Berita

Said Didu/net

Said Didu Dorong Konsolidasi Mandiri dan BNI

SELASA, 03 FEBRUARI 2015 | 10:19 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Indonesia dinilai membutuhkan bank berkapasitas besar untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan konsolidasi Bank Mandiri dengan BNI.

Salah satu yang mendukung merger antara Mandiri dan BNI adalah mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu. Alasannya karena industri perbankan dewasa ini harus bermodal kuat.

"Saya pikir untuk membikin bank dengan kapasitas besar itu harus dilakukan konsolidasi. Jangan sampai pembiayaan untuk infrastruktur diambil bank-bank asing. Harus bank lokal," tegas Said Didu dalam pernyataan pers, Selasa (3/2).


Guna memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur tersebut, Said Didu menuturkan, Bank Mandiri harus dapat modal kuat. Caranya dengan konsolidasi. Pada tahap pertama, Bank Mandiri dan BNI harus dibentuk holding (perusahaan induk) terlebih dahulu dengan Bank Mandiri sebagai induknya. Setelah itu baru Bank Mandiri melakukan akuisisi terhadap BNI.

"Kalau sudah holding Bank Mandiri dengan BNI, kemudian akuisisi maka modalnya menjadi kuat," kata Said Didu.  

Selain konsolidasi bank BUMN, Said Didu menjelaskan, secara bersamaan pemerintah dan DPR RI juga harus memperketat ekspansi bank-bank asing sama seperti yang telah dilakukan negara-negara lain.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Eddy Susetyo, menilai Indonesia sangat membutuhkan bank besar berskala regional, dengan modal seperti Maybank yang telah mencapai Rp 500 triliun.

Pasalnya, hanya bank-bank yang masuk kategori Qualified Asean Bank (QAB) yang akan dibebaskan untuk ekspansi ke negara-negara ASEAN. Jika Indonesia tidak memiliki wakil bank yang masuk QAB, industri perbankan nasional akan diserbu bank-bank dari Malaysia dan Singapura.

Untuk itu, Andreas menilai, selain pemberian penyertaan modal negara untuk Bank Mandiri, pemerintah juga perlu mewujudkan konsolidasi antar-bank BUMN, agar Indonesia bisa memiliki bank berskala besar yang ukurannya mendekati Maybank.

Andreas menegaskan, konsolidasi antar-bank BUMN wajib dilakukan, meski tidak mudah. Memang, penambahan modal adalah cara yang paling cepat. Tapi kurang tepat dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Karena itu dibutuhkan  konsolidasi bank BUMN.

Senada juga dikatakan anggota DPR, Ecky Muharram, dari Fraksi PKS. Menurut dia Indonesia harus mempunyai bank BUMN yang kuat sekali. Artinya, tidak cukup dengan menyuntik modal, tetapi juga harus ada beberapa mapping pangsa pasar. [rus]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya