“Mungkin saja. Kami akan mempertimbangkannya,” kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Sabtu, dikutip dari CNBC International, Senin 12 Oktober 2026.
“Kami baru saja mengetahui tentang serangan baru-baru ini. Jadi, kami akan membuat keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” ujarnya.
Dua pejabat pemerintah Arab Saudi mengatakan kepada MS NOW bahwa Riyadh telah meminta “dukungan pertahanan mendesak” dari Washington setelah serangan tersebut. Mereka menilai AS perlu segera turun tangan untuk membantu koalisi pimpinan Arab Saudi menghadapi Houthi di Yaman. Namun, hingga laporan CNBC diterbitkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi mengenai permintaan itu.
Ancaman keamanan kembali meningkat setelah Bandara Internasional King Khalid menjadi sasaran serangan berulang. Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi menyebut serangan pada Sabtu menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya.
Sehari kemudian, sebuah proyektil kembali menghantam terminal penumpang di kompleks bandara tersebut, menurut laporan Associated Press. Belum ada keterangan terperinci mengenai dampak serangan terbaru itu.
Kolonel Turki Al-Maliki, juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi yang berperang melawan Houthi di Yaman, mengecam serangan tersebut sebagai “kejahatan perang”. Ia menegaskan koalisi akan memberikan respons tegas sesuai dengan hukum humaniter internasional. Sementara itu, Houthi kembali memperingatkan maskapai penerbangan, pekerja bandara, dan penumpang agar tidak menggunakan bandara maupun wilayah udara Arab Saudi karena berisiko menjadi sasaran serangan.
Konflik ini juga mengancam jalur perdagangan energi global. Selain menyerang fasilitas penerbangan, Houthi berupaya mengganggu lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Situasi ini menambah tekanan terhadap pasokan energi dunia yang telah terganggu akibat perang Iran dan ketegangan di Selat Hormuz.
Meski demikian, keterlibatan militer AS berpotensi menambah beban operasi Washington di Timur Tengah. Critical Threats Project, bagian dari lembaga kajian American Enterprise Institute, menilai serangan langsung AS terhadap Houthi akan menjadi operasi militer pertama terhadap kelompok tersebut sejak berakhirnya Operasi Rough Rider pada Mei 2025.
Analis juga mempertanyakan kemampuan AS mempertahankan kampanye militer berkepanjangan melawan Houthi sambil tetap menghadapi Iran dan mengantisipasi kemungkinan konflik di kawasan lain, termasuk Asia Timur.
Selain AS, Inggris juga turut mempertimbangkan dukungan tambahan untuk Arab Saudi, tetapi belum berencana terlibat dalam operasi ofensif. Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengatakan pemerintahnya terus berkomunikasi dengan pihak Saudi untuk membahas bantuan yang dapat diberikan.
“Kami selalu menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik ini,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC pada Minggu.
BERITA TERKAIT: