Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria tidak menampik penggabungan antara dua badan usaha yang sama-sama bergerak di sektor transportasi laut itu.
Ia mengatakan, rencana merger harus mempertimbangkan karakteristik dan keunikan bisnis masing-masing perusahaan. Menurutnya, penggabungan tersebut bisa dilakukan sepanjang kedua perusahaan memiliki kesamaan model bisnis.
"Itu mungkin bisa, tetapi kita melihat juga apa uniqueness-nya dan semuanya kan dipertimbangkan dengan baik-baiknya. Yang sama dulu yang kita lakukan merger," kata Dony saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, dikutip Jumat, 9 Oktober 2026.
Namun, Dony juga menegaskan wacana penggabungan ASDP dan Pelni dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang sempat bergulir pada 2024 lalu bukan opsi yang tepat. Meski sama-sama bergerak di sektor kelautan, ketiga perusahaan memiliki model bisnis berbeda.
"Kita kan harus mencermati juga bisnis model masing-masing kan? Kan tidak bisa karena mereka laut, terus kita ya nggak bisa kita satukan juga. Karena masing-masing sudah ada best practice industri-nya," ujarnya.
"Pelindo itu port industry. Satu lagi industrinya adalah pelayaran, jadi nggak bisa, tidak ketemu dia. Ya walaupun sama-sama di laut, bukan berarti mereka akan di-merger," tambahnya.
Lebih lanjut, Dony mencontohkan penggabungan perusahaan asuransi, manajemen aset, dan kawasan industri sebagai upaya meningkatkan efisiensi bisnis BUMN.
"Misalkan ke asuransi jelas sama yang kita merger. Asset management kita merger. Kemudian kawasan industri kita merger. Ini kan memang sudah sama. Jadi kita lakukan efisiensi kan, jadi lebih efisien," tuturnya.
Ia berharap perampingan dan konsolidasi BUMN dapat memperkuat kinerja perusahaan sekaligus memberikan manfaat bagi generasi muda.
"Dan nanti kan banyak lapangan pekerjaan, perusahaan kita bagus-bagus nih, semua yang menikmati yang muda-muda ini kan," kata Dony.
Untuk diketahui, Danantara memang tengah merestrukturisasi perusahaan pelat merah dengan memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.074 perusahaan menjadi kurang lebih 250 perusahaan.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, langkah tersebut dilakukan setelah evaluasi menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan BUMN untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan optimalisasi aset.
“Setelah kita melakukan assessment atau evaluasi secara menyeluruh, kita melihat bahwa kita bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan optimalisasi dari aset kita dan kita bisa mengurangkan sampai jumlahnya kurang lebih sebesar 250 perusahaan,” kata Rosan dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.
Rosan mengakui proses perampingan tersebut tidak mudah. Meski demikian, Danantara memastikan restrukturisasi dilakukan dengan tetap mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Kita dalam proses melakukan ini. Tidak mudah, terus terang, tidak gampang. Tetapi tentunya dengan selalu mengikuti peraturan perundang-undangan yang ada dan dengan spirit yang baik, insyaallah ini bisa kita lakukan,” tandasnya.

BERITA TERKAIT: