Berita

Dahlan Iskan

Lelang Kerbau Nawas Sharif

SABTU, 29 SEPTEMBER 2018 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BERITA politik paling top di Pakistan saat ini: lelang kerbau. Jumlahnya delapan. Kandangnya di belakang rumah perdana menteri.

Yang membeli perdana menteri lama: Nawas Sharif. Yang melelang perdana menteri baru: Imran Khan. Tujuan lelang: untuk penghematan uang negara.

Salah satu kerbau itu laku Rp 38 juta. "Saya ikut lelang karena cinta pada Nawas Sharif. Saya belum tahu akan saya apakan kerbau ini," kata pemenang lelang itu.


Pemerintah baru Pakistan memang harus hemat habis-habisan. Utang jatuh temponya sekitar Rp 150 triliun. Cadangan devisanya tinggal 10 miliar dolar. Hanya cukup untuk membiayai impor 6 bulan. Kebetulan impornya memang tidak besar. Di banding Indonesia.

Tentu jual kerbau saja tidak cukup. Tidak ada artinya. Maka dijual juga 120 mobil pemerintah pusat. Yang dianggap pemborosan. Termasuk mobil antipeluru dan antibom.

Halaman kantor perdana menteri seperti show room mobil. Mercy, BMW, Lexus, Toyota SUV berjajar di halaman itu saat lelang diadakan.

Imran Khan terus jadi sosok yang populer. Janji kampanyenya dulu ditepati: hidup hemat. "Di Eropa biasa saja seorang perdana menteri naik sepeda. Seperti di Belanda," katanya.

Imran juga sudah memutuskan: kantor-kantor pemerintah, rumah jabatan dan tanah-tanah yang luas dialihfungsikan.

Kantor perdana menteri akan dijadikan universitas. Yang luasnya sekitar 55 ha itu. Beberapa rumah gubernur akan dijadikan museum. Atau galeri. Atau hotel butik. Beberapa halaman luas juga dijadikan tempat parkir.

Tujuannya: menghemat biaya pemeliharaan. Yang ikut menggerogoti anggaran negara.

Gerakan penghematan ini juga jadi bumerang. Permintaan rakyat lebih dari itu. Imran Khan juga diminta tidak naik helikopter lagi. Ribut. Pro-kontra. Kata satu pihak: biar saja naik helikopter, daripada memacetkan jalan. Pihak lain berkata: memang bisa saja, naik heli tidak mahal. Tapi tidak memberi simbol penghematan.

Imran sendiri kini ke Saudi Arabia. Siapa tahu bisa membantu Pakistan. Mengatasi persoalan keuangan jangka pendek: memberi pinjaman.

Kalau tidak pilihannya tinggal dua: ke IMF atau ke Xi Jinping.
Imran kelihatan arahnya: sedapat mungkin tidak ke Beijing. Tapi ia juga tidak memusuhi Tiongkok. Siapa tahu IMF juga tidak bisa membantu.

Pendapat umum di Pakistan memang lagi anti-Tiongkok. Gara-gara terlalu banyak proyek RRT di sana. Yang dirintis oleh Perdana Menteri Nawas Sharif. Melalui lembaga CPEC: China Pakistan Economic Cooperation.

Pakistan memang termasuk negara pertama. Yang menyambut hangat program Xi Jinping: one belt one road.

Imran sendiri sebenarnya punya terobosan lain. Sangat sensitif tapi luar biasa: membuka babak baru hubungan dengan India. Kerjasama ekonomi dua negara bisa mengatasi banyak hal. Terutama devisa dan logistik.

Dua negara itu satu bahasa: urdu. Satu budaya. Hanya beda agama.

Memang masih banyak yang sensitif. Pemisahan Pakistan dari India dulu penuh luka. Ada masalah rebutan daerah Kashmir. Ada persaingan program nuklir.

Sebetulnya pendekatan itu sudah mulai dirintis. Minggu ini. Di New York. Mumpung semua Menlu lagi kumpul di sana. Untuk sidang PBB.

Pertemuan sudah diatur. Hari sudah ditetapkan. Tinggal tunggu pelaksanaan.

Dor!

Penjaga perbatasan India tewas. Di Kashmir.

India mau Pemilu tahun depan. Penembakan itu jadi isu politik. Saling kecam.

Pertemuan pun batal.

Imran punya niat kuat untuk melupakan masa lalu. Tapi garis keras di India memang sangat keras.

Imran punya jaringan yang kuat di India. Teman-teman lamanya. Sesama bintang pemain kriket dunia.

Di dalam negeri Imran masih sangat populer. Juga solid. Tapi juga harus waspada. Pengadilan tinggi di sana membebaskan Nawas Sharif. Minggu lalu. Juga anak wanitanya. Tuduhan korupsi tidak terbukti.

Nawas sudah bebas sekarang. Setelah kehilangan segala-galanya: Jabatannya. Pabrik gulanya. Dan juga istrinya. Yang meninggal dunia di London, tiga minggu lalu, akibat kanker. Saat ia di dalam penjara. [***]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya