Berita

ilustrasi/net

Dunia

Latihan Militer Gabungan Korsel-AS, Ganjalan Utama Perdamaian Semenanjung

KAMIS, 17 MARET 2016 | 12:32 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Korea Utara kerap disudutkan atas tensi yang kembali memanas di Semenanjung Korea saat ini. Negara tetangga seperti Korea Selatan, Jepang, China dan bahkan hingga negeri Paman Sam menuding bahwa Korea Utara memantik potensi perang nuklir dengan uji coba bom hidrogen yang dilakukannya Januari lalu dan peluncuran satelit observasi bumi Februari kemarin.

Akibatnya, dengan diinisiasi China dan Amerika Serikat, sanksi baru pun dijatuhkan oleh Dewan Keamanan PBB bagi Korea Utara. Tak mau ketinggalan, Korea Selatan juga ikut-ikutan menerapkan sanksi sepihak baru lainnya untuk negara serumpunnya itu.

Tak lama setelah sanksi PBB dijatuhkan, situasi di Semenanjung Korea diperburuk dengan digelarnya latihan militer gabungan yang dilakukan antara Korea Selatan bersama dengan Amerika Serikat. Latihan gabungan yang disebut dengan "Key Resolve, Foal Eagle 16" tersebut merupakan yang terbesar yang pernah dilakukan oleh kedua negara.


Latihan gabungan yang dimulai awal Maret ini hingga 2 bulan lamanya itu, melibatkan bukan hanya 17 ribu pasukan Amerika Serikat dan 300.000 pasukan Korea Selatan, tapi juga sederat armada tempur canggih. Termasuk di dalam armada tempur canggih yang dilibatkan dalam latihan militer gabungan itu adala termasuk kapal induk bertenaga nuklir John C. Stennis, pembom strategis B-52 dan B-2, jet tempur siluman F-22, F-15K dan KF-16.

Alih-alih meredam ketegangan, latihan gabungan Korea Selatan-Amerika Serikat itu justru semakin menodorong situasi di Semenanjung Korea ke jurang perang nuklir.

Begitu kata Jon Min Dok, Direktur Institute for Disarmament and Peace Korea Utara dalam tulisannya awal pekan ini (Senin, 14/3). Ia menggarisbawahi sejumlah isu kunci dalam ketegangan di Semenanjung Korea yang tak juga usai sejak beberapa dekade lalu.

Ia menekankan bahwa alasan utama mengapa perdamaian tidak juga tercipta di Semenanjung Korea Pasca Perang Korea usai tahun 1953 lalu adalah karena Korea Selatan dan Amerika Serikat kerap melakukan latihan perang militer gabungan rutin setiap tahunnya.

"Dalam 70 tahun terakhir sejak pendudukan Korea Selatan, Amerika Serikat telah menggelar setiap tahunnya semua jenis latihan perang agresif di selatan dan sekitarnya terhadap Korea Utara. Sehingga mendorong situasi di Semenanjung Korea dan sekitarnya ke ambang perang," tulis Jon.

Kata Jon, latihan militer bersama tersebut justru menjadi faktor penghambat perbaikan hubungan antar-Korea serta penjegal utama upaya reunifikasi dua Korea. Pasalnya, latihan militer yang dilakukan setiap tahunnya itu bersifat agresif dan cenderung mengancam serta memprovokasi Korea Utara. Maka tak heran bila Korea Utara bersiaga dengan membangun perangkat pertahanan diri.

Pertahanan diri yang dibangun oleh Korea Utara, baik dengan perangkat militer, rudal serta senjata nuklir lainnya merupakan bentuk yang lumrah. Karena pertahanan diri merupakan sebuah sikap alami yang akan dilakukan negara bila berada di bawah ancaman atau tekanan.

"Bisa disebut bahwa isu nuklir di Semenanjung Korea tak lain disebabkan oleh provokasi perang nuklid yang digaungkan oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan," sambungnya.

Oleh karena itu, Jon menyimpulkan bahwa perdamaian di Semenjung akan bisa diciptakan bila Korea Selatan dan Amerika Serikat mulai menangguhkan latihan militer gabungan di Semenanjung Korea.

"Korea Utara tidak memiliki niat sama sekali untuk ikut campur dalam latihan perang Amerika Serikat jika mereka benar-benar bersifat defensif dan tidak menimbulkan ancaman bagi Korea Utara serta dilakukan di wilayah Amerika Serikat atau di tengah samudera Pasifik," demikian Jon. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya