Berita

Remaja membawa bom di Irak/Reuters

Dunia

Kelompok Militan Semakin Tega Libatkan Anak Dan Remaja Dalam Bom Bunuh Diri

SELASA, 23 AGUSTUS 2016 | 11:02 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Aksi bom bunuh diri yang terjadi di sebuah pesta pernikahan di Turki akhir pekan kemarin memicu kekhawatiran baru. Pasalnya, pelaku bom bunuh diri tersebut adalah seorang remaja.

Jumlah aksi bom bunuh diri remaja dan anak-anak beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan di sejumlah wilayah konflik.

Tercatat sebelum bom bunuh diri Turki, seorang remaja berusia 16 tahun ditangkap di jalanan kota Kirkuk oleh polisi Irak. Saat digeledah paksa, anak tersebut tampat ketakutan dan ditemukan dua kilogram bom yang ditempelkan di tubuh kurusnya. Ia berhasil diamankan sebelum melakukan aksi bom bunuh diri.


Sementara itu di Afghanistan, kelompok militan Taliban diketahui telah cukup lama menggunakan anak-anak sebagai alat untuk melancarkan aksi teror, terutama bom bunuh diri.

Dalam salah satu kasus di tahun 2012, Taliban melibatkan anak berusia 14 tahun. Anak tersebut mengendarai sepeda untuk meledakkan diri di basis NATO di Kabul. Dalam kejadian tersebut, 6 orang tewas. Dua tahun kemudian, seorang anak melakukan aksi bom bunuh diri di pusat kebudayaan Perancis di ibukota Afghanistan. Lagi-lagi, Taliban berada di balik aksi tersebut.

Sejumlah pengamat menyebut bahwa saat ini, ISIS dan kelompok militan lainnya juga menggunakan taktik yang sama. Hal itu dilakukan untuk melestarikan militan dewasa dan membuat petugas atau masyarakat lengah.

Di Afrika Barat, Boko Haram telah menculik anak-anak pengungsi atau gadis-gadis muda dan memaksa mereka untuk menjadi pelaku bom.

Di Irak dan Suriah, aktivis mengatakan bahwa ISIS menculik anak-anak kemudian melakukan indoktrinasi di kamp-kamp dan sekolah khusus untuk menjadi generasi militan baru.

"Rekrutmen anak di sepanjang wilayah semakin meningkat," kata juru bicara UNICEF regional Juliette Touma.

"Anak-anak mengamil peran aktif lebih banyak, menerima pelatihan menggunakan senjata berat, maju di garda terdepan dan digunakan sebagai penembak khusus, dan dalam beberapa kasus ekstrim digunakan sebagai pelaku bom bunuh diri," sambungnya. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya