Berita

Foto: Dokumen Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Mati Di Parit

SENIN, 09 SEPTEMBER 2019 | 05:05 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SABTU-Minggu kemarin saya di Newcastle. Kota yang paling menyenangkan di Inggris. Apalagi udara siangnya 16 derajat. Sejuk sekali.
 
Yang panas hanya di Intu Eldon Square. Di bundaran sekitar patung itu. Di pusat perbelanjaan dan jalan-jalan itu.
 
Itu pun hanya panas politik.
 

 
Ada demo di situ: anti Brexit.
 
Saya duduk bersila di lantai. Mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan. Toh tidak mungkin belanja.
 
Di Newcastle anti-Brexit memang menang. Di referendum tiga tahun lalu. Menang tipis. 'Remain' menang 1 persen.
 
Tapi di kota-kota kecil sekitarnya Brexitlah yang menang. Misalnya di Sunderland dan Middlesbrough.
 
Tidak ada bus langsung dari Leicester ke Newcastle. Kereta pun harus transit.
 
Saya putuskan naik bus saja. Ya, sudah.
 
Harus ganti bus di kota Leeds. Daripada naik kereta yang harus ganti kereta di Sheffield. Dan lagi karcis kereta empat kali lebih mahal. Meski, memang, dua kali lebih cepat.
 
Kali ini saya tidak kesusu. Naik bus lima jam pun enggak apa-apa. Bisa lewat kota lain seperti Nottingham.
 
Tanah pertanian sepanjang perjalanan lagi kosong. Seperti habis panen gandum. Jeraminya masih belum diangkut.
 
Di tanah pertanian Amerika jerami seperti itu dibentuk dalam gulungan-gulungan. Di Inggris lebih banyak dalam bentuk kubus. Entah mana yang lebih efisien.
 
Di bundaran tadi, di pusat kota Newcastle itu, tidak hanya ada demo anti-Brexit. Ada juga kampanye anti-daging.
 
Sasarannya pemakan daging. Tema demonya menarik: kebakaran besar di hutan Amazon sekarang ini menyebabnya satu --lantaran manusia memakan daging.

Apa hubungannya?
 
Mereka punya bukti: perburuan daging di Amazon tinggi.
 
Dan lagi orang yang makan daging itu badannya panas. Membuat orang penuh nafsu. Rakus. Hutan pun harus dirusak.
 
Untung sudah dua tahun lebih saya tidak lagi makan daging. Jadinya saya setuju dengan demo itu.
 
Dan memang, hanya saya sendiri yang tertarik melihat demo anti-daging ini.
 
Di bundaran itu ada pula kios Islam. Yang menjaga kios itu orang-orang keturunan Pakistan. Mereka tidak aktif. Sifatnya hanya melayani kalau ada orang yang datang ke kios itu.
 
Mereka hanya pasang tulisan: bertanyalah tentang Islam di sini.
 
Di situ ada juga grup band. Pemainnya orang-orang tua. Salah satu pembungkus alat musiknya dibuka. Untuk tempat orang melempar uang receh ke dalamnya.
 
Di tengah keramaian itu ada juga yang bete. Satu orang. Wanita. Pakaiannya seksi. Payudaranya menonjol. Roknya pendek. Duduknya sembrono.
 
Ia terus mengutik HP-nya. Seperti gelisah. Ia seperti begitu sepi di tengah keramaian. Seperti menanti seseorang yang tidak jadi datang. Atau telat.
 
Ya, sudah. Masih untung ada HP.
 
Soal demo politik itu hanya tempatnya saja yang di Newcastle. Sedang topiknya mengenai apa yang lagi terjadi di London. Khususnya kejadian di hari Jumat kemarin. Yang dramatis itu.
 
Begitu banyak pembelotan di kubu perdana menteri Boris Johnson. Termasuk adik kandungnya sendiri --Jo Johnson.
 
Hari Jumat itu parlemen memutuskan: Brexit harus terjadi dengan kesepakatan. Artinya harus ada dokumen kesepakatan yang ditandatangani antara Inggris dan Uni Eropa.
 
Inggris harus berunding mengenai kesepakatan itu. Sampai 19 Oktober bulan depan. Kalau sampai tanggal itu belum ada kesepakatan, Inggris harus minta pengunduran batas waktu lagi. Putusan parlemen itu tinggal menunggu pengesahan Ratu. Jadwal pengesahannya Senin hari ini. Ratu tidak pernah tidak mengesahkan apapun yang diputuskan parlemen.
 
Maka di Jumat keramat kemarin semua rencana Boris Johnson kandas. Pun kartu trufnya tidak laku. Tantangannya untuk pemilu dadakan tidak relevan lagi.
 
Boris Johnson begitu tersudut. Pilihannya tinggal empat: menabrak hukum, menggertak Eropa, mengemis pengunduran deadline atau --ini yang paling mudah-- mengundurkan diri.
 
Tapi Boris tetap Johnson. Ia ngotot. Tanggal 31 Oktober nanti Inggris harus keluar dari Uni Eropa. Dengan atau tanpa deal.
 
"Saya tidak mungkin ngemis-ngemis perpanjangan ke Brussel," katanya. Brussel, Belgia, adalah ibukota Uni Eropa.
 
Kemudian, inilah ucapan Johnson yang sangat terkenal di Inggris sekarang: "Lebih baik saya mati di parit".

Johnson berpendapat amanat rakyat Inggris harus dipenuhi: keluar dari Uni Eropa. Amanat itu sudah berumur tiga tahun. Pelaksanaannya mundur terus. Terbentur belum adanya kesepakatan itu. Terutama soal pengaturan perbatasan di Irlandia.
 
Perdana menteri yang lama, Theresa May, pernah menandatangani kesepakatan. Tapi ditolak oleh parlemen. Dalam kesepakatan itu harus ada pembatas antara Irlandia Utara (Inggris) dan Republik Irlandia (Eropa).
 
Itu dianggap melanggar perjanjian perdamaian di Irlandia.
 
Maka hari Senin ini sangat menentukan perpolitikan Inggris. Dan di Eropa. Tapi, rasanya, wanita muda di bundaran Newcastle itu akan tetap asyik dengan HP-nya. Dan payudaranya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya