Berita

Mahyudin/Rep

Mahyudin: Jangan Gara-Gara Pilihan Politik Kita Bermusuhan

SABTU, 27 OKTOBER 2018 | 14:33 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin berharap perbedaan pilihan politik tidak membuat masyarakat saling bermusuhan.

Hal demikian disampaikan Mahyudin saat dirinya melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada ratusan warga Kelurahan Sambaliung, Kecamatan Sambiliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (27/10).

Menurut pria asal Kalimantan Timur itu, dalam Pemilu sebenarnya sangat sederhana, kalau tidak suka dengan pemimpin sekarang, jangan pilih namun kalau suka silahkan pilih kembali.


"Semua itu dilakukan di TPS," ujar Mahyudin dalam keterangan resmi Humas MPR.

Permusuhan dan perpecahan akibat beda pilihan, menurut Mahyudin merupakan salah satu tantangan kebangsaan. Untuk itulah MPR melakukan sosialisasi agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga.

Dalam sosialisasi yang dilaksanakan di lapangan bulutangkis itu, lebih lanjut Mahyudin mengatakan, sebagai bangsa yang berbeda-beda, beragam dalam suku, agama, dan bahasa, kita tak boleh menyerang, menghina, dan melecehkan pihak lain.

"Perbedaan ini sering dibawa-bawa ke politik," ungkapnya.

Pemahaman yang sempit dalam perbedaan disebut oleh Mahyudin salah satunya diakibatkan oleh pemahaman yang lemah terhadap agama. Pemahaman agama yang lemah bisa memunculkan sikap radikalisme hingga akhirnya bisa menciptakan terorisme. Menghadapi yang demikian diharap masyarakat belajar agama pada ulama yang mengedepankan kemaslahatan ummat. Dicontohkan, jika kita berjihad lebih utamakan jihad harta.

"Bila ada tetanggamu tak punya beras, beri dia beras," tuturnya.

Meski Mahyudin menyebut lemahnya pemahaman agama merupakan salah satu tantangan kebangsaan namun sesungguhnya bangsa ini dikatakan memberi ruang yang luas pada perkembangan agama. Di Indonesia ada 6 agama besar, Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha, dan Konghucu.

"Penganutnya dilindungi oleh konstitusi untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing," ungkapnya.

Mahyudin mengatakan, sesungguhnya nilai-nilai Pancasila sudah berjalan dengan baik di masyarakat meski demikian dirinya mengakui Sila ke-5 Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, diakui belum maksimal. Dicontohkan masyarakat terutama di luar Jawa banyak yang belum bisa menikmati listrik, jalan yang bagus, sarana kesehatan dan pendidikan yang layak.

Hal inilah yang menyebabkan kesenjangan yang luar biasa sehingga bisa menghasilkan ketidakpuasan daerah. Pengabaian kepentingan daerah dikatakan bisa memunculkan separatisme. Gerakan separatis pada masa Orde Lama dan Orde Baru karena ketidakpuasan daerah pada pusat.

Diharapkan pemerintah lebih memperhatikan masalah ini. "Bila subsidi BBM dicabut maka subsidi yang ada harus dialihkan untuk kepentingan rakyat lainnya," tuturnya.

Agar kondisi bangsa sesuai dengan yang diinginkan, ditegaskan kita harus memilih pemimpin yang berintegritas. Diungkapkan beberapa tahun terakhir bahkan hingga beberapa hari yang lalu, sudah banyak kepala daerah yang ditangkap KPK. Ini bisa terjadi karena sistem politik yang ada mengandalkan dan mengedepankan money politic. "Sekarang tidak hanya serangan fajar namun serangan siang, sore, dan malam", ungkapnya.

Cara yang demikian disebut cara-cara yang tak berintegritas. "Bila dia nanti dia terpilih maka orangnya tak antisuap karena ia sudah menyuap", paparnya. Hal demikianlah diakui menyebabkan banyak kepala daerah ditangkap KPK.

Agar tidak terulang, saat Pemilu Mahyudin mengajak masyarakat untuk memilih pemimpin yang berintegritas. "Jangan pilih pemimpin karena isi tas", tegasnya.

Ditambahkan untuk menciptakan kondisi pemberantasan korupsi yang lebih ideal, diharapkan penegakan hukum yang optimal. "Penegakan hukum yang tak optimal merupakan salah satu tantangan Empat Pilar," ungkapnya.

Diakui hukum yang ada tajam ke bawah, tumpul ke atas. Mahyudin menegaskan aparat hukum harus memiliki integritas agar hukum berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. [rus]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya