Berita

ilustrasi/net

Dunia

8 Fakta Tentang Hari Perempuan Internasional

SELASA, 08 MARET 2016 | 12:55 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Hari ini (Selasa, 8/3), perempuan di seluruh dunia memperingati Hari Perempuan Internasional.

Peringatan tahunan ini digelar untuk menyambut keberhasilan serta prestasi kaum perempuan dalam sejumlah bidang, baik ekonomi, politik mapun sosial.

Namun apa sebenarnya makna dan sejarah Hari Perempuan Internasional itu sendiri? Mengapa begitu penting untuk dirayakan secara internasional?


Berikut 8 fakta yang perlu diketahui mengenai Hari Perempuan Internasional:

1. Tidak diketahui dengan pasti kapan sebenarnya Hari Perempuan Internasional dimulai. Namun jejaknya bisa ditarik ke tahun 1908, di mana 15 ribu perempuan melakukan aksi unjuk rasa di New York City menuntut sejumlah hak seperti hak untuk memilih, mendapatkan pendapatan lebih baik serta pemotongan jam kerja.

Selang setahun kemudian, Hari Perempuan Nasional pertama dilakukan di Amerika Serikat. Namun pada saat itu dilakukan pada tanggal 28 Februari, sesuai dengan deklarasi yang dilakukan oleh Partai Sosialis Amerika.

2. Setahun setelah Hari Perempuan Nasional pertama digelar, tepatnya tahun 1910, di Konferensi Internasional atas Pekerja Wanita di Copenhagen, seorang pemimpin kantor perempuan untuk Partai Sosial Demokrat di Jerman  bernama Clara Zetkin mengusulkan gagasan Hari Perempuan Internasional untuk dirayakan serentak di seluruh dunia setiap tahunnya. Tujuannya adalah untuk menyatukan suara terkait tuntutan hak perempuan.

Konferensi yang dihadiri sekitar 100 perempuan dari 17 negara sepakat dengan gagasan itu dan membentuk Hari Perempuan Internasional.

3. Pada tahun 1911, menindaklanjuti putusan konferensi di Copenhagen, Hari Perempuan Internasional pun secara resmi digelar pada tanggal 19 Maret. Pada saat itu hanya Austria, Denmark, Jerman dan Swiss yang merayakan. Lebih dari satu juta perempuan menghadiri unjuk rasa menuntut hak-hak perempuan untuk bekerja, suara, dilatih, untuk memegang jabatan publik dan tuntutan untuk mengakhiri diskriminasi.

4. Tahun 1913, diputuskan bahwa Hari Perempuan Internasional dipindahkan ke tanggal 8 Maret. Sejak saat itu, perayaan tersebut menjadi rutin dilakukan setiap tahunnya, dan jumlah negara yang berpartisipasi semakin meningkat.

5. Tahun 1975, PBB secara resmi mengakui Hari PErempuan Internasional dan ikut mengkampanyekannya. Setiap tahun, Hari Perempuan Internasional dilakukan dengan tema yang berbeda-beda.

6. Alasan mengapa Hari Perempuan Internasional masih dilakukan hingga saat ini adalah karena belum sepenuhnya kesetaraan gender terjadi merata di dunia. Masih ada sejumlah kesenjangan, baik dari segi pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial serta politik pada perempuan di seluruh dunia.

Pada Hari Perempuan Internasional, seluruh perempuan di dunia bergabung menyatukan suara soal kesenjangan yang dialami. Di sisi lain, pada perayaan yang sama juga para perempuan mengapresiasi prestasi dan capaian yang diraih perempuan dalam sejumlah bidang.

7. Tema perayaan Hari Perempuan Internasional tahun ini adalah "Planet 50-50 by 2030: Step It Up for Gender Equality". Ide di balik tema tersebut adalah untuk mempercepat Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 yang secara resmi diadopsi oleh para pemimpin dunia pada pertemuan puncak PBB 2015. Hal tersebut berfokus pada pengurangan kemiskinan, kelaparan dan kesetaraan gender.

8. Setiap negara saat ini merayakan Hari Perempuan Internasional dengan cara yang berbeda. Sejumlah negara bahkan menjadikan Hari Perempuan Internasional sebagai hari libur resmi.

Di antara negara-negara tersebut adalah: Afghanistan, Armenia, Azerbaijan, Belarus, Burkina Faso, Kamboja, China (hanya untuk perempuan), Kuba, Georgia, Guinea-Bissau, Eritrea, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Madagascar (hanya untuk perempuan), Moldova, Mongolia, Montenegro, Nepal, Russia, Tajikistan, Turkmenistan, Uganda, Ukraine, Uzbekistan, Vietnam dan Zambia. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya