Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengajak seluruh masyarakat untuk menolak penyebaran paham dan berdirinya kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Kiai Said pun memaparkan empat sikap PBNU terkait pergerakan ISIS. Pertama, kemunculan ISIS secara nyata sudah menimbulkan fitnah yang memperkeruh kehidupan umat Islam serta hubungan antar umat beragama di Indonesia.
"Karena kelompok ini bukan hanya memperjuangkan gagasan politik negara/khilafah Islamiyah, tetapi memperjuangkan paham yang tidak sesuai dengan paham Islam ahlussunnah wal jamaah," kata Kiai Said saat konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (8/8)
Kedua, lanjut Kiai Said, NU berpegang teguh pada keyakinan bahwa Islam yang menjunjung tinggi kedamaian dan bukan agama kekerasan. Karena itu Islam jelas tidak mentolerir kekerasan. Islam merupakan agama yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan menjunjung kasih sayang.
"Sifat dasar Islam tersebut nyata-nyata bertolak belakang dengan cara-cara yang dilakukan ISIS, yang melakukan kekerasan sampai membunuh ulama yang tidak sejalan dengan ISIS," tutur Kiai Said.
Ketiga, berkaitan dengan gagasan mendirikan daulah Islamiyah, di mana Nabi Muhammad tidak pernah memproklamirkan berdirinya negara Islam atau negara agama. Nabi hanya berjuang untuk menguatkan sistem negara Madinah yang berkeadaban. Platformnya adalah tamaddun, bukan agama baik Islam atau non Islam dan juga bukan suku.
Menurut Kiai Said, penduduk Madinah juga ada yang muslim maupun non muslim. Begitu juga kalangan suku Arab juga non Arab. Hal ini memperjelas di tengah negara masyarakat Madinah yang majemuk, Rasulullah membuat konstitusi yang sekarang dipandang bersifat modern. Di dalamnya memuat kesepakatan yang dikenal dengan Piagam Madinah (Shahifah al Madinah) pada 622 Masehi. Seluruh penduduk yang ada sama di muka hukum, aturan serta hak dan kewajibannya, meski mereka berbeda-beda dalam hal keyakinan, agama, suku, dan berbeda rasanya.
"Artinya umat Islam sesuai dengan tidak wajib mendirikan negara secara formal Islam seperti yang diperjuangkan kelompok ISIS ini. Bagi NU, NKRI berdasarkan Pancasila sudah sesuai dengan negara berdasarkan Piagam Madinah," tegasnya.
Terakhir, kata Kiai Said, ISIS sudah ditolak oleh semua ulama Internasional. Salah satunya Syech Yusuf al-Qardhawi dan Syech Wahbah Zuhaili sehingga patut dipertanyakan kemunculan ISIS ketika Israel menggempur Gaza, yang nyatanya telah memecah perhatian umat Islam terhadap perjuangan dan pembelaaan terhadap rakyat Palestina.
"PBNU mengajak warga NU dan seluruh masyarakat Indonesia harus menolak, berangus dan habiskan gerakan ISIS. Gerakan yang jelas membahayakan keselamatan bangsa dan mengancam keutuhan NKRI,"demikian Kiai Said.
[wid]