Berita

Peso Argentina/Net

Dunia

Alberto Fernandez Unggul Saat Peso Argentina Babak Belur

SENIN, 28 OKTOBER 2019 | 23:39 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mata uang peso Argentina kian merosot di tahun ini. Melansir data Refinitiv, Senin (28/10), peso mengalami pelemahan 0,96 persen ke level 59,92 per dolar AS di pasar spot. 

Di bawah pemerintahan Macri, ekonomi terbesar ketiga di Amerika Latin itu telah mengalami kejatuhan dan dihantam krisis.

Pemilu ini sendiri telah memicu aksi jual mata uang peso, obligasi, dan juga saham. Bank sentral Argentina (BCRA) pada Senin pagi (28/10) waktu setempat, mengumumkan akan memotong jumlah maksimum dolar yang bisa dibeli individu.


Arus keluar cadangan devisa negara meningkat setelah Presiden Mauricio Macri kalah di putaran pertama pada Pemilu Presiden Argentina pada hari Minggu.

Macri kalah dari lawannya, Alberto Fernandez. Kemenangan Fernandez disambut baik oleh warga Argentina.

Namun kemenangan tersebut belum memberikan kepastian pulihnya ekonomi Argentina, sehingga BRCA mengambil tindakan guna meredam kemerosotan cadangan devisa.

BRCA mengatakan akan membatasi pembelian dolar menjadi 200 dolar AS per bulan melalui rekening bank. Di mana transaksi tunai hanya boleh 100 dolar AS setiap bulan dalam bentuk tunai, hingga Desember.

Angka ini merupakan penurunan yang drastis dari ketentuan yang diberlakukan pada awal September lalu. Saat itu limit pembelian dolar ditetapkan sebesar 10.000 dolar AS untuk membantu mengerem pelemahan mata uang peso.

"Mengingat tingkat ketidakpastian saat ini, dewan BCRA telah memutuskan untuk mengambil serangkaian langkah pada hari Minggu ini untuk menjaga cadangan Bank Sentral," kata lembaga itu dalam sebuah pernyataan, mengutip Reuters.

Mata uang peso mengalami kemerosotan tajam sejak bulan Agustus lalu setelah Fernadez terlihat diunggulkan menjadi Presiden baru Argentina, dan kini terlihat semakin kuat posisinya untuk menduduki kursi presiden.

Fernadez merupakan tokoh peronisme, ideologi yang dilahirkan oleh mantan presiden Argentina Juan Domingo Perón. Ideologi tersebut dikatakan cenderung populis, sehingga Agentina nantinya akan menggelontorkan anggaran besar-besar untuk kebijakan yang populis.

Dengan menerapkan kebijakan populis, pemerintah Argentina tentunya harus menambah utang lagi, dan risiko terjadinya gagal bayar atau default. Sehingga, kebijakan tersebut cenderung tidak disukai pelaku pasar apalagi dalam kondisi krisis.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya