Berita

Foto: Istimewa

Dahlan Iskan

Utang Lebaran

RABU, 05 JUNI 2019 | 07:42 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TAHUN lalu saya lebaran di rumah sakit. Lima hari sebelum lebaran istri saya tidak sadarkan diri. Anak wedok saya nangis-nangis di telepon. Minta saya pulang.
Bukan main sulitnya cari tiket mendadak. Di hari mudik seperti itu. Sampai-sampai dari Amerika saya harus lewat Hongkong-Vietnam-Kunming-KL baru ke Surabaya.

Ada batu yang 'berulah' di ginjal istri saya. Batu lama. Kali ini menyiksa sekali. Sakit sekali. Tidak tertahankan. Pingsan beberapa hari.

Tahun lalu kami salat lebaran di halaman rumah sakit. Lalu berkumpul di kamar perawatan. Sungkeman di situ. Istri masih diinfus.

Tahun lalu kami salat lebaran di halaman rumah sakit. Lalu berkumpul di kamar perawatan. Sungkeman di situ. Istri masih diinfus.

Sungkemannya termasuk gantian: suami sungkem kepada istri. Saya, anak laki-laki saya, menantu laki-laki saya mencium kaki istri masing-masing. Saling memaafkan.
Foto tahun lalu (dari kiri) saya, anak laki-laki dan menantu laki-laki sungkeman pada istri masing-masing.  

Tidak ada Soto Banjar hari itu. Sambil berbaring istri saya minta maaf: tahun itu tidak bisa bikin Soto Banjar.

Tahun ini kami aman sentosa. Semua sehat. Alhamdulillah. Saat tulisan ini Anda baca istri saya sangat sibuk di dapur. Menyiapkan bahan-bahan untuk membuat Soto Banjar. Saya belum pernah makan Soto Banjar yang enaknya melebihi bikinan istri saya. Pun Soto Banjar yang di Banjarmasin.

Saya hanya bisa bantu mengisi ketupat. Cengkorongan ketupatnya sendiri beli di pasar. Saya tinggal memasukkan beras ke dalamnya.

Saya bisa melakukan itu. Sudah biasa. Sejak kecil dulu. Bahkan saya bisa membuat cengkorongan ketupatnya. Profesional.

Di hari kelima lebaran biasanya saya membuat itu. Waktu kecil dulu. Di desa. Saya sendiri yang mengambil janur (daun muda kelapa). Dengan cara memanjat. Saya bisa membuat cengkorongan ketupat sampai 500 biji. Tiap 10 biji diikat jadi satu. Lalu disiram air. Agar tidak layu. Keesokan harinya, subuh, ibu saya menggendongnya ke pasar. Dijual.

Biasanya saya membuat dua model cengkorongan ketupat. Kini saya sudah lupa nama kedua model itu.

Melihat begitu sibuknya istri saya, anak saya usul: habis salat makan bersama di restoran saja.

"Jangan," kata saya. "Bikin soto itu salah satu kebahagiaan tertinggi beliau," tambah saya.

Tentu saya tetap punya 'pasien' di hari lebaran. Bahkan sepanjang tahun.

Lebaran tahun ini "pasien" saya hanya dua: Ria yang jantungnya bocor itu baru selesai operasi. Masih banyak yang harus dilakukan. Seorang lagi asal Banyumas. Dari Purwokerto. Dua hari sebelum lebaran ia menjalani transplantasi hati. Di Tianjin. Sukses. Operasinya 6 jam.

Saat saya menulis naskah ini ia baru saja sadar. Masih di ICU. Tapi sudah bisa tersenyum. Umurnya baru 35 tahun. Kena kanker hati stadium 4.

Untung tidak ada masalah biaya. Bisa segera ditangani. Saya terharu mendengar tekadnya: kalau sembuh nanti, ia bilang, ingin segera cari istri.

Tentu saya harus minta maaf kepada pembaca DI's Way. Di hari yang fitri ini. Minal aidin wal faizin. Terutama pada pembaca yang rajin memberikan komentar.  Misalnya orang seperti mas Khusnun, Malang. Yang tidak bosan-bosannya memarahi saya. Yang selalu salah menulis 'utang' menjadi 'hutang'.

Waktu saya menulis 'Pakistan terlalu banyak hutangnya' ia langsung berkomentar: Pakistan tidak punya hutang. Yang banyak adalah utang.

Kebiasaan salah menulis utang menjadi hutang termasuk yang sulit diperbaiki. Mungkin karena dulu saya terlalu banyak punya hutang, eh, utang.

Rasanya lebih sulit dari mengubah kebiasaan menulis 'dirubah' menjadi 'diubah'. Untuk yang ini saya akan selalu ingat. Bahwa asal katanya adalah 'ubah'. Bukan 'rubah'. Rubah itu nama binatang. Sehingga ketika mendapat awalan 'di' jadinya 'diubah'. Bukan 'dirubah'. Dan 'mengubah' bukan 'merubah'. 'Merubah' bisa diartikan menjadi rubah.

Saya membaca seluruh komentar pembaca. Kadang tangan ini gatal. Ingin segera membalas komentar itu. Di situ juga. Saat itu juga. Tapi cara yang tersedia terlalu ruwet. Bagi saya. Harus mengisi beberapa keterangan di kolom yang tersedia.

Saya sampai minta programer DBL (yang mengelola DI's Way) untuk membikinkan program khusus untuk saya: klik nama pembaca yang berkomentar, langsung muncul tempat saya menulis jawaban.
Tapi untung juga tidak mudah berkomentar. Agar tidak emosian. Sesekali saya terlalu emosi. Sebentar. Sekilas. Misalnya saat membaca komentar yang nyelekit.

Akhirnya emosi itu turun sendiri. Rasionalistas yang menggantikannya. Astagfirullah.

Padahal, kalau saja mudah berkomentar, sebenarnya saya hanya ingin menjelaskan begini: kalau Anda mengalami apa yang saya alami, Anda akan memahami.

Tapi syukurlah kata-kata itu tidak jadi saya tulis. Dengan demikian Anda pun tidak harus  tahu perasaan saya itu. Biarlah perasaan seperti itu saya simpan sendiri di dalam hati.

Perasaan seperti itu memang sangat pahit. Tapi pagi ini kan sudah hilang. Oleh enaknya Soto Banjar bikinan istri.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya