Berita

Dahlan Iskan

Demo Laser

SELASA, 13 AGUSTUS 2019 | 05:20 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

"APA yang akan terjadi berikutnya? Tidak tahu. Kita hanya bisa menunggu".
 
Itulah pendapat umum di Hongkong sekarang.
 
Setelah demo tidak juga berhenti. Pun setelah lebih dua bulan.
 

 
Bahkan demo itu kian meningkat --jumlahnya, luasannya, dan kekerasannya.
 
Inilah daftar peningkatan itu:
 
- Awalnya demo damai. Menolak draft UU ekstradisi.
 
- Minggu kedua mulai bikin barikade dari pagar besi. Yang dicopot dari pinggir jalan raya.
 
- Pekan berikutnya lagi menjadi berani menduduki parlemen. Merusak kaca dan perabotan. Perbaikannya perlu enam bulan. Dengan dana Rp 70 miliar.
 
- Mulai berani mencoreng lambang negara di kantor perwakilan Tiongkok.
 
- Lain minggu lagi lebih berani lagi: menduduki kantor polisi.
 
- Peralatan yang digunakan pun kian bervariasi. Ada saja kreativitas baru. Dari hari ke hari. Awalnya menggunakan ujung payung. Lalu bata, batu. Berikutnya ketapel. Lalu botol berisi minyak. Dan terakhir ini laser pointer. Untuk mata polisi.
 
- Masih lebih meningkat lagi: berani membuang bendera Tiongkok ke laut dekat Victoria.
 
Dari pihak pemerintah juga tidak mau mundur:
 
- Tidak mau mencabut draft. Hanya mau membekukan dan menyatakan draft itu telah mati.
 
- Menyatakan demo itu perusuh.
 
- Menyatakan yang demo itu pengangguran.
 
- Menyatakan demo sudah mengancam kedaulatan negara.
 
- Demo itu dicampuri asing --Amerika dan Taiwan-- dan kelompok yang ingin Hongkong merdeka.
 
- Tidak mau memenuhi tuntutan pendemo berikutnya: bebaskan semua pendemo yang ditahan, bentuk tim independen untuk kekerasan selama demo, ubah sistem pemilu.
 
Sikap pemerintah itulah yang dinilai kian mengeraskan sikap pendemo. Itu penilaian kalangan akademisi.
 
Sikap pemerintah itu juga membuat kian luasnya dukungan masyarakat ke mereka.
 
Belakangan ini demonya di mana-mana. Di banyak area. Mulai pula diikuti segala usia. Segala lapisan. Juga kian brutal. Polisi juga kian banyak menggunakan gas air mata. Seminggu terakhir saja lebih 1000 kali tembakan gas air mata. Dan cairan merica.
 
Penangkapan juga kian banyak. Termasuk tokoh utama mahasiswa universitas Baptis. Yang baru keluar dari toko. Untuk membeli 10 laser pointer.
 
Sudah tiga orang polisi masuk rumah sakit mata. Terkena laser seperti itu.
 
Seperti itu pula yang membuat laser pointer dilarang. Di stadion sepakbola di negara mana pun. Bisa mengganggu mata kiper lawan. Atau wasit.
 
Harian Inggris terbesar di Hongkong, South China Morning Post, melakukan jajak pendapat.
 
Mayoritas masyarakat ternyata setuju dengan pendemo. Khususnya dalam dua hal: batalkan draft UU ekstradisi itu dan bentuk tim independen kekerasan.
 
Kalau dua hal itu dilakukan lebih separo tidak mau lagi ikut demo.
 
Publik bukan tidak setuju ada UU itu. Tapi mereka yakin: seseorang yang diekstradisi ke Tiongkok tidak akan bisa mendapatkan perlakuan hukum yang adil.
 
Kata mereka, di Tiongkok hukum masih tergantung keinginan penguasa.
 
Sampai tulisan ini saya buat dua kubu masih saling berkeras.
 
Demonya meluas pula ke bandara. Selama tiga hari terakhir.
 
Gas air matanya juga kian banyak. Pun di kompleks hunian. Polisi berani menggunakan gas air mata. Tentu ikut mengenai penduduk biasa.
 
Pendemo memang kian pintar. Lari ke kompleks perumahan. Untuk menghindari kejaran polisi. Juga lari ke stasiun bawah tanah.
 
Mereka berpikiran: polisi tidak mungkin berani menggunakan gas air mata di dua jenis lokasi itu.
 
Ternyata polisi tetap menggunakannya.
 
Penduduk ikut memusuhi polisi. Juga pengguna kereta. Mereka ikut terkena gas air mata.
 
Memang seminggu terakhir jumlah pendemo sudah menyusut. Tapi kian berani.
 
Ups... Senin kemarin membesar lagi. Lokasinya pun masuk ke obyek vital: Bandara Internasional Hongkong.
 
Demo di bandara itu sebenarnya hanya tiga hari. Berakhir Minggu malam. Tapi ada kejadian baru. Di demo Minggu sore: seorang pendemo luka di mata kanannya. Wanita. Serius. Terkena tembakan peluru palsu. Tadi malam dioperasi.
 
Langsung muncul solidaritas dadakan: Senin kemarin bandara diblokade. Semua penerbangan sampai batal. Kian sore kian seru. Kian membludak. Mungkin akan bisa mencapai 1 juta pendemo.
 
Pun sudah ada yang mengumandangkan 'satu mata balas satu mata'.
 
Demo ini sampai kapan? Bagaimana akhir kemelut ini?
 
Orang hanya bisa bilang "kita hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi berikutnya".

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya