Platform ini dirancang agar pengguna bisa berspekulasi mengenai hasil berbagai peristiwa, mulai dari dinamika politik, pergeseran ekonomi, hingga ajang olahraga.
Laporan New York Times mengatakan, bahwa menurut sumber yang familier dengan proyek ini, aplikasi yang diberi nama sandi Arena tersebut akan beroperasi secara mandiri, terpisah dari ekosistem utama Meta (Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger).
Langkah Meta ini dipicu oleh lonjakan nilai ekonomi yang luar biasa pada industri prediction market dalam beberapa tahun terakhir, yang dipelopori oleh platform seperti Polymarket dan Kalshi.
Sektor ini terbukti menjadi mesin pencetak uang yang sangat massif, di antaranya terjadi onjakan volume transaksi. Pada tahun 2025, volume transaksi gabungan Kalshi dan Polymarket menyentuh angka 50 miliar Dolar AS. Hanya dalam waktu setahun, nilainya meroket tajam melampaui 130 miliar Dolar AS.
Operator di industri ini mendulang keuntungan besar dari biaya transaksi (transaction fees) yang dipotong dari setiap taruhan pengguna. Hal inilah yang menjadi daya tarik ekonomi utama bagi Meta untuk membuka keran pendapatan baru.
Sebagai strategi awal untuk memitigasi risiko, Arena diperkirakan menggunakan sistem poin virtual tanpa melibatkan uang tunai. Meski demikian, Meta tidak menutup peluang untuk mengintegrasikan taruhan uang riil di masa depan demi memaksimalkan potensi monetisasinya.
Arena sendiri merupakan bagian dari diversifikasi produk eksperimental Meta, berdampingan dengan proyek lain seperti Meta Photos, —sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk pembuatan konten media baru.
Bagi Meta, meniru tren pasar yang bernilai tinggi adalah strategi pertumbuhan yang lumrah. Zuckerberg konsisten mengadopsi fitur-fitur populer kompetitor demi mempertahankan dominasi ekonominya. Namun, strategi meluncurkan aplikasi mandiri ini membawa risiko investasi yang tidak kecil. Melalui divisi New Product Experimentation, Meta pernah membakar modal untuk merilis aplikasi podcast, perjalanan, musik, hingga kencan yang sebagian besar gagal total di pasar.
Meta sebenarnya pernah menguji pasar prediksi lewat aplikasi Forecast saat awal pandemi. Menggunakan sistem poin, proyek ini akhirnya disuntik mati pada 2022 karena kurang menghasilkan dampak ekonomi bagi perusahaan.
Sumber internal Meta menyebutkan bahwa Arena masih dalam fase pengembangan awal dan belum ada kepastian apakah akan dilepas ke pasar global. Kendati demikian, langkah taktis ini menegaskan ambisi ekonomi Zuckerberg: terus memburu sumber pertumbuhan baru dan beradaptasi dengan pergeseran perilaku konsumen demi menjaga takhta Meta sebagai raksasa media sosial terbesar di dunia.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: