Berita

Demonstran melempari Kantor Kepolisian di Hong Kong/Net

Dahlan Iskan

(Tanpa Judul)

RABU, 04 SEPTEMBER 2019 | 05:03 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

GETAH itu sampai ke London.
 
Sebagian orang Hong Kong mendemo perwakilan Inggris. Mereka minta status BNO disempurnakan.
 
Saat ini terdapat 170 ribu orang Hong Kong yang berstatus BNO, warga negara Inggris di luar negeri. British National Overseas.
 

 
Mereka orang Hong Kong. Tionghoa. Mereka diakui sebagai warga negara Inggris. Tapi hak-hak mereka tidak penuh.
 
Misalnya: tidak boleh tinggal di Inggris. Kalau ke Amerika tetap harus memiliki visa.
 
Ke Inggris memang tidak perlu visa. Tapi maksimal hanya boleh tinggal selama enam bulan.
 
Status BNO itu dulunya diberikan sebagai kompromi. Untuk mengatasi besarnya keinginan orang Hong Kong pindah ke Inggris. Yakni saat jajahan Inggris itu diserahkan kembali ke Tiongkok. Di tahun 1997.
 
Tentu Inggris terbebani. Kalau permintaan itu dipenuhi akan menimbulkan masalah di dalam negerinya. Tiba-tiba saja begitu banyak keturunan Tionghoa masuk Inggris.
 
Saat Hong Kong kembali bergejolak seperti sekarang ini mereka gundah.
 
Kini mereka menuntut hak penuh. Agar disamakan dengan warga negara Inggris lainnya.
 
Artinya: mereka ingin pindah ke Inggris.
 
Hong Kong memang kacau tiga bulan terakhir. Demo besar-besaran tidak juga reda, demo anti pemerintah. Yang sebenarnya itu demo anti Tiongkok.
 
Senin kemarin demo itu memasuki babak baru lagi: mahasiswa di tujuh universitas terbesar di Hong Kong mogok kuliah.
 
Senin 2 September itu mestinya hari pertama masuk kuliah. Setelah libur panjang musim panas.
 
Tapi mereka tidak mau kuliah. Mereka turun ke jalan. Puluhan ribu anak muda tumpah ke arena demo.
 
 
Mogok kuliah itu tidak hanya akan sehari itu saja. Seterusnya. Sampai tuntutan pendemo dipenuhi.
 
Ini sudah hari ke-90. Demokrasi di Hong Kong membolehkan demo seperti itu. Tindakan mencegah demo bisa dianggap melanggar perjanjian serah-terima tahun 1997 lalu.
 
Inggris bisa punya alasan mengambil kembali Hong Kong. Dibantu sekutunya.
 
Betapa tersiksanya polisi Hong Kong. Tiap hari dimaki. Di-bully. Diserang. Tanpa bisa melakukan perlawanan. Jumlah pendemo tetap saja besar. Sudah 1.100 orang ditangkap. Yakni mereka yang bisa dikenakan pasal melawan hukum. Misalnya melakukan tindakan pengrusakan fasilitas umum.
 
Tapi setelah penangkapan itu pun demonya tetap besar. Dan mengeras. Salah satu yang ditangkap itu anak berumur 12 tahun. Begitu kecil sudah ikut bergerak.
 
Sejauh ini tuntutan mereka masih sama: lima tuntutan. Yakni: batalkan RUU ekstradisi, ampuni semua pendemo yang ditangkap, bentuk komisi independen untuk kekerasan yang dilakukan polisi, perbaiki tata cara pemilihan umum, dan cabut pernyataan bahwa demo itu sebagai kerusuhan.
 
Belum ada peningkatan tuntutan. Misalnya, agar Carrie Lam mengundurkan diri. Pemimpin tertinggi Hong Kong itu tetap tegar.
 
Pemerintahnya tetap ingin menegakkan hukum. Demo itu, menurut pemerintah, banyak yang melanggar hukum. Misalnya melakukan pengrusakan. Atau memusuhi aparat negara.
 
Yang dirusak adalah gedung DPR, lambang negara Tiongkok, stasiun-stasiun kereta bawah tanah, kamera-kamera jalan, laboratorium cuaca (dikira kamera pemindai), bendera Tiongkok (dibuang ke laut) dan banyak lagi.
 
Yang juga pasti melanggar adalah demo yang menyasar bandara. Sampai seribu penerbangan batal.
 
Demo ke bandara ini begitu dramatisnya. Berhari-hari pula. Bandara yang termasuk tersibuk di dunia ini pun sampai lumpuh.
 
Setelah itu otoritas bandara Hong Kong ke pengadilan. Untuk minta kepada pengadilan agar daerah bandara dinyatakan terlarang untuk didemo.
 
Pengadilan menyetujui permintaan itu. Pengadilan memutuskan bandara termasuk sangat vital. Tidak boleh didemo seperti itu.
 
Otoritas kereta bawah tanah juga ke pengadilan. Minta hal yang sama. Pengadilan juga mengabulkan: stasiun kereta bawah tanah tidak boleh jadi tempat demo.
 
Tapi pendemo juga  mengabaikan dua perintah pengadilan itu.
 
Turisme turun 30 persen.
 
Hotel-hotel mulai mengurangi karyawan.
 
Iran pun minta agar pertandingan sepak bola dipindah dari Hong Kong. Tanggal 10 September nanti Iran harus ke Hong Kong. Untuk menjalani babak prakualifikasi Piala Dunia di situ.
 
Demo jalan terus.
 
Salah satu 'bensinnya' adalah wanita muda. Yang mata kanannya harus dioperasi. Entah terkena apa.
 
Pendemo mengklaim mata itu terkena tembakan polisi. Lalu jadi isu kemanusiaan yang besar.
 
Pendemo pun banyak yang marah. Mereka membawa tulisan 'mata harus dibayar mata'. Banyak juga pendemo yang menutup sebelah matanya. Sebagai bentuk solidaritas, sekaligus ejekan.
 
Sebaliknya polisi.
 
Kata polisi, mata wanita itu terkena ketapel pendemo sendiri. Peluru foam tembakan polisi tidak bisa menimbulkan luka seperti itu. Apalagi si wanita mengenakan kaca mata.
 
Kini polisi minta rumah sakit untuk terbuka: seberapa parah sebenarnya luka di mata itu. Yang ternyata, kata polisi, tidak sampai mengancam kebutaan sama sekali. Wanita itu hanya lima hari di RS. Sudah boleh pulang.
 
Tapi isunya sudah terlanjur besar: terkena tembakan, terancam buta, dan polisi begitu biadabnya.
 
Seberapa besar pun demo itu awalnya (9 Juni), tidak ada yang mengira akan sepanjang ini. Dan separah ini.
 
Padahal tanggal 1 Oktober nanti Tiongkok ulang tahun. Yang ke-70 pula. Angka yang dianggap penting.
 
Persiapan parade besar-besaran pun sudah dilakukan. Untuk menunjukkan keberhasilan modernisasi Tiongkok.
 
Tapi apa yang terjadi di Hong Kong bisa mengganggu suasana selebrasi itu.
 
Entah apa yang direncanakan pendemo untuk 'menyambut' HUT itu.
 
Entah apa pula yang direncanakan Tiongkok untuk mengatasi gangguan itu.
 
Menurut perjanjian, Tiongkok diizinkan turun tangan. Kalau pemerintah Hong Kong memintanya.
 
Inggris sendiri sudah menentukan sikap. Dua hari lalu. Tidak akan bisa memenuhi tuntutan pemegang paspor BNO itu.
 
"Mereka harus menaati doktrin 'satu negara dua sistem' yang menjamin kemerdekaan dan kebebasan mereka," begitu pernyataan pemerintah Inggris yang disiarkan secara luas di media London.
 
Hong Kong pun kian ruwet.
 
Intinya, pendemo itu sebenarnya ingin Hong Kong merdeka dari Tiongkok. Tapi tidak berani terang-terangan. Juga ingin melawan Tiongkok. Tapi tidak berani sendirian.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya