Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Kamera Intai

JUMAT, 21 JUNI 2019 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA tidak tahu: ada berapa kamera yang terpasang di seluruh Jakarta. Khususnya di sekitar Sarinah. Juga di Tanah Abang. Yang, seandainya banyak, bisa dipakai untuk menganalisis kerusuhan tanggal 22 Mei lalu.

Tentu kalau kameranya berfungsi normal.

Juga kalau kameranya tidak dimainkan oleh yang punya keahlian memainkan.


Pun tahun 1998. Saat terjadi huru-hara di Jakarta. Seandainya saja sudah dipasang banyak kamera di banyak tempat. Kerusuhan berbau rasialis itu bisa dianalisis dengan lebih objektif. Siapa pelakunya. Dari mana datangnya. Ada penyusup atau tidak.

Saya tidak punya angka: berapa jumlah kamera terpasang di Jakarta.

Yang saya tahu justru angka yang terpasang di Beijing. Di satu kota itu saja telah dipasang lebih lima juta kamera. Hampir tidak ada satu pun sudut kota yang terlewatkan.

Di Shenzhen bahkan sudah dipakai untuk mengawasi penyeberang jalan. Kalau Anda salah menyeberang akan langsung ketahuan. Pun foto Anda akan langsung muncul di layar HP Anda - - kalau HP Anda punya layar.

Selama sembilan bulan tahun lalu saja, misalnya, terdapat 13.000 orang yang ketahuan salah: menyeberang jalan tidak pada tempatnya. Atau pada saat lampu masih menyala merah.

China Daily mengungkap angka yang fantastis. Angka tahun lalu. Di seluruh Tiongkok sudah terpasang 176 juta kamera. "Akan menjadi 2,5 miliar tahun depan," tulis China Daily.

Maka industri kamera pun majunya luar biasa. Pengembangan teknologinya juga sangat pesat. Kamera sekarang sudah dilengkapi artificial intelligent. Kamera menjadi sangat cerdas. Tidak lagi hanya berfungsi sebagai 'mata'. Melainkan sudah dilengkapi 'telinga' dan sekalian 'otak' sekaligus.

Sudah pula dilengkapi alat pengenal wajah. Kamera itu akan sangat cepat mengenali siapa Anda. Di mana Anda tinggal. Berapa nomor Hp Anda. Pun seandainya Anda tertangkap kamera di tengah kerumunan besar.

Prosesing datanya sudah dilakukan melalui cloud.

Dan harganya kian murah. Bisa menggantikan banyak petugas. Yang bisa saja malas. Atau teledor. Atau ngambek. Pun kamera tidak pernah minta THR tiap lebaran. Jauh lebih murah daripada membayar petugas jaga. Atau memelihara mata-mata.

Praktis semua pohon kini sudah punya mata. Semua dinding punya telinga.

Di sana budi pekerti juga ditegakkan melalui alat. Bukan lagi hanya lewat pelajaran akhlak.

Kelak tidak perlu lagi takut sandal hilang di masjid. Kalau di situ juga sudah terpasang kamera cerdas.

Dan itu bahaya!

Bahaya besar!

Setidaknya di mata Amerika. Memang. Sebenarnya bukan hanya di pengembangan 5G yang Amerika tertinggal dari Tiongkok. Pun sampai soal pengembangan teknologi kamera.

Dan itu bahaya.

Untuk dunia intelijen. Untuk keamanan nasional.

Karena itu keluarlah komando Presiden Donald Trump: larang!

Amerika dilarang membeli kamera Tiongkok. Perusahaan Amerika dilarang bekerjasama dengan perusahaan kamera tersebut. Persis larangan yang dikenakan kepada Huawei.

Kamera itu dianggap disusupi alat. Yang bisa dipakai Tiongkok untuk memata-matai Amerika. Atau mengintai siapa saja yang membelinya.

Saya masih ingat. Dulu raja kamera itu Honeywell. Dari Amerika. Saya pernah membelinya. Dipasang di mesin pembuat kertas. Untuk mengintai apakah kertasnya halus/rata atau tidak.

Sudah lama saya tidak mendengar kata Honeywell lagi.

Kamera kini benar-benar identik dengan Made In China.

Dan pusat industri kamera itu sama dengan pusat industri celana dalam. Industri BH. Industri dasi. Dan industri mobil listrik: di Provinsi Zhejiang. Yang ibukotanya Hangzhou. Pusatnya Alibaba juga di situ. Satu jam dengan kereta peluru dari Shanghai.

Kota ini sekarang juga jadi pusat industri CSP (consentrated solar power). Listrik tenaga matahari tapi pakai cermin. Tidak lagi pakai panel surya. Saya termasuk sering ke situ. Rapat-rapat dengan mereka.

Mobil listrik BYD - - yang sudah mulai dipakai taksi Blue Bird di Jakarta-- ada di sini. Pabrik mobil listrik Geely - - menjadi taksi di semua kota besar di Tiongkok-- juga di situ.

Ada tiga industri kamera di sekitar Hangzhou. Besar semua. Sampai-sampai 30 persen kamera dunia dari situ.

Tiga besar itu adalah: Hikvision, Dahua dan Uniview. Dua yang pertama saja sudah menguasai 50 persen pasar kamera dalam negeri mereka. "Boom industri kamera ini terjadi sejak ada peristiwa 9/11 di New York," tulis China Daily.

Pengawasan terhadap orang diperketat di mana-mana. Berarti perlu kamera. Dagangan kamera ramai sekali.

Sedih di sana. Berlama-lama.

Panen di sini. Segera.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya