Berita

Publika

Inilah Sumber Petaka Negeri Ini

MINGGU, 12 FEBRUARI 2017 | 14:58 WIB

SAYA mencoba me-review perjalanan awal perlawanan terhadap Ahok yang paling hebat. Tuhan pun ia lawan.

Memaki, mengancam, gusur sana sini dengan seenaknya, tidak ada satupun mampu menghalangi.

Bermunculan elemen pergerakan Kobar, AMJU dan belakangan Indonesia Bergerak (IB) melakukan perlawanan terhadap arogansi Ahok. Kalau FPI sudah lama berhadap-hadapan. Sejak kampanye Pilgub DKI Jakarta sampai Jokowi dan Ahok terpilih dan dilantik menjabat menjadi gubernur dan wagub.


Memasuki Pilgub saat ini, secercah harapan figur Yusril Izha Mahendra (YIM) mampu menandingi Ahok. Dalam proses perjalanan Bang YIM batal maju.

Kesombongan Ahok ketemu batunya.  Menista Alquran ayat Al Maidah 51. Akhir perjalanannya. Umat Islam bereaksi keras. MUI mengeluarkan Fatwa 'Ahok penista agama'. Elemen Islam tergabung dalam GNPF MUI melakukan unjuk rasa menuntut durjana Ahok ditangkap dan dipenjarakan.

Dinamika politik sangat mencekam. Rezim begitu garang melindungi Ahok. Petinggi Polri di Polda memerintahkan jika anggota polisi tidak berani menembak demonstran bela Islam, pake rok saja.

Hati saya empot-empotan apakah aksi perdana bela Islam Ahok berhasil. Berapa estimasi massanya dan berapa lama stamina mereka bertahan. Oo oh ternyata tidak. Hilang segala keraguan saya.

Aksi pertama bela Islam 4/11, jutaan orang-orang beriman membanjiri Masjid Istiqlal dan mendatangi Bareskrim Mabes Polri. Satu saja tuntutannya Tangkap dan penjarakan Ahok! Disusul aksi damai bela Islam tanggal  24/11, semakin masif dan progresif, jutaan umat Islam mengepung Istana, serta berbagai dinamika selanjutnya mewarnai jagat politik tanah air.

Nah sejak aksi pertama Bela Islam sukses, saya berkeyakinan Ahok sudah tewas. Legitimasinya sudah tergerus. So pasti Ahok kalah di Pilkada dan dipenjara. Bahkan keyakinan saya sampai detik ini, nasib rezim Jokowi pun akan sama. Tamat selama-lamanya.

Secara jujur saya katakan bahwa sejak itu saya mulai menarik permainan bukan lagi pada sekedar fokus perlawanan terhadap Ahok, tetapi 'bahaya komunis China Raya dan kartel keturunan. Ini sumber petaka di negeri kita boz.[***]


Martimus Amin

Pengamat politik dan hukum The Indonesian Reform

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Forum Lintas-Generasi Ketuk Pintu KWI Serukan Kebangkitan Moral Bangsa

Rabu, 15 April 2026 | 22:14

Gaduh Motor Listrik, Muncul Desakan Copot Kepala BGN

Rabu, 15 April 2026 | 21:53

BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah dalam 5 Dekade

Rabu, 15 April 2026 | 21:34

Dipimpin Ketum Peradi Profesional, Yuhelson Dikukuhkan Sebagai Guru Besar

Rabu, 15 April 2026 | 21:03

Terbongkar, Bisnis Whip Pink Ilegal Raup Omzet hingga Rp7,1 Miliar

Rabu, 15 April 2026 | 20:51

Pakar dan Praktisi Kupas Tata Kelola Intelijen di Tengah Geopolitik Global

Rabu, 15 April 2026 | 20:42

2,1 Juta Peserta BPJS PBI Kembali Aktif

Rabu, 15 April 2026 | 20:30

Revisi UU Pemilu Bukan Cuma Ambang Batas

Rabu, 15 April 2026 | 20:10

Sejarah Panjang Trem Jakarta dari Masa ke Masa

Rabu, 15 April 2026 | 20:05

Film The Legend of Aang: The Last Airbender Diduga Bocor di X Jelang Tayang Oktober 2026

Rabu, 15 April 2026 | 19:45

Selengkapnya