Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Suntikan Ekonomi 2 Ribu Triliun

KAMIS, 11 OKTOBER 2018 | 05:14 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MASAKAN baru. Resep lama. 'Masakan baru' itu senilai hampir Rp2 ribu triliun. Hampir sama dengan APBN Indonesia.

Saya katakan 'resep lama' karena 'masakan' seperti itu pernah disuguhkan tahun 2008. Saat ekonomi lagi lesu. Agar bisa bergairah kembali. Dan berhasil saat itu.

Kini ekonomi Tiongkok kembali lesu. Banyak orang mengatakan itu akibat perang dagangnya dengan Amerika.


Saya tidak sepenuhnya setuju. Saya punya alasan sendiri. Kelesuan itu juga akibat kebijakan yang keras. Dari pemerintahan Xi Jinping. Di lima sektor sekaligus: pemberantasan korupsi, pengetatan pajak, pemberesan kredit macet, penertiban pasar modal dan pengendalian kredit.

Bersamaan dengan itu ada perang dagang. Yang dilancarkan Presiden Donald Trump. Juga ada kenaikan suku bunga di Amerika.

Kini pemerintah Xi Jinping harus bergerak cepat. Agar kelesuan ekonomi tidak berlanjut. Tiga bulan terakhir pertumbuhan ekonominya tinggal 6,6 persen. Turun 0,1 persen dibanding tiga bulan sebelumnya.

Luar biasa pekanya. Ekonomi tumbuh 6,6 persen sudah membuat pemerintah Tiongkok gelisah. Padahal ada negara yang tumbuhnya lima persen, tenang-tenang saja. Kalau pun berbuat, yang digalakkan adalah mencari kambing hitam: ekonomi global yang kurang baik.

Minggu lalu pemerintah Tiongkok menyiapkan dana baru itu. Stimulus sebesar gajah bunting. Yang akan dialirkan ke masyarakat ekonominya. Melalui kemudahan mendapatkan sumber dana dari bank. Dalam bentuk kredit. Bank kini diperbolehkan menyalurkan tambahan kredit baru. Senilai USD110 miliar. Setara dengan Rp2 ribu triliun tadi.

Caranya: kewajiban simpanan bank di bank sentral diturunkan. Nilai penurunannya satu persen. Bank menjadi lebih punya uang. Untuk disalurkan ke sektor riel.

Apakah ini berarti pemerintah melunak? Dalam mendisiplinkan bank? Dalam menegakkan prinsip pruden? Dalam pengawasan kredit macet?

Tentu pemerintah menjelaskan 'tidak'. Tapi inilah bagian yang masih harus dilihat kenyataannya.

Ketika resep yang sama diluncurkan di tahun 2008 ternyata menjadi seperti pisau bermata dua. Di satu pihak ekonomi memang berhasil bergairah. Di pihak lain perbankan menjadi sembrono. Lalu terjadilah 'gempa' kredit macet. Yang meninggalkan lubang di mana-mana. Yang dianggap sangat bahaya: bagi fondamental ekonomi Tiongkok.

Penerima kredit sendiri juga sembrono. Merasa toh uang itu bisa didapat dengan mudah. Dan dalam jumlah yang besar.

Banyak di antara mereka menjadi konglomerat mendadak. Lalu beli-beli perusahaan. Di mana-mana. Di seluruh dunia. Termasuk membeli klub-klub sepakbola. Kadang kurang dihitung untung ruginya.

Keinginan segera disebut 大老板 sangat menonjol. Seperti jor-joran untuk segera memiliki gelar bos besar.

Akibatnya kreditnya macet. Bank pusing. Pemerintah pusing. Pengusahanya pusing. Ada bos besar tewas kepleset ke jurang. Ada yang bunuh diri. Atau ditangkap.  Semua terjadi tahun ini. Semua itu adalah buntut 'uang mudah' dan 'uang melimpah'  tahun 2008.

Saya akan mengamati secara khusus. Apakah resep lama yang kembali diterapkan mulai minggu lalu itu juga akan membuat banyak bos besar bunuh diri. Atau tewas. Atau kepeleset masuk jurang. Atau masuk penjara.

Tapi setidaknya sudah ada harapan: ekonomi bergerak lagi. Di sana. Bukan di sini. [***]


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Negara Hadir, Penanganan Gempa NTT Dilakukan Cepat dan Terkoordinasi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:26

Legislator PDIP Anggap Semu Keberhasilan Swasembada Pangan Pemerintah

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:18

Anggota PJ91 Gelar Plogging di Lapangan Utama Jamnas 2026

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:01

Dinamika Internal Organisasi Jelang Muktamar NU Makin Panas

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:46

HNI Berkontribusi dalam Gerakan Perekonomian dan Serap Tenaga Kerja

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:38

Program Prabowo Perkuat Layanan Kesehatan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:23

Tantangan Membangun Sistem Pertahanan Udara Nasional

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:00

Transformasi BRI Tuai Pengakuan Global

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:52

Dampak Gempa NTT, Wings Air Batalkan 8 Penerbangan di Ende

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:28

Pemerintah Kerahkan Personel Gabungan ke Daerah Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:50

Selengkapnya