Dua peristiwa yang dimaksud Said Didu yakni aksi kelompok yang disebutnya sebagai mahasiswa abal-abal di Bundaran Hotel Indonesia (HI) bersama Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad, serta dugaan teror di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, Sukoharjo, Jawa Tengah.
"Kedua kejadian tersebut merusak nama baik Polri yang sudah mulai mendapatkan kepercayaan rakyat setelah penggantian Kapolri," kata Said Didu lewat akun X miliknya, dikutip Minggu, 1 November 2026.
Sebelumnya Polres Sukoharjo dan Polda Jawa Tengah menggeledah Pondok Pesantren (Ponpes) Hamalatul Quran di Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo
Penggeledahan itu bagian dari pengembangan kasus pembakaran dan perusakan Warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, pada 12 September 2026.
Pihak pesantren menyesalkan caranya lantaran penggeledahan diduga disertai intimidasi. Sedangkan polisi menyebutnya sesuai prosedur dan berizin pengadilan. Kapolda Jateng dan Pemprov Jateng menyebut lokasi itu tidak terdaftar di Kementerian Agama (Kemenag).
Menurut mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu, kedua kejadian tersebut perlu mendapat perhatian serius dari institusi kepolisian. Ia pun meminta Divisi Humas Polri menyelidiki kedua peristiwa tersebut agar persoalannya menjadi terang.
“Sebaiknya Polri DivHumas Polri menyelidiki kedua kejadian tersebut,” tegas Said.
Said Didu menilai, penanganan kedua peristiwa itu penting agar kepercayaan masyarakat terhadap Polri yang mulai tumbuh tidak kembali tercoreng.
BERITA TERKAIT: