebih penting dari seni.
 
"Pasang ringnya setelah Ngayogjazz saja," ujar Djaduk.
 
Keluhan-keluhan sesak diatasi dengan kerokan dulu. "Djaduk suka sekali dikeroki," ujar Rondang --yang suka menggendok Djaduk di saat kecil dulu.
 
Begitu pun Butet: seni mengalahkan kesehatannya. Jantungnya sudah dipasangi ring. Satu.
 
Biar pun begitu jantung itu tidak menghalanginya pentas.
 
Bahkan di pentas Para Pensiunan dilakoninya sambil berpacu dengan jantungnya. Sesekali detak jantungnya sampai berhenti.
 
Setiap habis tampil Butet harus terduduk. Di belakang panggung. Lalu tidak ingat apa-apa. Tiba-tiba terbangun. Hanya untuk bertanya: apakah sudah waktunya adegan yang harus diperankannya?
 
Butet bisa muncul lagi di panggung. Habis itu terduduk lagi di belakang panggung. Pingsan lagi. Bangun. Bertanya lagi: sudah giliran saya tampil?
 
Malam itu anak bungsu Butet yang cantik itu sampai menjaga bapaknya di belakang panggung. Di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Sampai selesai.
 
"Saya langsung ajak bapak ke rumah sakit," ujar Galuh --si bungsu Butet.
 
Butet masih tidak mau.
 
"Ini lho, Pa. Tengkuk Papa keringat dingin," ujar si cantik.
 
"Tapi pulang ke hotel dulu ya," ujar Butet menawar.
 
"Tidak. Kita langsung ke St Carolus," ujar Galuh yang lulusan akutansi Universitas Atmajaya Jakarta.
 
Sampai di RS Butet menolak dilakukan rekam jantung. Minta disuntik saja. Sang putri ngotot harus rekam jantung --dengan janji langsung pulang setelah itu.
 
Tapi dokter melarangnya pulang. Hasil rekam jantungnya jelek. Butet harus dipasangi ring. Bahkan empat.
 
"Jangan didramatisir begitulah dok," ujar Butet pada dokternya.
 
Butet --dan Djaduk-- memang juga raja humor. Kemampuan mereka berhumor luar biasa. Termasuk menjadikan diri mereka sendiri sebagai bahan humor.
 
Sejak malam itu Galuh menunggui bapaknya di RS. Selama tiga hari. Sambil menunggu ibunya datang dari Jogja.
 
Galuh nangis terus antara lain ingat itu: setiap jam Djaduk menelepon Galuh. Djaduk terus menanyakan perkembangan jantung Butet.
 
Kini justru jantung Djaduk yang tidak tertolong.
 
Akhirnya bukan hanya Butet yang kehilangan Djaduk. Juga kita semua. Bangsa seniman Indonesia. Juga istrinya. Juga lima anaknya --yang nama depan mereka istemewa semua: Presiden, Gusti, Ratu, Nyaribunyi dan Rajane.
 
Keluarga yang di ruang tunggu itu nangis lagi. Kali ini karena ada pengumuman pesawat Batiknya akan delay 1,5 jam.
 
Mereka pun berharap masih sempat ikut misa. Yang dilaksanakan di padepokan Bagong Kussudiardja. Yang hanya sekitar 500 meter dari rumah mereka.
 
Saya pun tidak bisa ketemu Djaduk lagi.
 
Sudah setahun saya tidak bertemu Djaduk. Juga tidak bertemu Butet. Bahkan sudah dua tahun tidak pernah melihat pementasan mereka --akibat kesibukan yang sia-sia itu.
 
Begitu banyak saya tertinggal --belum menonton tiga lakon terakhir mereka. Saya berniat akan menonton lagi bulan depan. Ketika Butet akan pentas di Surabaya. Dengan lakon Para Pensiunan. Meski kali itu nanti tanpa Djaduk lagi.
 
Setidaknya saya masih bisa bertemu Djaduk lewat ciptaan musiknya --yang mengiringi pentas itu nanti.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya