Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Dekade Hilang

SELASA, 16 APRIL 2019 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INILAH istilah yang sudah hilang. Melineal sudah tidak menggunakannya lagi: "Nanti saya bel ya..."

Sudah diganti dengan istilah "Nanti saya call back."

Begitu melekatnya kata 'bel' selama itu. Yang berasal dari, Anda sudah tahu, nama Alexander Graham Bell. Yang menemukan teknologi telepon pada tahun 1876. Yang ternyata belum lama. Baru 140 tahun lalu.


Bell  jugalah yang membangun perusahaan telepon Amerika pertama: AT&T. Yang kartu tilpon GSM-nya masih saya pakai sampai sekarang.

Bell adalah kebanggaan Amerika. Sejarah Amerika. Pionir dunia. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Seumur hidup, pikir banyak orang Amerika.

Ternyata tidak.

Tepat satu abad kemudian putaran dunia berubah arah: muncul Huawei. Dari negeri yang banyak dihinakan di Barat.

Lihatlah sejarah. Banyak taman di kota besar Tiongkok yang eksklusif hanya untuk orang barat. Pun sampai perlu dipasang pengumuman di taman itu: Dilarang masuk: anjing dan orang China.

Kini Amerika begitu geramnya pada Huawei.

Tapi mengapa Amerika akhirnya kalah di telekomunikasi? Terutama di 5G? Apa yang salah?

Jawabnya ada di buku ini: "The Fall of Telecom." Yang ditulis Thomas J Lauria. Lulusan terbaik di The Stevens Institute of Technology. Saat ia meraih gelar master bidang teknologi.

Universitas itu termasuk tertua di Amerika. Bahkan yang pertama ambil bidang teknologi. Lokasinya di New Jersey. Tetangga New York.

Lauria adalah 'orang dalam' telekomunikasi. Ia lama bekerja di AT&T. Sampai mencapai jabatan level pimpinan. Lalu pindah ke ING Bank.

Namanya tidak asing. Begitu sering muncul di "CNN", "CNBC", "New York Times", "USA Today" dan seterusnya.
Tapi reputasi terbesarnya adalah di pasar modal. Buku pertama yang ia tulis tentang saham. Laris sekali. Mendapat bintang lima.

"The Fall of Telecom" juga mendapat bintang lima. Wajib baca. Apalagi isinya memang mencerahkan. Bahkan bisa menjawab mengapa Amerika kalah.

Intinya: Amerika salah langkah. Pada tahun 1996. Saat itu pemerintah Amerika melakukan deregulasi telekomunikasi. Sesuai dengan ideologi pasar bebas Amerika.

Isinya: perusahaan telekomunikasi  boleh bersaing bebas. Termasuk dalam menggunakan teknologi. Bebas memilih sistem apa saja. Tidak perlu ada standar nasional.

Standar, dalam ideologi pasar, adalah lawan utamanya.
Maka perusahaan telepon Amerika terbelah. Ada yang menggunakan CDMA. Seperti Verizon dan Sprint. Ada yang menggunakan GSM seperti AT&T dan T-Mobile.

Frekuensi dua aliran itu berbeda. Tidak bisa saling bertemu. Tidak bisa saling memanfaatkan.

Saya pernah mendengarkan serunya perdebatan dua aliran itu. Saat saya masih wartawan daerah. Di Surabaya. Yakni ketika PT Telkom Surabaya memilih CDMA. Saya pun menggunakan CDMA di HP saya.

Eropa waktu itu sudah memilih GSM. Itulah standar baru Eropa. Waktu itu. Tidak boleh ada negara anggota EU yang menggunakan CDMA.

Saya ingat asal teknologi CDMA yang dipakai di Surabaya: dari Korea Selatan. Semua BTS dari Korea Selatan.

Tapi lama-lama CDMA ditinggalkan di Surabaya. Tidak praktis. Kalau mau pindah provider harus buka HP. Ganti kartu. Lalu ganti lagi ke CDMA.

Waktu itu alasannya satu: biaya pulsanya murah. Pasti disenangi konsumen. Tidak perlu pakai satelit.

Begitu pula di Amerika. Perang tarif sangat bebas.

Itu terjadi selama 10 tahun penuh. Satu dekade. Antara 1990 sampai 2000.

Karena itu ada yang bilang Amerika pun mengalami 'dekade yang hilang'. Di bidang telekomunikasi.

Selama 10 tahun itu terjadilah 'saling bunuh' antara perusahaan telekomunikasi di sana. Biayanya sangat mahal. Investasinya mahal. Perhatian terbelah.

Pun kita. Punya 'dekade  yang hilang'. Antara 1997 ke 2007. Di bidang ekonomi. Dan bidang apa saja.

Saat 'dekade yang hilang' itulah Huawei berdiri. Langsung menggunakan GSM. Fokus. Untuk Asia tidak punya pesaing. Yang dari Amerika. Mereka sibuk sendiri.

Tentu, kini, Amerika tidak rela. Bukan hanya bisnisnya yang kalah. Tapi juga sejarahnya. Sejarah telekomunikasinya.

Berbagai upaya pun dilakukan. Yang oleh Guo Ping disebut sampai 'melanggar semua table manner'.

Itu pun tidak berhasil. Termasuk upaya Amerika untuk mengajak Eropa: jangan pakai Huawei.

Bulan lalu Komisi Eropa sudah tegas memutuskan. Tetap akan menerima Huawei.
"Amerika kalah secara menyakitkan," ujar Guo Ping.

Anda sudah tahu siapa Guo Ping. Chairman bergilir Huawei saat ini.

Itulah style Huawei. Chairman pun dibuat bergilir.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya