Berita

Dahlan Iskan

Golf Robert

RABU, 11 SEPTEMBER 2019 | 05:07 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BARU sekali ini saya ke lapangan golf di luar negeri. Kalau jadi. Demi Robert Lai --sahabat baik saya itu. Yang saya utang segalanya itu.
 
Kebetulan saya lagi di Edinburgh --Ibukota Skotlandia. Yang Brexit kalah telak. Pun di seluruh wilayah ini.
 
Kalau Brexit dipaksakan? Mereka ingin merdeka dari Inggris.
 

 
Bangun pagi-pagi saya melihat ke luar jendela: hujan.
 
Dari jendela di kamar saya itu hanya terlihat lorong. Kanan kirinya bangunan tua. Temboknya tinggi. Warna gelap. Gelap campur hujan. Lorong itu sendiri bertrap-trap. Trapnya tinggi sekali. Saya harus agak mendingan untuk melihat ujung sananya. Rupanya trap itu menuju sebuah jalan raya. Di atas sana.
 
Ujung sini trap itu jauh di bawah jendela kamar saya. Entah akan belok ke mana. Masih ada kamar lagi di bawah kamar saya itu.
 
Kamar ini tiga lantai di bawah tanah. Kalau diukur dari lobi. Tapi begitu tiba di kamar, masih terlihat tinggi. Dibanding lorong itu.
 
Begitulah semua bangunan di Edinburgh. Kalau tidak di lembah, ya di ketinggian. Atau di perengan-nya.
 
Jadinya kota ini indah sekali. Rasanya Edinburgh-lah kota terindah --yang pernah saya kunjungi. Untuk kategori kota tua.
 
Hampir semua bangunannya terlihat tua. Terutama yang di pusat kota. Juga terlihat seperti kastil semua. Apalagi gereja-gerejanya. Indah-indah.
 
Yang bukan gereja pun seperti gereja.
 
Saya pernah foto di depan sebuah gereja. Setelah saya dekati ternyata sekolahan.
 
Saya juga pernah melihat banyak orang masuk gereja. Di Jalan Victoria. Ups, ternyata sebuah restoran.
 
Saya jadi ingat pertanyaan jebakan Azrul Ananda. Yang saya tidak bisa menjawab: mengapa tidak ada Disneyland di Inggris?
 
Saya pun menyerah.
 
"Tidak akan laku. Di Inggris semua bangunan sudah seperti Disneyland," katanya.
 
Apalagi di Edinburgh ini.
 
Saya membayangkan, betapa serunya --kalau semua penulis komentar DI's Way kumpul di sini.
 
Tapi hujan.
 
Saya ke Google: berapa lama hujan pagi ini?
 
"Sampai jam 15.00," tulis Google.
 
Ups.
 
Saya pun berpikir cepat. Saya menyesal mengapa pisah dengan Robert Lai. Ia harus menemani istrinya ke Yunani. Lalu ke Barcelona.
 
Kalau ada Robert, saya bisa langsung memutuskan: kita ke St Andrews saja. Satu jam perjalanan mobil dari Edinburgh.
 
Daripada hanya di kamar begini.
 
Di St Andrews cukuplah tiga jam. Pukul 15.00 bisa tiba kembali di Edinburgh. (Orang di sini menyebut pukul 15.00 dengan kata 'fifteen hundred').
 
Untung sekali kemarin. Saya tiba di Edinburgh cuaca sangat cerah. Langit biru. Daun-daun hijau. Masih pukul fifteen hundred pula.
 
Rugilah kalau hanya di kamar. Saya pun bergegas keluar. Ke 'Disneyland terbesar di dunia'.
 
Manusia begitu banyak. Wajahnya riang gembira. Antusias menatap sana. Antusias menatap sini. Turis semua. Bule semua --sekilas. Ups, banyak juga yang berwajah Tionghoa. Invasi turis Tiongkok memang sudah ke mana-mana. Menyebarkan rezeki ke segala arah -kalau di situ tidak ada Alipay.
 
Saya pun ingat cucu. Tepatnya diingatkan. Ini gara-gara instagram saya yang berisi pohon Harry Potter di Oxford itu.
 
Sebagai penggila Harry Potter, Icha, cucu pertama itu, mengingatkan: di Edinburgh lebih banyak jejak Harry Potter-nya.
 
Tapi saya penggemar novel-novel Dan Brown. Seperti 'Da Vinci Code'. Bukan penggemar Harry Potter.
 
Saya lebih ingat pada Rosslyn Chapel. Yang lokasinya juga di Edinburgh. Setidaknya tidak sejauh St Andrews-nya Robert Lai.
 
Rosslyn Chapel digambarkan begitu misteriusnya. Dikaitkan dengan kelompok rahasia Freemason. Knights Templar. Terutama saat terjadi perburuan Holy Grail --cawan suci yang berisi darah Yesus yang menetes dari tiang salib itu.
 
Beda generasi beda kegemaran baca novelnya. Kadang saya harus memaksakan diri membaca Enid Blyton --untuk bisa nyambung dengan cucu. Kadang nonton D'Academy. Untuk bisa memahami istri.
 
Ups, ternyata terlalu sering nonton yang D'Academy itu. Sampai ikut ngefans ke Fildan. Atau Rara. Atau Saskia Gotik. Terutama bagian itu tuh --bagian Gotiknya.
 
Hayo, ke mana?
 
St Andrews demi Robert Lai?
 
Ke jejak-jejak Harry Potter demi cucu?
 
Atau ke Rosslyn Chapel demi diri sendiri.
 
Akhirnya saya memutuskan: menulis saja naskah ini.
 
Entah demi siapa.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya