Berita

Foto/Net

Hukum

LBH Kok Minta Stop Tembak Bandar Narkoba

RABU, 07 MARET 2018 | 09:33 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat mendesak keras pemerintah untuk segera menghentikan kebijakan tembak di tempat dalam penanganan kasus narkotika.

Berdasarkan pemantauan LBH Masyarakat sepanjang 2017, terdapat 215 insiden penemba­kan dalam penegakan hukum narkotika. Dari 215 kasus terse­but, 116 orang luka-luka dan 99 orang meninggal dunia

Koordinator Riset dan Kebijakan LBH Masyarakat, Ajeng Larasati, menekankan fenomena pembunuhan ekstra-yudisial merupakan sesuatu yang amat disorot dalam skala global. "Sejak Presiden Rodrigo Duterte menerapkan operasi Tok Hang di Filipina, puluhan ribu nyawa ribu nyawa telah melayang. Sementara Indonesia, meski belum sedemikian parah, sedang meniru pendekatan yang dilaku­kan oleh Filipina," katanya.


Di Indonesia sendiri, tidak ada bulan tanpa insiden kema­tian dalam penegakan hukum narkotika. Angka paling rendah ada di November 2017 dengan 4 kematian dan paling tinggi ada pada Agustus dengan catatan 13 kematian.

Beberapa Polda dan BNNP memiliki catatan masif dalam persoalan kematian dalam penegakan hukum narkotika ini. Diantaranya, Sumatera Utara sebanyak 30 kematian, DKI Jakarta 22 kematian, Lampung 11 kematian, Jawa Timur 8 ke­matian, dan Kalimantan Barat 7 kematian.

Menurut Ajeng, ada sejumlah alasan mengapa praktik tembak di tempat terkait kasus narkotika harus dihentikan. Pertama, tem­bak mati di tempat tidak meno­long situasi supply reduction atau pemotongan rantai pasokan narkotika di Indonesia. Hal ini disebabkan karena terputusnya rantai informasi yang penting mengenai mafia peredaran gelap yang lebih besar.

Dari laporan BNN dari ta­hun ke tahun, angka kejahatan narkotika terus meningkat. "Ini menunjukkan ada masalah lain yang lebih mendasar yang tidak pernah disasar dan selesaikan," ujarnya. Selain itu, kebijakan tembak di tempat rawan men­imbulkan insiden salah tembak.

Bahkan, hal itu juga berpotensi memancing pertempuran terbuka antara pemerintah dengan mafia peredaran gelap. Kondisi ini dapat menimbulkan dan mere­produksi lingkaran kekerasan, penderitaan dan dendam tanpa henti dari generasi ke generasi yang sulit untuk dipulihkan.

"Pada konteks ini, warga sipil yang tidak tahu apa-apa akan jadi pihak pertama yang jadi korban - semata karena ada di tempat dan waktu yang salah," imbuhnya.

Selain itu, tembak mati di tempat juga adalah pelanggaran HAM terang-terangan terutama untuk aspek hak untuk hidup dan hak atas peradilan yang jujur dan adil. Bagaimana pun kesalahan seseorang, dia harus dihadapkan dengan pengadilan agar ada ruang baginya untuk membela diri. Penegakan hukum dilaku­kan oleh manusia dan manusia kerap keliru dalam memutuskan segala sesuatu.

"Tembak mati di tempat jelas adalah pengkhianatan terhadap konstitusi yang secara gamblang menegaskan bahwa Indonesia ada­lah negara hukum," tegas Ajeng.

Negara hukum yang baik memiliki prosedur dalam penegakan hukum dan penegak hukumnya juga dengan baik mematuhi prosedur tersebut.

Sebelumnya, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Heru Winarko mengatakan akan melanjutkan program yang telah dilakukan pendahulunya, Budi Waseso atau Buwas. Diantaranya, menembak mati penge­dar atau bandar narkoba.

Menurut Heru, tindakan tegas tembak di tempat, akan dilaku­kan jika pengedar atau tersangka melawan. Penembakan akan menjadi pilihan jika pelaku melakukan perlawanan dan membahayakan petugas. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Forum Lintas-Generasi Ketuk Pintu KWI Serukan Kebangkitan Moral Bangsa

Rabu, 15 April 2026 | 22:14

Gaduh Motor Listrik, Muncul Desakan Copot Kepala BGN

Rabu, 15 April 2026 | 21:53

BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah dalam 5 Dekade

Rabu, 15 April 2026 | 21:34

Dipimpin Ketum Peradi Profesional, Yuhelson Dikukuhkan Sebagai Guru Besar

Rabu, 15 April 2026 | 21:03

Terbongkar, Bisnis Whip Pink Ilegal Raup Omzet hingga Rp7,1 Miliar

Rabu, 15 April 2026 | 20:51

Pakar dan Praktisi Kupas Tata Kelola Intelijen di Tengah Geopolitik Global

Rabu, 15 April 2026 | 20:42

2,1 Juta Peserta BPJS PBI Kembali Aktif

Rabu, 15 April 2026 | 20:30

Revisi UU Pemilu Bukan Cuma Ambang Batas

Rabu, 15 April 2026 | 20:10

Sejarah Panjang Trem Jakarta dari Masa ke Masa

Rabu, 15 April 2026 | 20:05

Film The Legend of Aang: The Last Airbender Diduga Bocor di X Jelang Tayang Oktober 2026

Rabu, 15 April 2026 | 19:45

Selengkapnya