Berita

Yusril Ihza Mahendra/net

Yusril Ajak Negara-negara Rumpun Melayu Kompak

JUMAT, 20 MEI 2016 | 03:42 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Cendekiawan muslim dari Indonesia Yusril Ihza Mahendra mengajak negara-negara dalam rumpun Melayu atau ASEAN untuk bersatu menghadapi kekuatan kapitalisme global.

Ajakan itu disampaikan Yusril saat berpidato dalam acara Rapat Alumni Nusantara di Universitas Islam International Malaysia, Selangor Darul Ehsan, Malaysia, Kamis (19/5).

Menurut Yusril, kemajuan yang luar biasa di bidang pengetahuan dan teknologi saat ini telah membawa dampak perubahan yang amat besar dalam budaya, sosial, ekonomi dan politik. Dalam menghadapi tantangan global tersebut, negara-negarta ASEAN atau rumpun Melayu harus kompak dan meningkatkan kerjasamanya.


"ASEAN harus memperkuat dirinya dalam menangani isu-isu bersama, seperti klaim China atas Laut China Selatan dan konflik di Spartley yang memerlukan perhatian dan penanganan serius," ujar Yusril dalam keterangan resminya.

Rapat Alumni Nusantara di Universiti Islam Antarbangsa Malaysia ini dibuka oleh Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi dan dihadiri para alumni, 2000 undangan lainnya dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam, Thailand, dan Filipina. Hadir juga duta besar RI untuk Malaysia.

Yusril juga mengingatkan agar Malaysia segera mempercepat menyelesaikan rmasalah perbatasan dengan negara-negara tetangga supaya tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan kepentingan bersama. Dalam hal ini, lanjut Yusril, Indonesia juga harus mengambil inisiatif dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di negara-negara Asia Tenggara agar tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan kepentingan bersama.

"Indonesia dan Malaysia, khususnya, harus mengeratkan kerjasama itu dibandingkan dengan negara-negara rumpun Melayu atau Asia Tenggara lainnya. Saya menyadari adanya ketegangan hubungan antarsesama tokoh Melayu dalam politik Indonesia dan Malaysia sekarang, dan hal ini berpotensi melemahkan kekuatan politik Melayu di negara masing-masing," papar Yusril yang juga pakar hukum tata negara.

Dalam pengamatan Yusril, hubungan erat sesama rumpun Melayu, khususnya antara Indonesia dengan Malaysia dalam dua dekade terakhir sengaja direnggangkan oleh kekuatan-kekuatan rumpun bangsa lain. Yusril melihat ada kekuatan yang yang tidak senang jika Indonesia dan Malaysia bekerjasama dengan erat karena keeratan kerjasama RI-Malaysia dianggap berpotensi mengganggu kepentingan ekonomi dan politik mereka. Karena itu seringkali timbul ketegangan hubungan antara masyarakat Indonesia dengan Malaysia akibat hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Misalnya isu "pengambilalihan" aneka produk nasional yang seolah-olah "dipatenkan" oleh pihak Malaysia.

"Saya berharap Indonesia dan Malaysia bersikap lebih sensitive terhadap isu-isu seperti ini, yang jika tidak dicegah akan berpotensi bisa berpotensi merenggangkan hubungan bilateral kedua negara," ucap Yusril yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang.

Pada bagian lain pidatonya, Yusril berpendapat agar Indonesia dan Malaysia menyadari pentingnya menciptakan stabilitas politik dan adanya pemerintahan yang kuat, yang di dalam kebijakan ekonominya memihak kepada rakyat kecil untuk mendorong kemajuan dan kemandirian ekonomi mereka. Terkait diberlakukannya perdagangan bebas negara-negara ASEAN, Yusril berharap agar RI dan Malaysia tidak saling berpaling dalam memanfaatkan perdagangan bebas ini dengan saling mendukung untuk kemajuan bersama.

Yusril yang merupakan doktor Politic Science University Sains Malaysia ini merasa optimis negara-negara rumpun Melayu, dapat membangun kerjasama guna mencapai kemajuan mengingat negara-negara tersebut memiliki akar bahasa yang sama, yaitu Bahasa Melayu.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi dalam sambutannya mengatakan orang-orang Melayu di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara memiliki kualitas sumber daya manusia yang tinggi berkat pendidikan yang mereka peroleh. Ahmad Zahid menyebut Yusril Ihza Mahendra sebagai salah satu tokoh Melayu yang pemikirannya tidak saja menjadi perhatian kalangan Melayu tetapi juga internasional.

"Karena itu kita harus bangga sebagai orang Melayu," ucap Ahmad Zahid. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Forum Lintas-Generasi Ketuk Pintu KWI Serukan Kebangkitan Moral Bangsa

Rabu, 15 April 2026 | 22:14

Gaduh Motor Listrik, Muncul Desakan Copot Kepala BGN

Rabu, 15 April 2026 | 21:53

BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah dalam 5 Dekade

Rabu, 15 April 2026 | 21:34

Dipimpin Ketum Peradi Profesional, Yuhelson Dikukuhkan Sebagai Guru Besar

Rabu, 15 April 2026 | 21:03

Terbongkar, Bisnis Whip Pink Ilegal Raup Omzet hingga Rp7,1 Miliar

Rabu, 15 April 2026 | 20:51

Pakar dan Praktisi Kupas Tata Kelola Intelijen di Tengah Geopolitik Global

Rabu, 15 April 2026 | 20:42

2,1 Juta Peserta BPJS PBI Kembali Aktif

Rabu, 15 April 2026 | 20:30

Revisi UU Pemilu Bukan Cuma Ambang Batas

Rabu, 15 April 2026 | 20:10

Sejarah Panjang Trem Jakarta dari Masa ke Masa

Rabu, 15 April 2026 | 20:05

Film The Legend of Aang: The Last Airbender Diduga Bocor di X Jelang Tayang Oktober 2026

Rabu, 15 April 2026 | 19:45

Selengkapnya