Berita

Dahlan Iskan

Mikir Itu Lagi

SENIN, 08 APRIL 2019 | 05:06 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BEGITU sulit saya menemukan celah: bisakah Pakistan menjadi model masa depan negara Islam. Pun diskusi saya dengan mahasiswa Indonesia. Yang ada di Pakistan. Kesimpulannya sama: sulit berharap itu.

Memang ada beberapa alumni Pakistan yang hebat. Salah satunya Ustaz Shamsi Ali itu. Imam besar masjid di New York itu. Tepatnya masjid Queen, tidak jauh dari bandara John F Kennedy itu.

Ustaz Shamsi Ali kini lagi membangun pesantren besar di Amerika. Yang lokasinya pernah saya kunjungi itu.


Setelah ke Pakistan tentu saya ingat Ustaz Shamsi Ali. Ia kian  menarik bagi saya. Bagaimana bisa. Lulusan negeri yang begitu sektarian justru punya jiwa begitu moderat. Sampai bisa diterima berbagai golongan. Di Amerika pula. Termasuk golongan Yahudi di sana.

"Pandangan keislaman saya berubah setelah di Amerika," ujar Ustaz Shamsi Ali. "Setelah banyak bergaul dengan masyarakat non-Islam," tambahnya.

Dari pedalaman Tiongkok ini pun saya menghubungi Ustaz Shamsi Ali. Di daerah suku minoritas Tiongkok ini pun saya masih kepikiran Pakistan. Kepikiran terus. Gilisah. Saya pun harus bertukar pandangan dengan alumni Pakistan itu. Yang begitu terpandang itu.

Selama ini ternyata saya berlebihan. Saya terlalu berharap pada Pakistan. Akibatnya saya sampai 'menderita batin' begini. Setelah melihat kenyataannya seperti itu.

Padahal saya ke Pakistan tidak punya tujuan lain. Tidak ada bisnis. Tidak ingin rekreasi. Juga bukan karena lagi sumpek di dalam negeri. Saya khusus ke Pakistan sengaja ingin membanding-bandingkan negara Islam. Mana yang kira-kira bisa jadi model masa depan.

Pun dulu ketika ke Turki. Dengan pikiran seperti itu. Juga ketika ke Maroko. Atau ke Mesir. Dan ke Aljazair.

Ustaz Shamsi Ali ternyata punya pandangan yang sama tentang Pakistan. "Saya kira Pakistan sulit maju karena pemahaman agama yang sangat ekstrim," ujar  alumni International Islamic University di Islamabad itu.

"Pandangan ekstrim itu didukung pula oleh karakter masyarakat yang agak keras," tambahnya.

Semua itu, ujar Ustaz, menjadikan mereka cepat emosi. Lalu melakukan hal-hal yang desktruktif. "Tentu tidak lepas juga dari kenyataan bahwa Pakistan dari dulu menjadi persinggahan peperangan Afghanistan," katanya.

Pandangan seperti itu pula yang disampaikan para mahasiswa Indonesia yang bertemu saya di Lahore malam itu. "Sektariannya sangat kenceng," ujar Fahmi Wira Angkasa. Ketua PPMI Pakistan. Yang mahasiswa hukum Islam di universitas yang sama dengan kampusnya Ustaz Shamsi Ali itu.

"Kalau saya dari dulu tidak pernah melihat jika Islam akan maju dengan keadaan Pakistan. Malah ada refleksi negatif...seolah Islam itu keras, emosi, terbelakang, dan lain-lain," ujar Ustaz.

"Kok dulu, waktu kuliah di sana, tidak ketularan keras?" tanya saya.

"Sempat ketularan Pak," jawabnya. "Saya dulu, pertama sampai di Amerika, banyak menyalah-nyalahkan....," katanya.

Lalu Ustaz Shamsi Ali berubah pandangan. Awalnya ketika bertetangga dengan seorang Katolik keturunan Irlandia. Si Katolik selalu menyapanya  dengan ramah. "Lambat laun saya mengubah pilkiran bahwa non-Muslim itu bukan musuh. Tapi partner dalam kebaikan," katanya.

Tentu saya ke Pakistan juga sambil melihat-lihat: apakah ada peluang bisnis di sana. Sekedar melihat. Siapa tahu ada 'lubang' dagang.

Saya juga bertemu beberapa orang Tiongkok di Lahore. Atau di Karachi. Yang juga hanya melihat-lihat peluang.

"Kenapa melihat peluangnya di sini. Kok tidak di Indonesia?" tanya saya.

"Di sini aman," jawab pengusaha itu.

Ia orang asli Shantou, kota pantai di propinsi Guangdong. Di Tiongkok ia punya bisnis pengolahan plastik. Ia merasa Pakistan aman.

Aneh. Bin ajaib.

Tapi saya paham. Hubungan baik antara Tiongkok dan Pakistan dirasakan sampai masyarakat luas. Kedua negara itu diibaratkan "teman di segala musim".

Bahkan mahasiswa asing terbanyak di Pakistan pun berasal dari Tiongkok. Jumlah mahasiswa dari Indonesia hanya 285. Yang dari Tiongkok lebih 1.500 orang. Umumnya kuliah di ushuludin atau syariah.

"Saya sering jumpa mereka. Cita-cita mereka umumnya ingin jadi imam masjid di Tiongkok," ujar Ali Muhtadin. Ia mahasiswa ushuludin. Asal Bojonegoro. Yang alumni Persis Bangil.

Makanya, tahun-tahun belakangan ini saya lihat perubahan itu. Setiap ke masjid di Tiongkok imamnya sangat muda.

Di Pakistan, orang seperti saya pun dikira dari Tiongkok. Di mana saja saya disapa: 'ni hao'.  Termasuk oleh anak-anak kecil yang lagi sok berani berbahasa Mandarin.

Saya pun tidak peduli. Saya jawab saja: wo hen hao.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya