Berita

ilustrasi

Adhie Massardi: SBY, Hentikan Jebak Aktivis Perubahan dengan Cara-cara Licik dan Tak Beradab!

SENIN, 07 MEI 2012 | 15:58 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Polisi harus menghentikan modus menjebak aktivis dengan mengaitkan mereka dengan narkoba. Cara-cara licik ini merupakan bagian dari upaya rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membungkam aktivis perubahan secara tidak beradab.

Demikian disampaikan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi dan Jurubicara Rumah Perubahan 2.0 Edy Mulyadi, di Jakarta (Senin 7/5). Sejumlah kasus yang menimpa para aktivis, termasuk para ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), menunjukkan modus serupa yang diterapkan Polisi untuk menangkap mereka. Sehubungan dengan itu, baik Adhie maupun Edy meminta agar para aktivis perubahan lebih berhati-hati.

Adhie menjelaskan, akhir-akhir ini polisi menggunakan cara-cara licik untuk menangkapi aktivis perubahan. Modus itu antara lain dilakukan dengan menaruh narkoba di sepeda motor aktivis atau di tempat menginap aktivis. Cara licik ini terbukti cukup efektif dalam menangkapi para aktivis. Salah satu korban modus ini adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jayabaya, Rezky Prima Putra Tuanany, 23 tahun, yang ditangkap polisi awal April silam. Polisi menyatakan menemukan barang bukti berupa satu puntung dan satu bungkus daun ganja kering dengan berat 2,1 gram.
 

 
Peristiwa hampir serupa juga dialami Farel Restu mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK). Farel adalah  korban penembakan peluru tajam aparat kepolisian dalam aksi di Jalan Diponegoro (20/10) lalu. Namun dia ditangkap dengan tuduhan kepemilikan ganja. Modusnya, dia ditangkap setelah 100 meter naik bus Kopaja yang kemudian dirazia polisi. Penangkapan Farel terindikasi merupakan rekayasa pihak kepolisian.

"Razia ini terasa sekali merupakan rekayasa polisi. Hal serupa juga terjadi saat tragedi penyerbuan kampus Universitas Nasional, 24 Mei 2008 silam. Dalam penyerbuan ke dalam kampus, polisi konon menemukan ganja. Lalu Maftuh Fauzi ditangkap dengan tuduhan sebagai pemilik ganja.  Dia digebuki dikantor polisi hingga akhirnya meninggal. Tapi sampai hari ini tidak ada seorang pun polisi yang diusut dan dijatuhi hukuman atas perbuatannya menghilangkan nyawa Mahfud," ujar Edy.

Adhie mengaku mendapat banyak laporan dari mahasiswa tentang praktik licik dan culas seperti ini. Polisi yang sudah mengincar sang aktivis, pura-pura menggelar razia kendaraan. Saat itulah polisi meletakkan narkoba di bagasi motor atau tas yang mereka periksa. Selanjutnya melalui media polisi  kemudian melakukan penggiringan opini sekaligus pembunuhan karakter aktivis.

Dalam dunia intelejen ada upaya memprofil para aktivis yang dituding membahayakan kekuasaan. Melalui upaya profiling itu, bisa diketahui data dan  informasi lain yang dianggap sebagai kekuatan dan kelemahan aktivis. Misalnya, aktivis A adalah perokok, hobi keluar di malam hari, atau temperamental. Dengan profil seperti itu, polisi berusaha menjebak si aktivis, khususnya dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang ada.

"Apa yang terjadi pada Ahmad La Ode Kamaludin atau biasa disapa Kamal, yang diprovokasi untuk berkelahi, adalah contoh nyata bagaimana rezim ini menggunakan segala cara untuk membungkam aktivis perubahan. Saya kira, teman-teman aktivis harus lebih berhati-hati agar tidak masuk perangkap cara-cara licik dan tidak beradab yang digunakan polisi," ujar Edy.

Kamal adalah aktivis yang meneriakkan "Boedino maling" saat Rapat Pansus Angket Pajak di DPR dengan Wapres Boediono. Dia diprovokasi oleh tetangga barunya dengan cara meletakkan puing-puing bangunan pas di depan pintu kosnya sehingga tidak bisa masuk. Ketika Kamal memindahkan puing-puing tersebut, si tetangga baru itu justru marah-marah dengan mengucapkan kalimat-kalimat penghinaan. Sebagai orang yang tempremental, Kamal pun  membalas. Kesabaran Kamal benar-benar habis, ketika si tetangga itu mencaci-maki istrinya dengan kata-kata kotor. Saat itulah Kamal memukul yang bersangkutan sehingga urusan pun berakhir di kantor polisi. Anehnya, saat Kamal diperiksa, si tetangga yang memprovokasi itu sudah ada di sana dan selanjutnya menghilang tanpa diketahui keberadaannya.

"Saya mendesak SBY segera menghentikan cara-cara licik dan tidak beradab ini. Menjebak aktivis perubahan dengan menggunakan narkoba atau memprovokasi, adalah cara-cara yang sama sekali tidak kesatria. SBY sudah terbukti gagal memimpin negeri ini yang berakibat makin sengsaranya kehidupan rakyat. Jangan tambah lagi dosa-dosa itu dengan  modus yang sama sekali tidak beradab ini," tukas Adhie. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya