TERSEBUTLAH kisah sebuah negeri di lintasan khatulistiwa nan elok cantik jelita.
Alamnya indah mempesona mata, pegunungangnya hijau menjulang ke langit biru penuh wibawa, lautnya berlimpah sumber kehidupan, matahari datang dan pergi secara teratur, musim hujan dan panas membawa berkah pada penduduk negeri itu....
Sungainya.... amboyyy... bening mengalir nan menyejukan jiwa dan raga... tempat anak negeri bercanda ria di sore hari....
Kebahagiaan di negeri bak syurga itu terasa makin lengkap karena dihuni penduduk yang ramah, penduduk yang saling peduli sesama, penduduk yang mengutamakan etika dan moral diatas segala.... Dan yang lebih menyejukan dan menentramkan bathin... penduduknya sangat suka bergotong royong.... berat sama dipikul ringan sama dijinjing... siang mencari nafkah.... malam beribadah mengagungkan Yang Kuasa...
Penduduk negeri di lintasan khatulistiwa itu sangat mudah dikenali.... bahkan oleh Laksanama Cheng Ho sekalipun... Rambut mereka hitam indah beraneka corak.... ada yang lurus, ada yang ikal, ada yang keriting..... Bola mata mereka hitam dengan sorot ramah, dengan lekukan alis dan lingkaran mata begitu khas penduduk lintasan khatulistiwa.... kekhasan yang bahkan mempesona pasukan Laksamana Cheng Ho.... kulit mereka pun tak satu tapi beraneka ragam, hitam, kecoklatan, agak terang....
Benarlah kata Yang Maha Kuasa dalam kitab suci-Nya...
"Kami ciptakan manusia berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal...."
Bangsa manapun akan sangat mudah mengenali penduduk pewaris negeri di lintasan khatulistiwa itu....
Suatu waktu.....
Negeri diintasan khatulistiwa kedatangan tamu tak diundang. Entah dari mana datangnya..... tahu-tahu sudah berlabuh di demaga..... Tamu itu sama dengan mereka, berkaki, bertangan, bermata, berjalan pula.....
Namun tamu itu agak asing nan mencolok..... rambut tamu itu merah, mata mereka biru, kulitnya putih, badannya besar......
Mereka bilang datang untuk berdagang. Ya, untuk berdagang....
Entah bagaimana awal mulanya.... dari sebagai pedagang yang sederjat, lama-lama mereka menguasai semua perdagangan.... mereka kuasai pelabuhan.... mereka kuasai mata rantai distribusi bahan perdagangan.... bahkan mereka sudah mulai berani memaksakan apa yang harus ditanam penduduk negeri khatulistiwa itu untuk diperdagangkan sang tamu....
Eh.........
Lama-lama mereka bentuk yang namanya VOC....
Habis sudah......
Semenjak itu segala sektor perekonomian dan perdagangan di negeri lintasan khatulistiwa itu dalam genggaman kuasa tamu tak diundang itu......
Penduduk negeri nan elok lagi kaya raya itu terjebak jadi budak, babu, kacung pelayan para tamu pendatang itu....
Eh........
Lama2 mereka datangkan Mersose berbedil.....
Pendatang itu sudah merasa jadi tuan di negeri khatulistiwa itu.... mereka merasa penduduk kelas satu..... merasa pemilik sah negeri khatulistiwa.... merasa berhak menyebut ekstrimis kepada penduduk negeri di lintasan khatulistiwa yang sudah turun peringkat jadi penduduk kelas tiga..... merasa berhak mendatangkan teman kongsi dari manapun dan diberi kedudukan sebagai penduduk kelas dua....
"Nglunjak" kata bahasa Jawa.... Dikasih hati minta rempelo..... Dikasih hati minta jantung.....
Tragis nian nasib penduduk negeri itu.... jadi babu pelayan untuk melayani kelas satu dan teman kongsinya yang telah ditetapkan sebagai penduduk kelas dua.... Jadi babu pelayan di rumah sendiri....
Timbul kesadaran penduduk negeri di lintasan khatulistiwa itu....
"Kita bukan penduduk kelas tiga, kita adalah pemilik sah negeri ini".
Tetapi..... Kesadaran dan gemanya TERLAMBAT disadari dan digemakan....
Penduduk kelas satu disokong penduduk kelas dua kompak dengan segala cara mempertahankan dominasinya....
Kongsi Si-kelas-satu dan Si-kelas-dua sudah terlanjur sangat kuat.....
Tiga ratus lima puluh tahun lamanya waktu, generasi datang dan pergi silih berganti, lamanya waktu penduduk sah di negeri khatulistiwa itu menjadi penduduk kelas tiga. Butuh waktu tiga setengah abad lamanya untuk mengusir tamu tak diundang itu..... Butuh jutaan nyawa dan lautan darah pejuang.... Sampai akhirnya Soekarno-Hatta mengucapkan: "PROKLAMASI".
Proklamasi seolah pernyataan kembali menjadi tuan di rumah sendiri, seolah penduduk itu sudah kembali sebagai penduduk nomor satu, pewaris sah negeri khatulistiwa itu....
Saat ini.....
Hampir 72 tahun berlalu semenjak Soekarno-Hatta mengucapkan "PROKLAMASI".
Timbul pertanyaan....
Benarkah penduduk negeri khatulistiwa itu sudah KEMBALI menjadi tuan di negerinya sendiri....?
Benarkan pewaris sah negeri di lintasan khatulistiwa itu sudah memiliki kembali tanah, air, dan udara layaknya seperti saat tamu tak diundang itu dulu belum datang....?
Benarkan penduduk negeri di lintasan khatulistiawa itu sudah kembali menjadi penduduk kelas satu yang menguasai dan mengendalikan ekonomi, perdagangan, dan politik rumahnya sendiri....?
Atau......
Mereka tetaplah masih penduduk kelas tiga....? Babu pelayan bagi tamu tak diundang itu....?
Negeri memang tak dikuasai lagi si mata biru, si rambut merah, si kulit putih....
Tapi.....
Benarkah negeri itu sudah kembali ke mereka si pemilik mata, rambut, dan kulit yang dulu dengan mudah dikenali Laksamana Cheng Ho....?
Benarkah negeri itu sudah kembali ke mereka si pemilik mata, rambut, dan kulit yang dulu mempesona pasukan Laksamana Cheng Ho....?
Atau.......
Jarum jam sejarah kembali berulang..... pergi si mata biru datang si mata tak biru, pergi si rambut merah, datang si rambut tak merah, pergi si kulit putih, datang si kulit tak putih....
Walau tak bermata biru, tak berambut merah, tak berkulit putih.... NAMUN KELAKUAN DAN PERANGAINYA bak pinang dibelah dua dengan si mata biru, si rambut merah, si kulit putih yang MENJAJAH NEGERI DI LINTASAN KHATULISTIWA ITU SELAMA TIGA SETENGAH ABAD....
Mereka juga memperbudak anak negeri khatulistiwa.... Mereka juga menjadikan babu pelayan anak negeri khatulistiwa.... Meraka jugabrampok dan kuasai seluruh kekayaan anak negeri khatulistiwa....
Mereka juga sudah MERASA PEMILIK NEGERI KHATULISTIWA....
Butuh berapa lama......? Butuh berapa generasi.....? Butuh berapa lautan darah pejuang.....? Sampai Soekarno-Hatta baru mengucapkan kata sakti mandraguna untuk mengembalikan hak dan martabat anak negeri khatulistiwa itu: "PROKLAMASI".
Dan penduduk negeri di khatulistiwa itu menyambut dengan pekikan penuh semangat.
MERDEKA !!!
[***]
Penulis adalah Sekjen Community for Press and Democracy Empowerment (PressCode).