Berita

korban serangan di aleppo/net

Dunia

Serangan Pasca Idul Fitri Bukti Barat Tak Serius Perangi Terorisme Suriah

MINGGU, 10 JULI 2016 | 13:30 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Serangan yang terjadi di daerah pemukiman di Aleppo Suriah pasca Hari  Raya Idul Fitri kemarin di adalah bukti kemunafikan negara-negara yang mengaku akan berjuangan melawan terorisme di Suriah.

Begitu bunyi surat yang dikirimkan oleh Kementerian Luar Negeri Suriah kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Dewan Keamanan PBB akhir pekan ini.

Dalam surat tersebut, pemerintah Suriah juga menuduh sejumlah negara di kawasan yang dinilai justru mendukung terorisme.


"Dalam kelanjutan dari kebijakan penghancuran dan kebencian yang disponsori oleh negara dan rezim tertentu termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Turki, kelompok-kelompok teroris bersenjata yang didukung dan didanai oleh pihak eksternal terus menargetkan lingkungan perumahan di kota Aleppo dengan berbagai peledak dan roket, tanpa pertimbangan untuk kesucian liburan Idul Fitri dalam pelanggaran terang-terangan dari perjanjian gencatan senjata dan penghentian permusuhan," begitu isi surat tersebut seperti dikabarkan Press TV.

Diketahui bahwa serangan terjadi dalam gencatan senjata unilateral selama 72 jam yang dinyatakan oleh tentara Suriah pada kesempatan Idul Fitri. Serangan tersebut terjadi pada Jumat (8/7), dan menewaskan setidaknya 30 warga sipil.

Dalam surat itu juga disebutkan bahwa dalam rangka untuk melanjutkan dukungan mereka untuk para militan dan oposisi yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah Suriah, pemerintah Barat dan sekutu regional mereka telah mengklasifikasikan sejumlah kelompok militan di Suriah sebagai "moderat".

Pemerintah Suriah menekankan bahwa oposisi yang disebut moderat oleh pihak barat justru menunjukkan adanya kemunafikan negara-negara Barat yang mengaku akan memerangi terorisme di Suriah.

Hal tersebut, masih dalam surat yang sama, adalah bukti dari kurangnya keseriusan negara-negara seperti Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat dalam memerangi terorisme. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya