Berita

Dahlan Iskan

Kawin Cerai Ideologi Ekonomi

SELASA, 31 JULI 2018 | 06:14 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

NAWAZ Sharif masuk rumah sakit. Akhirnya. Kemarin dulu. Irama jantungnya kacau. Tekanan darahnya naik. Ia stress. Pantangan berat bagi pengidap deabetes seperti ia.

Sebenarnya dokter penjara  sudah minta itu. Sehari setelah partainya kalah Pemilu 25 Juli lalu. Tapi Nawaz menolak keluar penjara. Ia curiga ada skenario pembunuhan. Yang sangat biasa di Pakistan.

Nawaz sudah berkali-kali dibunuh. Secara pilitik. Juga ekonomi. Keluar-masuk penjara. Jadi pelarian. Buron.
Dua minggu sebelum Pemilu baru Nawaz memutuskan pulang. Dari pelariannya di London. Untuk membantu partainya. Yang sejak Nawaz jadi terdakwa dipimpin adik bungsunya: Shahbaz Sharif.

Dua minggu sebelum Pemilu baru Nawaz memutuskan pulang. Dari pelariannya di London. Untuk membantu partainya. Yang sejak Nawaz jadi terdakwa dipimpin adik bungsunya: Shahbaz Sharif.

Waktu pulang dari London Nawaz minta mendarat di Lahore. Kampung halamannya. Tapi polisi sudah siaga. Truk-truk militer berbaris sepanjang jalan. Pengikutnya dihadang.  Tidak boleh masuk bandara.

Begitu mendarat Nawaz langsung ditangkap.
Dimasukkan penjara yang amat terkenal: Adiala. Di penjara itu pulalah lawan-lawan politiknya juga menjalani hukuman.

Kini Nawaz masih cari jalan keluar. Agar bebas dari hukuman: penjara maupun larangan berpolitik seumur hidupnya.

Bagi Nawaz yang seperti itu sudah biasa. Ia sudah biasa kehilangan apa saja. Dan selalu berjuang untuk memperolehnya kembali.

Kehilangan pertamanya adalah: kehilangan bisnisnya.
Nawaz dari keluarga kaya raya. Untuk ukuran Pakistan. Punya pabrik baja. Pabrik itulah yang tiba-tiba hilang. Akibat politik.

Tepatnya pada tahun 1971. Yakni waktu partainya Zulfikar Ali Bhutto menang Pemilu. Partai Rakyat Pakistan (PPP).

Ideologi Ali Bhutto mirip Bung Karno. Tengah-kiri. Bhutto memang bersahabat dengan Bung Karno. Zaman itu aliran kiri memang lagi 'in' di dunia ketiga.

Begitu Ali Bhutto berkuasa dilakukan nasionalisasi. Industri-industri utama harus milik negara. Pabrik baja milik Nawaz diambil. Bersama 31 pabrik besar lainnya: pabrik semen.

Sejak saat itulah Nawaz masuk politik. Dengan dendamnya. Umurnya: 28 tahun. Ingin mengubah ideologi negara.
Dan sejak itulah dua ideologi ekonomi di Pakistan bermusuhan. Sampai sekarang.

Ketika Ali Bhutto dihukum gantung diganti putrinya: Benazir Bhutto. Dengan ideologi yang sama.
Benazir dua kali jadi perdana menteri. Dua kali pula dijatuhkan. Terakhir ditembak mati.

Nawaz Sharif juga tiga kali jadi perdana menteri. Tiga kali pula dijatuhkan. Tiga kali jadi pelarian. Tiga kali masuk penjara.

Pemerintahan Pakistan memang selalu silih berganti: Bhutto-militer-Nawaz-militer-Bhutto-militer-Nawaz-militer. Atau semacam itu.

Ketika pemerintahan Ali Bhutto dikudeta jendral Zia Ul Haq, Nawaz dapat angin. Nasionalisasi dihentikan.
Ia sendiri ditunjuk menjadi menteri keuangan negara bagian penting: Punjab. Tempat kelahirannya. Posisi ini yang kelak membawanya menjadi ketua menteri. Setingkat gubernur di sini.

Tapi ketika Benazir Bhutto terpilih jadi perdana menteri di tahun 1988 dia kembali meneruskan program nasionalisi ayahnya. Ekonomi Pakistan balik kucing. Sangat buruk.

Hanya 20 bulan Benazir menjadi perdana menteri. Digusur oleh Ghulam Ishak Khan. Yang didalangi militer. Arah ekonomi pun dipindah lagi.

Tahun 1993 Benazir terpilih lagi jadi perdana menteri. Ekonomi berubah lagi. Benazir digusur lagi. Dimasukkan penjara. Dengan tuduhan korupsi. Dihukum 3 tahun.
Militer terus berkuasa sampai 2007.

Diadakanlah Pemilu. Nawaz terpilih sebagai perdana menteri. Yang kedua kalinya.
Pada tahun ketiga Nawaz ingin mengganti panglima militer.

Saat itu panglima lagi di luar negeri. Marah. Begitu pulang jendral itu langsung kudeta: Jendral Musharaf.

Nawaz dijadikan terdakwa. Di pengadilan militer. Yang dilangsungkan dengan cepat. Tuduhannya seabrek: pembunuhan, penculikan, korupsi.

Ancamannya hukuman mati.
Mendengar ancaman itu raja Arab Saudi turun tangan. Merayu militer Pakistan. Agar bersikap lebih lunak.
Kompromi diraih: Nawaz cukup diasingkan di Arab Saudi. Dan tidak boleh terjun ke politik. Setidaknya selama 21 tahun. Saat di pengasingan inilah Nawaz membangun pabrik baja di Saudi.

Lalu Nawas mengasingkan diri ke London. Membeli rumah di sana. Rumah inilah yang kelak pada tahun 2018 membuatnya jatuh. Dan masuk penjara lagi.
Pemerintahan militer jenderal Musharaf ini cukup panjang.  Sampai 2008. Tapi ekonomi juga tidak maju.  Rakyat sudah tidak tahan. Minta Pemilu.

Saat itulah Benazir Bhutto diizinkan pulang dari pengasingannya. Juga di London. Untuk ikut Pemilu. Ingin jadi perdana menteri yang ketiga kalinya.
Nawaz terpaksa diizinkan juga untuk pulang. Dari London. Terbang langsung ke Lahore.

Tiba di Lahore Nawaz tidak boleh turun dari pesawat. Harusnya, kata penguasa,  Nawaz kembalinya dari Arab. Bukan London. Maka pesawat kembali. Ini, kata Nawaz, siasat untuk menjegalnya.

Nawaz lama menunggu di Arab. Untuk bisa pulang.
Izin itu akhirnya datang. Atas tekanan rakyat. Dan raja Saudi.

Begitu tiba di Pakistan pendaftaran caleg hampir tutup. Tinggal sehari.
Tapi Benazir ditembak mati. Entah oleh siapa.

Pemilu ditunda beberapa minggu. Hasilnya: partainya Benazir justru yang menang. Meski Benazir sendiri tidak bisa jadi perdana menteri. Untuk ketiga kalinya.

Baru pada Pemilu berikutnya, 2013, giliran partainya Nawaz yang menang. Jadilah Nawas perdana menteri lagi. Yang ketiga kalinya. Meski juga tidak sampai selesai. Keburu dimasukkan penjara lagi. Sampai masuk rumah sakit hari-hari ini.

Kini Pakistan beda lagi. Di Pemilu 25 Juli barusan ganti partai lain yang menang. Tokoh lain yang akan menjadi perdana menteri: Imran Khan. Yang wajahnya mirip penyanyi rock Inggris Mick Jagger itu. Yang latar belakangnya atlet olahraga kriket itu. Yang dikenal sebagai playboy itu. Dan kawin-cerai itu.

Entah model ekonomi apa lagi yang akan dicoba di Pakistan.
Begitu seringnya Pakistan ganti-ganti ediologi ekonomi.
Saya juga sempat khawatir saat ideologi Nawa Cita ingin diintrodusir lagi di Indonesia. Bukan khawatir ideologinya, tapi khawatir ganti-gantinya. Bisa bikin tidak stabil.

Syukurlah Nawa Cita tidak begitu disuarakan lagi. Belakangan ini. Juga tidak begitu dilaksanakan lagi. Tampaknya.[***]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya