Berita

Foto:Net

Dahlan Iskan

Tit-for-Tat

KAMIS, 07 MARET 2019 | 05:41 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

DUA orang ini. Carlos Ghosn dan Sabrina Meng. Nissan dan Huawei. Terus jadi pusat perhatian dunia.

Ghosn akhirnya dikeluarkan dari tahanan. Hari ini atau besok. Dan Huawei menggugat pemerintah Kanada. Beserta instansi yang menahan Sabrina. Bos besar raja telkom dunia itu.

Tidak sia-sia Ghosn mengganti pengacaranya. Dua kali mengacara lama minta Ghosn ditahan luar. Sia-sia. Padahal sudah disertai tawaran: jaminan berapa pun besarnya. Pun mau dipasangi gelang digital di kakinya.


Pengacara baru, Junichiro Hironaka, sekali saja ajukan permintaan serupa. Langsung dikabulkan. Dengan jaminan 1 miliar Yen. Sekitar 120 miliar rupiah.

Ghosn terus menyangkal tuduhan korupsi. CEO Nissan ini adalah penyelamat perusahaan. Dari kebangkrutannya. Menjadi perusahaan mobil yang kembali berjaya.

Ghosn menilai perkaranya ini kriminalisasi. Karena Nissan tidak ingin perusahaannya dimerger total. Yang dibidani Ghosn itu. Tiga jadi satu: Renault, Nissan dan Mitsubishi.

Sangat jarang pengadilan Jepang mengabulkan permintaan seperti itu. Jaminan uang biasanya diabaikan. Tapi pengacara baru Ghosn ini memang terkenal. Dengan julukan garang: The Razor.

Sang pengacara bahkan bertekad sudah. Akan membongkar kriminalisasi itu. Yang sampai membuat juru selamatnya justru ditahan itu.

Pengacara Huawei juga sudah bulat: mengajukan dua gugatan sekaligus. Untuk Kanada dan Amerika Serikat. Alasannya juga kriminalisasi. Yakni campur tangan politik dalam hukum. Bahkan yang gugatan ke Amerika ditambah: soal blokade produk teknologi.

Rupanya tit-for-tat juga terjadi di bidang hukum. Yang semula hanya terjadi di perang dagang.

Tidak lama setelah Sabrina ditahan di Kanada, Tiongkok menahan dua warga Kanada.

Yang mengejutkan kemarin. Tiba-tiba Tiongkok menolak canola Kanada. Padahal dari total ekspor canola Kanada 40 persennya ke Tiongkok.

Kanada terlanjur menggalakkan pertanian canola. Yang jadi sumber ketiga terbesar minyak goreng nabati setelah jagung dan zaitun.

Demikian juga dua hari lalu. Setelah Kanada memberi sinyal  kemungkinan Sabrina diekstradisi ke Amerika. Huawei langsung menggugat Kanada dan Amerika.

Huawei kelihatannya mulai berubah strategi. Sebulan terakhir ini. Tidak mau lagi terus diam. Beberapa kali pendiri Huawei, Ren Zhengfei, memberikan keterangan pers. Tumben sekali. Seumur-umur Ren Zhengfei tidak pernah mau bertemu wartawan.

Pun di konferensi telekomunikasi dunia minggu lalu. Huawei juga lantang. Chairman bergilir Huawei, Guo Ping, angkat bicara di Barcelona itu. Ia mempersoalkan lahirnya UU baru di Amerika. Yang ditandatangani Presiden Donald Trump Maret tahun lalu.

Yakni UU 'US Cloud'. Yang intinya: pemerintah boleh minta data pribadi dari pelayanan cloud. Termasuk yang datanya tidak disimpan di Amerika. Perusahaan seperti Amazon dan Microsoft harus taat pada UU baru itu.

Guo Ping lantas bertanya: mengapa justru Amerika mempersoalkan keamanan penggunaan Huawei. "Dalam 30 tahun perjalanan Huawei tidak pernah cacat di bidang itu," ujar Guo Ping.

Sejak pendiri Huawei pensiun sebagai Chairman, jabatan itu dipegang secara bergilir. Oleh tiga orang yang dipercaya Ren Zhengfei.

Giliran tahun ini Guo Ping yang menjabat. Pada umurnya yang 53 tahun. Ia mendapat gelar master dari universitas ilmu dan teknologi Huazhong. Salah satu dari 10 universitas terkemuka di Tiongkok.

Kampusnya hampir 500 ha. Di pinggiran kota Wuhan. Bagian tengah negara itu.

Huawei memang menghadapi blokade berat. Amerika melarang instansinya membeli peralatan Huawei. Amerika juga melobi negara-negara Barat. Untuk berbuat yang sama.

Sambil memperkarakan Amerika kini Huawei bikin langkah kuda. Pasarnya di Eropa akan dipertahankan mati-matian. Pendapatan Huawei memang 50 persen dari Tiongkok. Tapi yang 50 persen lagi dari negara lain. Dari yang 50 persen itu 30 persennya dari Eropa.

Dari Barcelona Guo Ping langsung ke Brussel. Di 'ibukota' Eropa itu Guo Ping meresmikan 'senjata' baru: Cyber Security Center. Pusat  keterbukaan sistem keamanan peralatan Huawei.

Baru sekali ini ada perusahaan telekomunikasi bikin langkah seperti itu. Huawei memang mempelopori penciptaan iklim keterbukaan cyber yang terpercaya. Untuk melawan citra tidak amannya.

Kepercayaan, kata Guo Ping, akan jadi andalan bisnis telekomunikasi ke depan. Siapa saja bisa datang ke Center itu: Organisasi telekomunikasi. Para pembuat peraturan di seluruh negara. Juga lembaga perumus standar keamanan cyber.
Huawei pun meluncurkan mantra ini: kepercayaan itu harus berbasis pada fakta. Fakta adalah sesuatu yang bisa diverifikasi. Verifikasi harus mengacu pada standar umum.

Ren Zhengfei belum lama ini memang mengatakan: kalau Huawei diblokir di Barat masih ada Timur yang bersinar. Tapi Huawei tetap tidak mau kehilangan salah satu kakinya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya