Berita

Politik

Frans Agung: Surat Edaran KPU Melanggar Konvensi Internasional

SELASA, 30 JUNI 2015 | 17:24 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sesuai dengan pembagian yang sudah diatur dalam UU 8/2015, tahun ini akan ada 269 daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang melaksanakan Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Masalahnya, Pilkada Serentak yang dijadwalkan 9 Desember 2015 itu masih menyisakan sejumlah persoalan, salah satunya kelemahan regulasi.

"Seperti yang saya pernah utarakan sebelumnya bahwa UU 8/2015 yang merupakan perubahan UU 1/2015 masih menyisakan sejumlah persoalan norma. Misal, ada ketentuan yang lahir di luar proses di DPR, mandulnya penegakan hukum karena tidak ada sanksi pidana bagi pelaku politik uang dan jual beli dukungan atau mahar partai politik," kata anggota Komisi II DPR RI, Frans Agung MP Natamenggala, dalam siaran persnya (Selasa, 30/6).


Karena tidak ada sanksi pidana bagi politik uang dan mahar politik maka sanksi administrasinya pun tidak dapat ditegakkan, karena harus ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap sebelum dilakukan pembatalan. Padahal, materil sanksi pidana menjadi dasar pengadilan menjatuhkan putusan.

Selain itu, lanjut Frans, keberadaan surat Edaran KPU 302 juga meresahkan karena dengan Surat Edaran tersebut seolah-olah petahana yang mundur sebelum pendaftaran dapat mengajukan keluarganya untuk berkompetisi. KPU perlu menyadari bahwa Surat Edaran tidak boleh mengatur dan memperluas makna serta mengatur hal yang bertentangan dengan UU.

Frans berpendapat, merupakan takdir Tuhan bila seorang anak lahir dari orang yang kemudian menjabat Gubernur. Karenanya, hak orang tersebut untuk maju dalam Pilkada pun tidak boleh didiskriminasi.

"Saya kira seharusnya KPU bersabar karena ketentuan terkait petahana sedang diuji di MK. Norma larangan konflik kepentingan dengan petahana di dalam syarat calon bertentangan dengan Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik, dan Indonesia salah satu negara peratifikasinya. Rumusan norma seharusnya melarang penyalahgunaan jabatan, bukan melarang hak konstitusional," terang politisi Partai Hanura ini.

Dia mengkritik KPU yang kerap mengeluarkan Surat Edaran. Padahal karena Surat Edaran pula Kebijakan KPU diuji di DKPP ketika Pileg dan Pilpres tahun lalu. Contoh kasus, terkait pembukaan kotak suara dalam menyiapkan dokumen di Mahkamah Konstitusi ketika PHPU Presiden tahun 2014. Selain itu, menurut dia seharusnya KPU lebih berhati-hati di tengah sorotan publik terkait temuan Audit BPK yang menyebut ada dugaan penyelewengan anggaran negara.

"UU 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu jelas menyatakan bahwa pengaturan terkait penyelenggaraan pemilu harus diatur dalam Peraturan KPU. Sangat diharamkan pengaturan penyelenggaraan pemilu diatur di dalam Surat Edaran. KPU harus taat hukum, dimana pengaturan penyelenggaraan Pemilu harus diatur di dalam Peraturan KPU," terangnya. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya