Berita

Prabowo-Ratna/Net

Politik

Prabowo Minta Maaf Lalu Pecat Ratna

KAMIS, 04 OKTOBER 2018 | 14:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Calon Presiden, Prabowo Subianto sepertinya belum puas dengan jumpa pers yang digelar pada Rabu kemarin (3/10) terkait pengakuan aktivis, Ratna Sarumpaet yang sudah berbohong soal penganiayaan.

Hari ini, Kamis (4/10), ketua umum Partai Gerindra itu kembali menjelaskan perihal kabar penganiayaan yang diperoleh, pertemuan dengan Ratna, hingga pengakuan Ratna yang berbohong.

Penjelasan Prabowo disampaikan lewat akun Facebook miliknya Prabowo Subianto. Status tersebut sudah diposting tiga jam lalu dan dikomentari hampir 20 ribu kali serta dibagikan 13 ribu kali.


Dalam postingannya, Prabowo menghaturkan maaf atas kekhilafan yang terjadi. Jelas dia, tidak sedikit pun terbersit niat untuk menimbulkan kegaduhan dari peristiwa ini, hanya naluri kemanusiaan.

Selanjutnya, setelah Ratna mengundurkan diri tim Prabowo-Sandi, Prabowo juga dengan tegas memberhentikan Ratna dari jabatan di Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.

"Sebagai teman, saya akan terus menunjukkan kepedulian, tetapi sebagai pemimpin saya tidak bisa mentolelir kebohongan," terang Prabowo.

Berikut isi status lengkap Prabowo Subianto:

Saya mungkin termasuk pribadi yang sentimentil. Mudah tersentuh karena sebuah kabar. Cepat tergerak karena riak. Dan kadang-kadang gampang bergegas karena tidak bisa sekedar bersimpati. Dengan sikap seperti itulah saya berbagi empati dengan saudara-saudara yang lain. Setiap kemalangan menimpa salah seorang saudara kita, menimbulkan kegelisahan yang sangat pada diri saya. Tidak ada obat gelisah yang lebih mujarab selain bertemu langsung dan coba memecahkan persoalan yang ada.

Hal itu pula lah yang saya rasakan saat mendengar simpang siur kabar mengenai kondisi Ibu Ratna Sarumpaet (RS). Foto-foto beredar dengan cepat disertai kronologis peristiwa yang meyakinkan. Tidak hanya saya, sahabat-sahabat yang lain juga langsung tergerak hatinya begitu mendengar kabar duka yang menimpa beliau. Ibu RS adalah seorang sahabat, tokoh inspiratif yang konsisten berdiri memunggungi kekuasaan. Teladan yang sudah dibangunnya jauh sebelum era reformasi. Seorang seniman yang menunjukkan bahwa seni mengabdi pada kemanusiaan bukan pada kekuasaan.

Saya terluka begitu mendengar kabar tentang beliau. Asumsi-asumsi cepat berkembang mengenai peristiwa yang menimpa Ibu RS. Saya cepat mengambil sikap, apapun latar peristiwanya maka hukum harus ditegakkan.

Lewat berbagai cara, akhirnya saya bisa dipertemukan dengan beliau. Sayangnya, pertemuan itu tidak jua membuka kotak pandora peristiwa. Pengakuan yang disampaikan Ibu RS langsung kepada saya malahan memperkuat sinyalemen-sinyalemen yang berkembang.

Baru belakangan, Ibu RS membuka pengakuan mengejutkan yang sudah kita ketahui semua, bahwa fakta sesungguhnya jauh menyimpang dari cerita sebelumnya.

Saya sadar, sebagai manusia saya tidak luput dari kesalahan. Sikap sentimentil yang bersumber dari empati dan peduli sejenak membuat kita lupa untuk mawas diri. Tetapi apa daya, mulut sudah melontarkan kata dan ingatan merangkumnya jadi peristiwa. Riak sehari menjadi gelombang yang menimbulkan kegelisahan di tengah duka yang menimpa bangsa.

Sebagaimana manusia biasa, saya menghaturkan maaf atas kekhilafan yang terjadi. Tidak sedikit pun terbersit niat untuk menimbulkan kegaduhan dari peristiwa ini, hanya naluri kemanusiaan. Sebagai seorang pemimpin, tentu kata maaf saja tidak cukup. Sebab bukan kata tetapi tindakan yang akan membuat perbedaan. Karena itu saya memutuskan untuk memberhentikan Ibu RS dari jabatan beliau di Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandi Uno. Sebagai teman, saya akan terus menunjukkan kepedulian tetapi sebagai pemimpin saya tidak bisa mentolelir kebohongan.

Saya berharap kita bisa belajar banyak dari peristwa ini. Bahwa itikad baik saja tidak cukup tetapi harus dilandasi kejujuran hati. Semoga hari-hari ke depan, kejujuran menjadi sikap hidup kita agar tidak ada lagi itikad baik yang dibunuh oleh kebohongan
.
[rus]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya