Berita

Dahlan Iskan

Kreasi Hamzah

JUMAT, 31 MEI 2019 | 08:56 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

PASTI bisa. Itulah jawaban Hamzah. Anak muda dari Lawang, Malang. Lulusan teknik mesin Universitas Brawijaya.

“Pasti bisa,” katanya menjawab pertanyaan saya: apakah ia bisa bikin pabrik tepung porang.

“Dibanding pabrik carrageenan, itu jauh lebih mudah,” ujar Hamzah. Yang dulu sering saya ajak diskusi. Agar kita bisa mengolah rumput laut. Menjadi tepung carrageenan. Yang kita impor besar-besaran.


Proses membuat tepung porang, katanya, tidak perlu fisika maupun kimia. Cukup mekanika. Untuk memisahkan unsur oksalat dengan glukomanan. "Oksalat itu lebih ringan. Glukomanan lebih berat," katanya. Hamzah bisa membuat mesinnya.

Penanaman porang kini sudah meluas. Sampai Ponorogo (lihat DI's Way: Porang Komersial). Bahkan sudah pula sampai Jember. Dan Wakil Bupati Sumbawa Besar sudah pula siap-siap. Membawa bibit porang ke NTB.

Kelak saya akan menemui seorang guru besar di Universitas Brawijaya. Yang paling ahli porang. "Prof Porang," julukannya.

Pabrik tepung porang pertama  adalah milik Jepang. Yang di Pasuruan itu. Belakangan sudah muncul pabrik baru. Milik pengusaha dalam negeri. Tapi mesinnya impor.

Harga porang di tingkat petani sekarang ini sekitar Rp 7.500/kg. Dalam bentuk umbi bersih. Tiba di pabrik umbi itu dicuci dengan mesin. Sisa-sisa tanahnya harus tidak ada lagi. Lalu dihancurkan. Diperah. Perahan porang itu dicampur air yang banyak. Dialirkan melingkar-lingkar. Agar unsur oksalat yang ringan terpisah dari glukomanan yang berat. Glukomanan yang mengental itulah yang jadi tepung. Disebut tepung konyaku.

Cairan oksalatnya dibuang. Unsur oksalat itulah yang membuat umbi porang gatal. Tidak bisa dimakan. Bahaya. Oksalat bisa merusak ginjal.

Mesin pemisah oksalat itu harganya bisa Rp 1,5 miliar. Impor. Tapi Hamzah bisa menciptakannya dengan harga Rp 400 juta.

Tepung konyaku itulah yang jadi bahan baku makanan. Di Jepang menjadi mie. Atau beras. Mie/beras dari porang itu disebut shirataki. Dijual di toko-toko bahan makanan Jepang. Di Jakarta harga beras shirataki itu Rp 260.000/kg.

Anak saya ternyata sudah lama selalu makan nasi shirataki. Isna Iskan itu. Sejak lama. Sejak ingin badannya bagus. Tapi baru sekarang dia tahu kalau shirataki terbuat dari porang. Yang aslinya mungkin Nganjuk. Atau Bojonegoro. Atau Blora. Atau Ponorogo.

Jika biasanya sate ayam cocoknya dimakan dengan lontong. Sekarang dimakan dengan beras Shirataki juga enak. Dan sehat.

Hamzah sendiri tidak tertarik bisnis konyake. Ia hanya membantu siapa saja yang tertarik bikin tepung porang. Seperti yang sudah dilakukannya dengan Universitas Brawijaya Malang.

Hamzah sendiri terus menekuni pabrik carrageenan. Pabrik ciptaannya di Pasuruan. Yang bahan bakunya rumput laut.

Kini pabriknya yang di Pasuruan itu sudah dua kali lebih besar. Dibanding saat saya masih jadi sesuatu dulu. Itulah pabrik carrageenan yang mesin awalnya diciptakan oleh Hamzah sendiri.

Kini sudah ada empat pabrik carrageenan di Indonesia. Yang pertama milik perusahaan Jepang. Juga di Pasuruan. Yang bikin Hamzah terobsesi untuk 'harus bisa' bikin pabrik yang sama. Dan ternyata ia bisa.

Kebutuhan carrageenan di Indonesia masih sangat besar. Kita masih impor tepung carrageenan dari Tiongkok. "Padahal rumput lautnya 90 persen dari Indonesia," ujar Hamzah.

Hamzah juga senang kalau pabrik carrageenannya jadi tempat tugas akhir mahasiswa. "Sudah ratusan yang tugas akhir di sini. Dari Universitas Brawijaya, ITS dan Unair," katanya.

Setiap ada mahasiswa yang tugas akhir Hamzah selalu membuat persyaratan: judul tugas akhir harus dari Hamzah. "Semua kesulitan saya di pabrik ini saya jadikan judul tugas akhir," katanya. "Supaya mahasiswa dapat ilmu yang baru. Dan pabrik saya dapat manfaat," katanya.

Salah satu hasilnya sangat membanggakan. "Kami sudah bisa membuat kapsul obat dengan bahan baku carrageenan," ujar Hamzah.

Kapsul itu diproduksi oleh Unair. Di kampus C. Kapasitasnya 1 juta kapsul/hari.

Kapsul carrageenan ini bisa jadi pilihan yang penting. Agar tidak lagi menggunakan kapsul yang terbuat dari geletine. Yakni tulang binatang. Di Barat dari tulang sapi. Di Tiongkok dari tulang babi. Atau campuran tulang apa saja.

"Permintaan dari India sangat besar. Karena India pengin menghindari kapsul yang terbuat dari geletine sapi," kata Hamzah. "India kan tidak mau makan sapi," katanya.

Tentu juga penting untuk timur tengah. Yang menginginkan kapsul yang dijamin kehalalannya.

Hamzah masih tidak mau berhenti. Ia pencipta. Peneliti. Pembina. Termasuk membina mahasiswa dan petani. Petani rumput laut. Di Maluku. Dari sana ia mendapatkan bahan baku untuk pabrik carrageenannya.

Porang bisa jadi shirataki. Rumput laut jadi carrageenan. Apa saja bisa jadi apa saja.

Tinggal apa maunya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya