Saham AS Berakhir Positif Sepekan, Pasar Menanti Laporan Laba

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 12 Oktober 2026, 07:51 WIB
Saham AS Berakhir Positif Sepekan, Pasar Menanti Laporan Laba
Ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) bergerak terbatas pada Minggu malam 11 Oktober 2026 waktu setempat, menjelang dimulainya pekan perdagangan yang diwarnai laporan keuangan kuartal III 2026 dan rilis data inflasi.

Berdasarkan laporan CNBC, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,12 persen, sedangkan Nasdaq 100 menguat 0,24 persen. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average bertambah 28 poin atau 0,05 persen.

Pergerakan tersebut menyusul penguatan Wall Street sepanjang pekan lalu. Dow Jones dan S&P 500 masing-masing mencatat kenaikan mingguan untuk kedua kalinya dalam tiga pekan terakhir. Sementara itu, Nasdaq Composite memperpanjang tren penguatan menjadi empat pekan berturut-turut.

Reli saham teknologi menjadi salah satu penopang pasar, membantu investor mengimbangi kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Meski demikian, arah pasar selanjutnya akan bergantung pada perkembangan laba perusahaan dan indikator ekonomi yang dirilis pekan ini.

Musim laporan keuangan kuartal III mulai menjadi perhatian utama investor. Sejumlah bank besar AS dijadwalkan menyampaikan kinerja keuangannya. 

JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo dijadwalkan merilis laporan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Bank of America dan Morgan Stanley menyusul pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Selain kinerja perbankan, investor akan mencermati indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur tekanan inflasi sekaligus membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Laporan keuangan bank juga akan memberikan gambaran mengenai kondisi konsumen dan dunia usaha, termasuk dampak kenaikan biaya pinjaman serta perubahan aktivitas kredit terhadap kinerja perusahaan.

Menurut FactSet, laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh sekitar 29,5 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Jika terealisasi, pertumbuhan tersebut akan menjadi yang ketiga secara berturut-turut ketika laba indeks meningkat lebih dari 25 persen.

Ekspektasi pertumbuhan laba tersebut antara lain ditopang investasi besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk pembangunan pusat data. Namun, investor juga akan menilai apakah pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan ketika biaya operasional dan pendanaan meningkat.

Tekanan terhadap dunia usaha dan konsumen masih berasal dari mahalnya energi serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah. Harga minyak mentah Brent sempat bertahan di atas 104 Dolar AS per barel, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menembus 5,3 persen pada pekan lalu, level tertinggi sejak 2002.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan menekan margin perusahaan. Karena itu, selain mencermati angka laba, investor akan memperhatikan pandangan manajemen mengenai permintaan, kemampuan menjaga profitabilitas, dan prospek bisnis pada kuartal berikutnya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA