Berita

ban ki-moon/net

Dunia

Ban Ki-moon Akui Pernyataan Soal Sahara Pendapat Pribadi

RABU, 16 MARET 2016 | 08:22 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ban Ki-moon yang dalam waktu tidak lama lagi akan meninggalkan kursi Sekretaris Jenderal PBB tidak dapat menutupi kemarahan dan kekecewaannya atas protes yang dilancarkan pemerintah dan rakyat Maroko pada dirinya.

Beberapa waktu lalu, saat mengunjungi Aljazair, diplomat senior Korea Selatan itu mengatakan bahwa Sahara Barat dalam occupation atau pendudukan Maroko, dan meminta agar segera dilaksanakan referandum di kawasan yang dipersengketakan sejak 1970an itu.

Pernyataan Ban Ki-moon tersebut bertentangan dengan semangat pembicaraan damai di PBB yang kembali dimulai sejak 2007 hingga hari ini.


Kemarahan dan kekecewaan Ban Ki-moon disampaikan dalam pertemuan dengan Perwakilan Tetap Maroko di PBB, Salaheddine Mezouar, di New York, Senin kemarin (14/3), sehari setelah tidak kurang dari tiga juta rakyat Maroko menggelar demonstrasi mengecam dirinya di Rabat.

Menurut pernyataan yang disampaikan kantor Ban Ki-moon setelah pertemuan, dalam pertemuan itu dirinya menyampaikan kekecewaab mendalam dan kemarahan terhadap demonstrasi besar di Maroko yang menurutnya menjadikan dirinya secara personal sebagai target.

Tetapi di sisi lain, Ban Ki-moon mengakui bahwa istilah occupation yang digunakannya ketika berkunjung ke Aljazair merupakan refleksi dirinya pribadi pada persoalan kemanusiaan yang terjadi di kamp Tindouf, Aljazair, dimana sebagian penghuninya adalah pengungsi dari Sahara.

Ban Ki-moon menegaskan, dalam setiap pertemuan dengan berbagai pihak dalam rangkaian kunjungan ke Aljazair itu, dirinya mendorong agar para pihak yang bersengketa mencapai solusi politik yang adil dan dapat diterima bersama.

Pekan lalu, pemerintah Maroko mengeluarkan kecaman terhadap Ban Ki-moon dan mengatakan bahwa Ban Ki-moon menciderai mandat Dewan Keamanan PBB.

Ban Ki-moon menjadi Sekjen PBB pertama yang menggunakan istilah occupation. Sementara tidak satupun Resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai sengketa ini sejak 1980 yang menggunakan istilah itu. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya