Berita

Dahlan Iskan di Trinity College Dublin/Net

Dahlan Iskan

Belfast Dublin

SELASA, 17 SEPTEMBER 2019 | 05:05 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

HEBOH di sana, sunyi di sini.
 
Saya pun ke perbatasan itu.
 
Di London bukan main serunya. Pembahasan perbatasan itu. Antara Irlandia Utara (Inggris) dan Republik Irlandia (anggota Uni Eropa) itu.
 

 
Sampai seorang perdana menteri mundur, Theresa May. Perdana menteri lainnya mau mati di parit, Boris Johnson.
 
Saya pun ke perbatasan itu. Berangkat dari Belfast, ibukota Irlandia Utara.
 
GPS di mobil tidak menyediakan kata “perbatasan”. Sebagai pilihan tujuan.
 
Ada satu kota kecil sebelum perbatasan. Namanya: Newry. Tapi masih agak jauh dari tujuan saya.
 
Mau tidak mau saya masukkan kata “Dublin” di GPS itu. Jalan menuju Dublin itulah yang akan melintasi perbatasan.
 
Tapi, itu berarti saya harus masuk ke negara lain, ke Republik Irlandia. Dublin adalah ibukotanya.
 
Ya, sudah. Lakukan saja. Ikuti GPS. Ke arah selatan.
 
Begitu mobil melewati Kota Newry, saya mulai waspada. Mestinya, 15 menit kemudian, tiba di perbatasan itu. Begitulah menurut peta yang saya ukur sendiri.
 
Tidak ada lagi desa. Apalagi kota. Newry adalah kota terakhir di wilayah Inggris. Tidak pula terlihat lagi rumah. Atau ternak. Yang ada hanya tanah bergunduk-gunduk. Belum memenuhi syarat untuk disebut berbukit-bukit.
 
Kanan-kiri tanah kosong. Hijau. Pepohonan tidak terlalu lebat. Mungkin kini sudah waktunya memasuki perbatasan.
 
Oh, itu dia tandanya. Hanya satu papan di kiri jalan. Saya tidak sempat membaca lengkap. Jalan ini terlalu mulus. Semua mobil berjalan cepat. Kalau saya melambatkan mobil terasa aneh. Apalagi hanya untuk membaca kata di papan kecil itu.
 
Saya juga tidak sempat memotret sambil nyetir.
 
Intinya, ini bukan seperti perbatasan.
 
Tidak ada yang peduli. Kendaraan dari utara ramai ke selatan. Yang dari selatan ramai ke utara.
 
Jalannya empat lajur. Dua menuju Selatan, dua menuju Utara.
 
Terus, bagaimana saya ini. Apa yang harus saya lakukan. Setelah melihat perbatasan. Bahkan melewatinya.
 
Tidak mungkin balik ke Belfast. Tidak ada u-turn. Tidak bisa putar balik. Tidak pula ada persimpangan.
 
Ya sudah. Lanjut. Ke Dublin. Tidak ada pemeriksaan apa-apa. Tidak ada tanda apa-apa. Pun tidak ada petugas. Tidak ada yang peduli. Batas antar negara ini tanpa batas.
 
Satu jam kemudian saya sampai di Dublin.

Makan siang di situ. Harus mencari tempat parkir dulu. Dua jam Rp 350.000. Padahal mobilnya sedan kecil Ford.
 
Habis makan saya balik ke Irlandia Utara.
 
Ini pertama kali saya ke Dublin. Ups, ini sebenarnya yang kedua. Tapi yang pertama dulu hanya mampir. Bersama Ir. Misbahul Huda. Ia manajer percetakan.
 
Saat kami mendarat di Dublin, dari Frankfurt, Jerman, hari sudah senja. Dari bandara kami langsung ke pelosok jauh. Ke kota Kabupaten Limerick.
 
Tiba di Limerick sudah jam 23.00, pukul twenty three hundred. Langsung meninjau percetakan koran di pelosok itu.
 
Waktu itu kami selalu bersemangat. Kalau mendengar ada teknologi baru di bidang surat kabar.
 
Di Limerick-lah kami mendengar ada mesin cetak jenis baru: kecil tapi mampu cetak warna. Bisa 16 halaman sekaligus.
 
Rasanya mesin itu akan cocok untuk koran-koran di daerah.
 
Di kabupaten itu pula kami bermalam. Hanya beberapa jam. Di sebuah hotel yang seperti rumah.
 
Pagi-pagi kami balik ke Dublin. Langsung ke bandara. Balik ke Jakarta via Frankfurt.
 
Saya pernah ke Dublin tapi belum ke Dublin.
 
Baru kali ini saya bisa muter-muter Kota Dublin. Ini bukan Inggris. Kota lain. Negara lain. Mata uangnya juga lain.
 
Secara tidak terencana kok saya tiba di Dublin.
 
Jadi, mau diapakan perbatasan itu? Setelah Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober nanti?
 
Akankah dipasangi kantor imigrasi? Di selatan perbatasan dan di utaranya?
 
Akankah dilakukan pemeriksaan atas semua kendaraan yang lewat?
 
Itulah yang jadi perdebatan.
 
Brexit tinggal 50 hari lagi. Membangun tenda darurat pun tidak akan bisa selesai. Apalagi membangun gedung --dan fasilitas teknologi imigrasinya.
 
Perbatasan itu begitu naturalnya sekarang ini.
 
Politiklah yang membuatnya absurd.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya