Farah.ID
Farah.ID

Memaknai Titah Megawati

Kamis, 03 Juni 2021, 16:25 WIB
Memaknai Titah Megawati
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri/Net
Siapa yang tidak setuju sebagai petugas partai silakan out. Banyak yang datang dan mengemis-ngemis minta kembali ke PDI Perjuangan setelah tidak jelas nasibnya.

Itulah petikan Megawati Soekarnoputri. Ketua Umum PDI Perjuangan ini, harus diakui merupakan tokoh kharismatis sekaligus sosok politisi enomenal. Sikapnya terkadang kontroversial, tetapi Mega sangat hegemonik sebagai figur sentral di tubuh partai Moncong Putih.

Logika politik sederhana tak mampu mencerna, kiprah dan pengaruh Megawati. Orang Jawa bilang 'ora sak baene'. Kekuasaannya melampui pimpinan parpol manapun.

Indikator paling nyata adalah titah sang ketua umum ini untuk menentukan rekomendasi bagi calon kepala daerah yang diusungnya. Sejauh ini terkait dengan rekomendasi ini titah Mega ibaratnya sabdo pandito ratu.

Banyak pihak terkecoh dengan kalkulasi ini. Sebab Mega memiliki intuisi, pertimbangan dan cara sendiri untuk menentukan kepada siapa rekomendasi diberikan.

Menarik untuk dijadikan ruang komtemplasi adalah ketika Pilkada DKI Jakarta ketika itu. Mega memberikan rekomendasi kepada Basuki Tjahaja Purnama yang lebih populer dengan nama Ahok, berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat.

Ahok-Jarot sebagai incumbent berhadapan dengan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Secara matematis dan analisas obyektif Ahok-Jarot dapat memenangi pertempuran ini. Tetapi inilah politik, banyak jebakan batman dan manuver tak lazim dilakukan, akibatnya Ahok-Jarot pun keok.

Menarik untuk jadi ruang perenungan di sini, karena sikap dan keputusan Mega seringkali tak sekadar mengejar kemenangan.

Artinya, atas nama demokrasi, marwah partai dan pertimbangan yang sangat khusus dari Mega sendiri, rekomendasi tetap meski kalkulasi normatif bisa jadi kalah. Lalu apa yang menjadi pertimbangan dan alasan Mega, namun yang terjadi hal semacam itu tidak hanya sekali saja.

Fenomena Kandang Banteng Jateng

Ada apa dengan Jateng? Pertanyaan ini mengemuka dan bahkan menjadi hot topik secara nasional lantaran kasus yang mencuat saat Puan Maharani memberikan pengarahan kepada kader PDI Perjuangan Jawa Tengah di Panti Marhen.

Ganjar tak diundang perhelatan itu karena langkah langkahnya sejauh ini dinilai telah kebablasan. Ketua Bapilu DPP PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto yang notabene Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng terang-terangan memberikan keterangan tersebut.

Ganjar tak undang karena diminta fokus mengurus Jawa Tengah. Soal nyapres nanti dulu, urusi wilayah yang menjadi tanggung jawab, dan tak terlalu tebar pesone di Medsos.

Sentilan Bambang Pacul ini memantik banyak tanggapan. Ganjar sendiri sepertinya paham dengan warning tersebut. Nah, benarkah demikian, atau sikap itu sekadar merupakan lip service alias kepatuhan semu, biarlah waktu yang akan mengujinya.

Kita perlu paham, dan menggarisbawahi warning Bambang Pacul. Meski tak sepenuhnya senafas, belakangan muncul pernyataan keras Megawati terkait sebutan petugas partai.

"Yang tidak setuju, atau tidak mendukung kebijakan bahwa mereka yang ditunjuk menjadi kepada daerah atau tugas di luar partai sebagai petugas partai silakan out," begitu pernyataan Mega.

Menarik benang merah ungkapan ini, kemudian ditemalikan dengan warning Bambang Pacul, kita melihat sesuatu di balik itu.

Dalam konteks Ganjar wajar saja kalau PDI Perjuangan bereaksi. Karena tanpa PDI Perjuangan muskil juga kursi Jateng 1 bisa digenggam. Jateng adalah wilayah khusus.

Predikat ini secara politik disematkan label sebagai kandang banteng. Predikat itu tak semata klaim, karena partai Moncong Putih memiliki pendukung sangat signifikan. PDIP bahkan menjadi satu-satunya partai yang bisa mengusung sendiri calonnya. Fenomena unik terjadi pada beberapa pilgub. Tokoh yang tak mendapat sokongan PDIP, meski yang bersangkutan adalah kader akhirnya kalah.

Mardijo tokoh kharistamatik yang juga orang dekat Megawati kalah dengan Mardiyanto karena nekad maju sendiri. Rustriningsih, tokoh yang sempat mendapat sebutan srikandi perjuangan mengalami nasib yang sama.

Titah Mega benar-benar digdaya di Jateng. Karena muncul semboyan-semboyan pejah gesang nderek Megawati. Artinya, mati hidup ikut Megawati, kira-kira begitu.

Makanya jangan heran, Bambang Pacul harus mengingatkan dengan statmen keras karena pertimbangan tersebut. Tegasnya jangan mentang-mentang namanya moncer di survei lantas kebablasan.

Perlu diingat dan dicatat, prestasi Jateng selama kepempimpinan Ganjar juga tak menonjol amat. Artinya biasa-biasa saja. Nah, dengan begitu Ganjar masih perlu bekerja keras membuktikan atau menuntaskan janji-janji kampanyenya.

Jayanto Arus Adi
Pemimpin Redaksi RMOL Jateng.

ARTIKEL LAINNYA