Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Upaya Mencari Pemimpin Mampu Di Era Demokrasi (2)

JUMAT, 05 MEI 2017 | 08:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Oleh: Dahlan Iskan

Meski di belakang hari banyak yang kecewa, saya akui ide awal Presiden SBY ini sangat brilian. Ide inilah yang bisa menjadi terobosan untuk menutup sisi lemah hasil proses demokrasi di negara yang demokrasinya masih muda seperti Indonesia.

Dengan ide tersebut kekhawatiran bahwa proses demokrasi akan menghasilkan "yang terpilih belum tentu mampu, yang mampu belum tentu terpilih" bisa dikurangi.


SBY tahu di negeri ini banyak orang yang mampu namun tidak populer. Atau belum populer. Dari banyak yang mampu itu terbagi dalam beberapa kelompok. Ada kelompok mampu yang kemampuannya diakui secara umum oleh banyak orang. Ada juga kelompok mampu yang hanya mereka sendiri yang menilai bahwa mereka mampu. Karena itu SBY memiliki ide untuk menjaring orang-orang yang mampu kategori pertama. Bukan dengan cara membuka pendaftaran melainkan dengan cara melakukan penelitian. Cara pendaftaran dihindari untuk mencegah masuknya nama-nama yang hanya dirinya sendiri yang merasa mampu.

Seingat saya SBY waktu itu menunjuk sebuah lembaga survey untuk melaksanakan riset itu: Syaiful Mujani. SBY minta agar lembaga survey tersebut mengajukan pertanyaan kepada 200 orang bergelar profesor dan doktor dari berbagai latar belakang. Pertanyaannya, kalau tidak salah: siapa orang yang Anda anggap mampu memimpin Indonesia ke depan. Artinya: untuk menggantikan SBY yang harus turun tahta dua tahun kemudian.

Yang ditanya tidak boleh menyebut atau mengajukan dirinya sendiri. Bahwa namanya disebut oleh profesor-doktor yang lain tidak masalah. Saya dengar beberapa orang profesor-doktor tidak bersedia menjadi responden, tapi lembaga survey Syaiful Mujani dengan mudah bisa mencari penggantinya. Yang jelas survey ini berhasil menyusun 10 besar nama-nama yang dianggap mampu memimpin Indoneaia.

Mengapa hanya level profesor-doktor yang menjadi responden? Dalam suatu kesempatan SBY menjelaskan bahwa level itu tidak diragukan lagi akan mampu menilai siapa yang layak dan tidak layak menjadi pemimpin nasional. Terutama dilihat dari segi kemampuan atau kualitas. Bukan dari sudut popularitas atau keterpilihan.

SBY, khusus untuk ini, menghindari pendapat umum. Kalau masyarakat awam dilibatkan dalam survey itu belum tentu hasilnya bisa memuaskan. Belum tentu bisa terlihat sisi kemampuan yang lebih teknis dan detil dari seorang tokoh. Bisa jadi tokoh yang bisa mengemas dirinya atau terkemas oleh media yang akan terlihat. Saya dengar sekitar 10 pemimpin redaksi media massa ikut dipilih sebagai responden. Pertimbangannya adalah untuk melihat kemampuan seseorang dari sudut akuntabilitas.

Saya beruntung bisa mendapat bocoran siapa saja yang masuk 10 besar hasil survey itu. Lengkap dengan nama dan nomor urutnya. Tapi secara resmi tidak pernah ada pengumuman untuk itu. Baik oleh lembaga surveynya maupun oleh SBY sebagai pemilik idenya. Saya kira memang lebih baik begitu.

Mengapa respondennya hanya 200 profesor-doktor? Bukan 1000? Pertama, itu sudah memenuhi kaidah ilmiah. Kedua, tidak perlu menghubungi profesor-doktor dari seluruh Indonesia. Sedapat mungkin mereka adalah profesor-doktor yang tahu kapasitas pribadi tokoh yang akan diusulkan dari dekat. Orang jauh cenderung tahunya dari media atau kemasan.

Dari nama-nama 10 besar yang saya peroleh itu harus diakui belum ada satu pun yang popularitasnya menyamai popularitas tokoh yang waktu itu sudah beredar. Jangankan melampaui. Mendekati pun belum.

Kenyataan itu di satu pihak memang menyadarkan bahwa demokrasi memiliki misterinya sendiri. Di lain pihak sungguh berat bagi SBY untuk mencari pengganti yang ideal seperti yang dia inginkan.

Maka, menurut SBY, tugas pihak-pihak yang mencintai Indonesialah yang harus meningkatkan popularitas tokoh-tokoh yang dianggap mampu itu. Termasuk SBY sendiri. Akhirnya kita semua tahu SBY memiliki cara tersendiri untuk menindak lanjuti hasil pemikirannya yang ideal itu. Sayangnya SBY menempuh jalan untuk melaksanakan idenya itu melalui partainya, Partai Demokrat. Mulai dari tahap inilah ide brilian yang awalnya "sangat Indonesia" itu turun menjadi "sangat partai". ***

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

UPDATE

Prabowonomics dalam Desain APBN 2027

Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:17

BRI KKB National Expo 2026 Hadir di 131 Lokasi dan Torehkan Rekor MURI

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:48

Sikap Amien Rais Makin Plinplan dan Mirip Sengkuni

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:14

PBB Dorong PT Timah Serap Hasil Timah Masyarakat Bangka Belitung

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:45

Truk Karnaval Kementerian PU Hadirkan Pesan Gotong Royong dan Kerja Nyata

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:16

Pernyataan Agus Burate soal 5 WN China di Tambang Emas Dibantah Keluarga

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:42

Jalan Harmoni, Potret Toleransi di Jantung George Town

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:37

Sindikat Meterai Palsu yang Bikin Negara Boncos Rp1 Triliun Dibongkar Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:21

Komisi V DPR Usul Kapal Penumpang dan Pengangkut Barang Dipisah

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:59

Jampidsus Diminta Terbitkan Sprindik Baru Kasus Jiwasraya dan Asabri

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:35

Selengkapnya