Berita

Foto Pramugari Garuda dari masa ke masa/Disway

Dahlan Iskan

Mode Pramugari Anda Yang Jadi Juri

MINGGU, 26 AGUSTUS 2018 | 06:17 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA tertarik ini. foto-foto pramugari Garuda. Dari masa ke masa. Yang dipajang di lounge eksekutifnya. Di terminal 3 Soekarno Hatta. Terminal internasionalnya.

Di situ dipajang lengkap. Mulai kostum tahun 1949. Saat pesawatnya masih Dakota. Sampai sekarang. Era Boeing 777. Yang jet itu. Atau era ATR 70. Yang propeler itu.

Ide memasang foto-foto itu tentu datang dari orang yang kreatif.  Bisa menghibur kekecewaan penumpang kelas bisnis. Yang  diperlakukan seperti ini. Yang membuat saya sering mengalah. Pilih duduk di ruang tunggu ekonomi.


Bayangkan, setelah proses paspor itu kita harus belok kanan. Tidak ada pilihan lain. Lalu turun eskalator. Tidak ada pilihan lain.

Sampai di situ tidak segera ada petunjuk. Di mana lounge kelas bisnis. Tanda itu baru dipasang di sana. Setelah orang keburu bertanya.

Lokasi lounge itu ternyata di arah sebaliknya. Tidak make sense. Jauh. Sangat tidak terasa wellcome. Ibarat masuk pekarangan rumah tapi lewat pintu belakang. Desainnya seperti tidak mengenal 'gerbang depan'.

Untung ada foto-foto pramugari itu. Mata saya terpaku di situ. Di pramugari tahun 1947. Lihatlah kostumnya. Modenya. Jenis kainnya. Tentu juga orangnya. Begitu vintage. Terutama karena pecinya. Yang masih berbau perjuangan.

Jangan bayangkan umurnya. Usia berapa dia sekarang. Wajahnya seperti apa. Atau dikubur di mana.

Bayangkan di tahun itu. Ketika baru empat tahun merdeka. Ketika jutaan orang Islam di India melarikan diri. Terbirit-birit. Ke arah barat. Ketika jutaan orang Hindu di Pakistan lari. Terbirit-birit. Ke arah timur. Ketika Pakistan memisahkan diri dari India. Dengan mendadaknya. Jutaan orang mati sia-sia. Dosa Inggris yang tidak terpermana.

Bayangkan zaman itu. Pramugari Garuda sudah semodis itu. Lihat cutting atasannya: begitu sempurna. Saya hanya tidak suka satu: krah lehernya. Begitu kunonya.

Zaman itu memang zaman kuno. Ketika dunia barat baru mengakui kemerdekaan Indonesia. Di mata mereka tidak ada: Proklamasi 17 Agustus 1945.

Saya tidak bisa menduga: jenis apa kain atasan itu. Begitu tipisnya. Begitu beningnya. Begitu terasa mahalnya.

Tentu saya tidak menampilkan yang pria. Tidak banyak perubahannya. Begitu-begitu saja. Begitulah pakaian pria. Tidak ada yang perlu bicara. Laki-laki itu tidak menarik. Luarnya. Laki-laki itu hanya menarik. Dalamnya.

Sepuluh tahun kemudian. Sebuah kekecewaan. Lihat pramugari tahun 1959 itu. Begitu kedodorannya! Saya hanya bisa memberi nilai empat. Tapi kok ya bertahan lama. Sampai tahun 1970. Ketika mode rok panjang diganti pendek. Atasannya semi kaus. Mengingatkan saya pada mode pramugari Amerika. Di era perang Vietnam itu.

Saya anggap nilainya enam. Tidak jelek. Tapi terasa revolusioner. Untuk zaman itu.

Rupanya tiap dasawarsa ganti mode. Lihatlah pramugari tahun 1980-an. Era dandanan Bu Tien. Diciptakan dua model: rok dan kebaya. Cukup mengesankan. Saya nilai tujuh.

Era Bu Tien hanya bertahan lima warsa. Tahun 1985 muncul model baru. Tanpa kebaya. Tapi saya tidak suka edisi ini. Roknya sedikit kepanjangan. Bisa dipotong sedikit. Tetap di bawah lutut. Tapi lihatlah bagian pinggangnya. Terlalu turun. Dan ruwet. Tidak manis sama sekali. Saya menilainya 4,5.

Era 1990 sudah beda sama sekali. Modern yang mengakomodasikan tradisional. Saya suka. Bawahannya ada bau jarit tapi tidak sampai nyrimpeti. Saya menilainya 7,5.

Era 1999 tidak banyak perubahan prinsip. Saya juga suka. Rok sedikit di atas lutut. Tapi tidak sampai terkesan mengundang. Nilai saya tetap 7,5.
Lantas masuklah era tahun 2000. Era melinium. Tapi terasa sekali. Mengekor Singapore Airlines. Saya menilainya turun dikit: tujuh.

Terakhir saya tidak mau berkomentar. Juga tidak mau menilai. Itu sudah era 2010. Saya sudah tidak netral lagi. Andalah yang berkomentar. Andalah yang menilai. Andalah jurinya. [***]



Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya