Batik, merupakan industri kreatif khas Indonesia yang terbukti memberi nilai ekonomi yang besar bagi masyarakat. Di era pasar global, banyak negara lain mencoba mengambil ceruk industri ini di Indonesia. Di pasaran misalnya, ditemui batik printing produksi Cina.
Menteri Ketenagakerjaan, M Hanif Dhakiri menjelaskan, untuk menjaga batik Indonesia tetap unggul di pasar global, adalah dengan kreativitas.
"Kuncinya kreatifitas. Pengrajin batik harus terus inovatif menciptakan motif yang unik, yang susah ditiru,†ucapnya saat memberi sambutan pada penutupan Pekan Batik Nusantara di Pekalongan, tadi malam.
Hanif meminta pelaku industri batik agar meningkatkan edukasi kepada masyarakat bahwa pengertian batik adalah yang dibuat dengan tangan (batik tulis), dengan cap (batik cap) atau campuran tangan dan cap (batik kombinasi). Sementara yang dibuat dengan printing, seperti produksi Cina, sejatinya bukan batik, hanya menyerupai batik.
Menaker mengingatkan, persaingan industri saat ini bukan lagi modal financial semata, namun bergeser pada persaingan human capital (modal sumber daya manusia), melainkan persaingan ide dan kreativitas. Inilah kekuatan batik Indonesia yang menghadirkan karya yang unik.
"Orang di luar negeri, lanjutnya, hampir tak percaya ribuan orang dalam waktu yang sama, memakai batik tapi hamper tidak ada motifnya yang sama. Ini hebatnya batik Indonesia yang tak dimiliki Negara lain,†tegas politisi muda PKB ini.
Hal lain yang perlu ditingkatkan, lanjutnya, adalah penggunaan E-
commerce atau sistem penjualan online. Model penjualan online terbukti lebih mudah serta tak terbatas ruang dan waktu.
Industri batik mampu memberikan kontribusi pada perekonomian nasional. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, pada tahun 2015 terdapat 47.755 unit Industri Kecil Menengah (IKM) batik di seluruh Indonesia. Dari IKM yang ada mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 199.444 orang. Tahun ini jumlahnya terus berkembang.
[sam]