Berita

Jokowi Belum Terlambat Bila Mau Tempatkan Rizal Ramli Atasi Masalah Ekonomi

KAMIS, 01 OKTOBER 2015 | 11:01 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Saat wacana reshufle mencuat sejak Juli lalu, ada dua nama yang diwacanakan masuk kabinet. Kedua nama itu adalah Rizal Ramli dan Darmin Nasution.

Kini, keduanya pun menjadi menteri koordinator. Rizal Ramli menjadi Menteri Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya, sementara Darmin Nasution menjadi Menteri Koordiantor Perekenomian.

Dua bulan berlalu, kedua sosok ini menjadi perhatian banyak orang, termasuk Direktur Aufklarung Center, Dahroni Agung Prasetyo. Agung membandingkan.


Rizal Ramli bergerak cepat, dan membuat banyak gebrakan sehingga menjadikan pemerintahan sangat dinamis. Rizal Ramli pun berani membuka borok lama, dan sekaligus menawarkan solusi alternatif untuk mengtasi borok tersebut.

Di saat yang sama, Darmin Nasution seakan tak berdaya. Darmin seakan-akan tak berbuat apa-apa di tengah kondisi ekonomi yang kian parah. Rupiah kian terpuruk, sementara pemutusan hubungan kerja (PHK) kian melanda.

"Bila Jokowi menyadari, seharusnya menempatkan Rizal Ramli di posisi Menko Ekonomi. Itu lebih tepat. Selain memahami masalah dengan baik, Rizal juga berani mengambil gebrakan di tengah krisis dan gejolak. Kini, belum terlambat untuk mengubah posisi kabinet," ungkap Agung kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Kamis, 1/10).

Hal tak kalah penting, Agung mengingatkan, Darmin Nasution memiliki kredibilitias yang sangat diragukan. Saat menjadi Dirjen Pajak, Darmin Nasution adalah orang yang tanda tangan Surat Keputusan Keberatan PT. Surya Alam Tunggal (PT.SAT) terkait kasus Mafia Pajak Gayus Tambunan. Darmin juga pernah diperiksa KPK sebagai saksi terkait penyidikan dugaan korupsi dalam penerimaan keberatan pajak PT Bank Central Asia.

"Wajar bila pasar tak merespons positif sosok Darmin, hingga susah untuk selamatkan ekonomi," demikian Agung. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Polri Didesak Usut Donatur Penyebar Hoaks Kerusuhan Agustus

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:47

Zelensky Klaim 50 Ribu Tentara Korut Sedang Dalam Perjalanan ke Rusia

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:24

Ekonomi Indonesia Mustahil Saingi Vietnam jika Abaikan Sektor Luar Negeri

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:23

Rezim Hubungan Industrial Maritim Indonesia Belum Terintegrasi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:14

KPK Kuliti Ahmad Dedi Usut Dugaan Pengaturan Jalur Merah-Hijau Impor Blueray

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:51

Iran Waspadai Pakta Pertahanan Mekkah Bentukan Turki, Saudi, dan Pakistan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:29

Kejari Tanjung Perak Bantah Isu Pemerasan 6 Eks Pejabat Pelindo dan APBS

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:36

Penguatan Kopdes Merah Putih Kunci Kemandirian Ekonomi Papua

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:08

Turki Tegaskan Pakta Pertahanan Mekkah Dibentuk Bukan untuk Hadapi Iran

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:53

Usai Putusan MK, Siaga 98 Dorong Penataan BGN Lewat Perpres Baru

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:36

Selengkapnya