Berita

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Mana Bisa Ada Trump Dan Ing-wen

RABU, 18 JULI 2018 | 05:01 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

ANEH. Tiba-tiba dingin. Tidak ada lagi perang kata dan opini. Menyesalkah? Bahwa perang dagang antara Amerika dengan Tiongkok ini hanya akan merugikan keduanya? Dan merugikan negara lain?

Sudah seminggu ini media di Tiongkok seperti disiram alkohol. Tidak ada lagi judul-judul yang menjelekkan Amerika. Tidak ada opini yang mengejek Donald Trump. Tidak ada karikatur yang menyindir presiden Amerika itu.

Padahal biasanya tidak begitu.


Ternyata ketahuan: pemerintah Tiongkok melarang media di sana berbuat begitu.

Di Tiongkok, media adalah corong pemerintah. Atau terompet partai.

Artinya: cooling down-nya media di Tiongkok mencerminkan sikap pemerintahnya.

Di pihak Amerika juga senada. Presiden Trump seperti sedang kriyep-kriyep. Rupanya ia juga menghendaki hal yang sama. Ia tidak lagi mengeluarkan kata-kata kasar. Yang ditujukan ke Tiongkok.

Bahkan pemerintahnya mulai mengeluarkan keterangan menyejukkan: kemungkinan akan ada pengecualian. Terhadap barang-barang tertentu dari Tiongkok. Yang dikenakan bea masuk tinggi: 25 persen.

Bahkan perusahaan telkom Tiongkok, ZTE, sudah dibolehkan jalan lagi. Boleh mengimpor semikonduktor dari Amerika lagi. Meski dengan dalih malu-malu: untuk sementara.

Adakah semua itu pertanda-pertanda? Perang dagang segera berakhir? Tapi bagaimana mengakhirinya? Kan sudah terlanjur seru?

Bagi Tiongkok itu mudah: tinggal komando. Sistem pemerinrahannya top down.

Bagi Amerika mudah-mudah-sulit. Atau sulit-sulit-mudah.

Sulitnya: medianya tidak bisa dikontrol. Dan legislatifnya terbelah.

Mudahnya: Trump sudah biasa tempe-kedelai.

Dampak baiknya langsung terasa. Bursa saham Shanghai mulai berhenti meluncur turun. Mata uang Yuan sudah ragu-ragu untuk terus melemah.

Tesla sudah terlanjur menaikkan harga mobilnya: 20 persen. Untuk pasar Tiongkok. Yang sebenarnya sudah mulai laris. Naiknya bea masuk membuat Tesla menyiapkan jari: untuk digigit.

Suasana baru yang tiba-tiba dingin ini masih seperti malaria. Belum sepenuhnya bisa dipegang. Suasananya masih detente: 'perang dalam dingin'.

Tapi lumayan. Daripada membayangkan eskalasi: dari perang dagang ke perang senjata. Dengan pemicu: Taiwan.

Amerika sempat melakukan - menurut istilah Tiongkok - provokasi: tiga kapal perangnya sengaja melintasi selat sensitif. Antara Tiongkok dan Taiwan.

Bagi Tiongkok, Taiwan itu harga mati: salah satu propinsinya. Tapi Amerika seperti sengaja memainkan kartu Taiwan ini.

Mumpung presiden Taiwan saat ini, Tsai Ing-wen, ingin merdeka sepenuhnya - diam-diam.

Presiden Taiwan yang lalu sangat pro-gabung-Tiongkok.

Tapi presiden yang sekarang  punya ideologi sendiri. Dia memang keturunan Haiwan - suku asli Taiwan.

Dari jalur neneknya, Tsai Ing-wen memang suku Haiwan. Sedang dari darah kakeknya adalah suku Hakka.

Baru kali inilah ada presiden wanita di Taiwan. Bujangan. Umur 54 tahun. Anak bungsu dari 11 bersaudara-tiri: ayahnya punya empat istri.

Pendidikannya hukum: S1 di Stanford Amerika. Doktor hukumnya di London School of Economics.

Suku Haiwan kini minoritas di Taiwan: tinggal 17 persen. Sisanya pendatang dari Tiongkok daratan. Terutama para pelarian. Saat Partai Nasionalis Komintang pimpinan Chiang Kai Shek kalah. Dalam sebuah perang sipil. Melawan Partai Komunisnya Mao Zedong. Di tahun 1949.

Kapal perang Amerika itu sungguh sempat mengkhawatirkan. Siapa tahu Tiongkok tidak lulus ujian kesabaran.

Dulu orang Tionghoa sedunia begitu yakin: tidak akan ada perang di selat itu. Terlalu banyak orang Taiwan yang berbisnis di Tiongkok: lima juta orang.

Perusahaan Taiwan di daratan: 50.000 zhuo. (Di Tiongkok satuan perusahaan bukan 'buah' tapi 'zhuo').

Tidak disangka bahwa kelak, di tahun 2017, Amerika punya presiden bernama Donald Trump. Dan Taiwan punya presiden wanita bernama Tsai Ing-wen.

Dua nama yang tidak bisa disinonimkan dengan kestabilan dunia. [***]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya