Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Debat Dalam Bus

SELASA, 19 FEBRUARI 2019 | 05:08 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAAT debat calon presiden itu kami masih di Sungai Pinyuh. Di dalam bus. Dari Pontianak menuju Singkawang.

Busnya bagus. TV-nya besar. Dilengkapi WIFI. Milik DAMRI.
"Horeee, kita bisa lihat debat Capres di dalam bus," ujar seorang penumpang. Teman baik saya. Ia pengusaha besar. Yang sejak tadi gelisah. Dikira tidak ada TV di bus.

Jadwal perjalanan kami memang agak kacau. Bandara Pontianak sempat ditutup. Terhalang pesawat Lion. Yang terperosok di ujung landasan. Saat Lion landing di waktu hujan. Petang hari sebelumnya.

Jadwal perjalanan kami memang agak kacau. Bandara Pontianak sempat ditutup. Terhalang pesawat Lion. Yang terperosok di ujung landasan. Saat Lion landing di waktu hujan. Petang hari sebelumnya.

Teman-teman kami mencarter pesawat Garuda. Boeing 737-800. Agar bisa memuat seluruh rombongan. Sekitar 160 orang. Yang begitu sulit mendapat tiket reguler. Menjelang perayaan Cap Go Meh seperti ini.

Itulah problem tahunan Pontianak. Sulit mendapat tiket pesawat. Setahun empat  kali: Lebaran, Imlek, Cap Go Meh dan Cingbing.

Banyaknya suku Tionghoa di Kalbar membuat tiga event itu penting. Imlek untuk kumpul keluarga. Di malam tahun baru. Cap Go Meh untuk lihat perayaan di Singkawang. Yang terbesar di dunia. Cingbing untuk ke makam orang tua. Ketika anak mereka sudah banyak yang sukses di mana-mana.

Rombongan kami ini terdiri dari tokoh-tokoh Budha Tzu Chi. Yang umumnya pengusaha besar. Tionghoa. Suka bikin kegiatan sosial.

Kali ini mereka ke Singkawang. Untuk memulai membangun sekolah. Yang biasanya megah. Seperti yang di Cengkareng. Mereka juga baru membangun 3.000 rumah. Di Lombok dan Palu. Untuk korban gempa.

Penerbangan kami ini tertunda tujuh jam. Minggu bandara Pontianak bisa didarati.

Mestinya pukul 3 sore kami sudah tiba di Singkawang. Lihat pawai lampion dulu. Baru makan malam. Kemudian melihat debat di tv. Di kamar hotel masing-masing.

"Wah kita tidak bisa melihat debat nih," ujar seorang pengusaha. Saat naik ke dalam bus. Satu jam sebelum jadwal debat. Sebelum melihat ada tv besar di dalam bus.

Lalu ia begitu gembira. Setelah tahu ada tv besar di situ.
Ups... Ia kembali kecewa.
"TV ini hanya bisa untuk video dan karaoke," ujar petugas bus.

"Bisa nggak hand Phone dihubungkan ke TV itu. Kita bisa cari live streaming di HP. Lalu dilihat di TV," tanya pengusaha itu. Yang membawa WIFI portable. Yang lebih kuat dari WIFI milik bus.
"Juga tidak bisa," jawab petugas bus.

"Yaaaaaccchhhh," keluh pengusaha tadi.

Tapi ia tidak putus asa. Tetap mencari chanel debat di HP. Yang menyediakan layanan live streaming.

Berhasil. TV masa depan memang akan pindah ke live streaming seperti itu.
Kami pun menuntut teman itu: agar suara debat bisa dibesarkan. Untuk didengar seisi bus. Biar pun hanya suaranya.

Maka pemilik HP itu merangkap jadi operator. Mendekatkan corong microfon ke HP. Lumayan.
Hanya saja tidak bisa sempurna. Sesekali sinyalnya putus.

Saya sendiri sebenarnya tidak tertarik mengikuti debat itu. Beberapa penumpang juga jatuh terkulai: tertidur. Pasti isi debat itu tidak menarik baginya. Juga bagi saya.

Tapi saya harus tetap membuka telinga. Saya kan harus menulis untuk DI's Way. Itulah wartawan. Harus biasa mengerjakan apa saja. Pun yang tidak ia suka.

Tapi keadaan membuat saya tidak bisa mengikuti debat itu. Secara utuh. Tidak bisa memperhatikan body language mereka. Maka tidak baik kalau saya menulis hanya berdasarkan pengamatan yang sepotong.

Apalagi, dari yang sepotong itu, saya tidak menangkap ide besar yang jadi bahan perdebatan. Atau ide besar itu sebenarnya ada. Untuk Indonesia. Saat sinyal HP lagi off agak lama.

Saya hanya menangkap sedikit kesan: Prabowo kurang siap untuk bersilat lidah. Betapa mudah sebenarnya mematahkan serangan Jokowi itu. Setidaknya secara lisan.

Akhirnya kami tiba di Singkawang. Setelah debat itu selesai agak lama tadi. Tidak ada penumpang yang memperdebatkan debat tadi.

Kami semua berteman baik. Tidak ingin ada yang saling terganggu.

Dan lagi malam sudah larut. Kami tiba di hotel sudah sangat telat: pukul 23.00. Pawai lampion sudah bubar. Penonton sudah bergerak pulang. Jalan ke luar Singkawang padat kendaraan.

Begitu masuk hotel saya keluar lagi: cari durian. Ditemani pimpinan harian Rakyat Kalbar, Qadhafi. Sampai pukul 1 malam. Dengan janji: pukul 6 pagi ketemu lagi. Untuk keliling kota Singkawang. Sebelum acara pokok Budha Tzu Chi di dekat hotel.

Dari keliling Singkawang itu  saya akan menyimpulkan: apa kabar Singkawang sekarang. Setelah setahun dipimpin walikota wanita yang fenomenal: Tjhai Chui Mie. [***] 

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya