Berita

ist

6 TAHUN SKANDAL LAPINDO

Ingatkan Lapindo dan Negara, Warga Korban Gelar Ruwatan Lumpur

SELASA, 29 MEI 2012 | 22:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Hari ini persis 6 tahun lumpur panas menyembur dari sumur gas PT Lapindo Brantas milik Grup Bakrie. Selama itu pula, kehidupan sosial, ekonomi, lingkungan dan budaya warga korban hancur dan belum terpulihkan.

Untuk mengingatkan kembali tanggung jawab Lapindo dan negara, korban Lapindo menggelar "Ruwatan Lumpur" di atas tanggul sisi Desa Siring, Porong. Prosesi ruwatan dilakukan oleh ratusan anak dari Sanggar Al-Faz Desa Besuki Timur, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, dan Korban Lapindo Menggugat (KLM). Mereka berkolaborasi dengan beberapa komunitas dari berbagai daerah, yakni Sanggar Sahabat Anak Malang, Sanggar Merah Merdeka Surabaya, Komunitas Sang Badol Pare, dan berbagai elemen mahasiswa dari Surabaya.

Prosesi ini memperlihatkan betapa Lapindo maupun Pemerintah tak menghiraukan dampak lumpur Lapindo yang tidak hanya hilangnya tanah dan rumah, melainkan juga lenyapnya mata pencaharian, rusaknya kesehatan lingkungan, dan terabaikannya pendidikan anak-anak korban.


"Mereka punya mata tapi tak bisa melihat, punya telinga tapi tak mau mendengar, dan punya otak tapi isinya soal bisnis semua," ujar Irsyad, pengasuh Sanggar AlFaz, menyinggung Lapindo yang lepas tanggung jawab dan negara yang tak tegas dalam rilisnya yang diterima redaksi (Selasa, 29/5).

Bagi Irsyad, berlarut-larutnya pemulihan kehidupan korban Lapindo merupakan wujud adanya skandal antara perusahaan dan pemerintah. Grup Bakrie pemilik PT Lapindo Brantas tak segan-segan mengingkari janji dan lepas tanggung jawab. Sementara, pemerintah tak tegas karena takut terhadap perusahaan.

"Skandal ini harus dihentikan demi menyelamatkan warga, terutama anak-anak seperti ini," imbuh Irsyad.

Dalam ruwatan itu sebagaimana dituturkan Irsyad, anak-anak korban Lapindo membentangkan spanduk bertuliskan "Skandal Lumpur Lapindo Harus Dibongkar" sembari menyanyikan lagu "Hukum Rimba”. Dengan serentak dan antusias, anak-anak melantunkan lirik "Maling-maling kecil dihakimi, Maling-maling besar dilindungi."

Sementara Direktur Walhi Jatim, B Catur Nusantara, menuturkan ruwatan ini merupakan peringatan buat negara maupun pengusaha. Lambatnya penanganan kasus lumpur Lapindo merupakan skandal yang harus dibongkar agar proses pemulihan kehidupan korban Lapindo dapat segera dilakukan.  

"Sangat terlihat negara gagap dalam menghadapi situasi yang ada. Tidak ada kemauan negara untuk memaksa Lapindo segera melaksanakan tanggungjawabnya kepada korban Lapindo," katanya.

Parahnya, lanjut Catur, kecerobohan pengusaha yang didiamkan negara itu masih terus terjadi, terbukti dengan tetap diijinkannya Lapindo melakukan pengeboran lagi di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan semburan lumpur saat ini.

Acara yang didukung berbagai elemen, yaitu Posko Keselamatan Korban Lumpur Lapindo (Posko KKLula), Walhi Jawa Timur, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Perkumpulan Media Lintas Komunitas (MediaLink), dan Solidaritas Darurat Nasional (SDN) Jatim ini juga diselingi peluncuran buku "Lumpur Makin Menggila". Buku ini merupakan kumpulan puisi anak-anak korban Lapindo. Peluncuran buku tersebut ditandai dengan menerbangkan balon kertas ke udara.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Langkah Prabowo Masukkan Budaya LGBTQ Ancaman Nonmiliter Patut Didukung

Minggu, 05 Juli 2026 | 08:18

Kenduri Cinta Tantang Jokowi Dialog Terbuka soal Ijazah

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:31

Program Kopdes Tak Boleh Abaikan Prinsip HAM

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:19

Wacana Dua Periode Anyep Bikin Relawan Beralih Dukung Gibran Maju Capres

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:05

Anomali Gembok Rp1 Juta Ditjenpas

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:53

JPU Kasus Ijazah Jokowi Bikin Takut Narasumber Hadiri Diskusi di Televisi

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:46

Burung Bicara Sebelas Kata

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:34

Eropa dalam Perang Salib Pertama (1096-1099)

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:27

Penalti Mbappe Bawa Les Bleus ke Perempat Final

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21

Keuntungan BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:06

Selengkapnya