Berita

Net

Politik

Pemerintah Masih Belum Berpihak Pada Nelayan

RABU, 05 APRIL 2017 | 17:50 WIB | LAPORAN:

Nelayan belum mendapatkan kado yang indah dalam peringatan Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada hari ini. Sebab, hingga kini nelayan Indonesia masih menghadapi berbagai masalah.

Ketua Bidang Pekerja Petani dan Nelayan (BPPN) DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Adang Sudrajat mengatakan, masalah utama nelayan Indonesia saat ini adalah regulasi yang tidak berpihak kepada nelayan kecil dan industri perikanan. Dia menilai, Undang-Undang 32/2014 tentang Kelautan dan UU 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan masih seperti kertas kosong yang tidak ada manfaatnya buat para nelayan.

"Apalagi sekarang lahir Permen 71/2016 yang menjerat nelayan-nelayan kecil. Pekerjaan rumah utama tentang stuck-nya industri perikanan dan penggantian alat tangkap cantrang membuat noktah hitam kinerja dan janji menyejahterakan nelayan," jelas Adang kepada wartawan di Jakarta, Rabu (5/4).                   


Sementara, program Poros Maritim baru sebatas slogan bagi nelayan sebagai pemilik poros maritim nasional. Ketidakjelasan Poros Maritim terjadi sampai level daerah, sehingga terkesan tidak ada terobosan apapun bagi kesejahteraan nelayan. Pemerintah yang gencar melakukan pemberantasan illegal fishing tidak memiliki efek serius kepada nelayan tradisional, bahkan merusak industri perikanan nasional.                        

"Rendahnya penguatan dan peningkatan kapasitas SDM (sumber daya manusia) nelayan kecil. Ini masalah klasik karena memang tidak jelasnya upaya bagi penguatan SDM nelayan," ujar Adang.    
                  
Untuk itu, pemerintah diminta dapat menghentikan dan mengeluarkan berbagai peraturan yang merugikan nelayan.

"Presiden harus melihat kondisi nelayan yang saat ini sedang sekarat karena kesejahteraan yang semakin sulit tercapai. Poros maritim untuk siapa, perjelas politik anggaran sampai level provinsi dan kabupaten yang berbasis wilayah kepulauan dan laut sebagai basis utama ekonomi kerakyatan," jelas Adang.
                    
Selain itu, pemerintah harus melihat kembali laut sebagai pusat pertumbuham ekonomi nasional, jangan sampai memunggungi laut. Sebagaimana janji kampanye Presiden Joko Widodo (Jokowi). [wah]                        

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Forum Lintas-Generasi Ketuk Pintu KWI Serukan Kebangkitan Moral Bangsa

Rabu, 15 April 2026 | 22:14

Gaduh Motor Listrik, Muncul Desakan Copot Kepala BGN

Rabu, 15 April 2026 | 21:53

BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah dalam 5 Dekade

Rabu, 15 April 2026 | 21:34

Dipimpin Ketum Peradi Profesional, Yuhelson Dikukuhkan Sebagai Guru Besar

Rabu, 15 April 2026 | 21:03

Terbongkar, Bisnis Whip Pink Ilegal Raup Omzet hingga Rp7,1 Miliar

Rabu, 15 April 2026 | 20:51

Pakar dan Praktisi Kupas Tata Kelola Intelijen di Tengah Geopolitik Global

Rabu, 15 April 2026 | 20:42

2,1 Juta Peserta BPJS PBI Kembali Aktif

Rabu, 15 April 2026 | 20:30

Revisi UU Pemilu Bukan Cuma Ambang Batas

Rabu, 15 April 2026 | 20:10

Sejarah Panjang Trem Jakarta dari Masa ke Masa

Rabu, 15 April 2026 | 20:05

Film The Legend of Aang: The Last Airbender Diduga Bocor di X Jelang Tayang Oktober 2026

Rabu, 15 April 2026 | 19:45

Selengkapnya