Farah.ID
Farah.ID

Jasa Bangsa Turki Terhadap Dunia Islam

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/dr-muhammad-najib-5'>DR. MUHAMMAD NAJIB</a>
OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB
  • Kamis, 02 April 2020, 11:12 WIB
Jasa Bangsa Turki Terhadap Dunia Islam
Kerjaan Turki Usmani (ilustrasi)/Net
ISTILAH Sulthan untuk seorang pemimpin dan Kesulthanan untuk negara yang dipimpinnya, dimulai oleh Bangsa Turki. Sebelumnya baik dinasti Umayyah maupun Abbasiyah menggunakan istilah khalifah dan khilafah atau kekhalifahan.

Turki Saljuk yang didirikan oleh suku Oghuz yang berkuasa pada abad (11-14 M) di kawasan Asia Tengah, termasuk wilayah Iran saat ini, kemudian ke Timur sampai ke Punjab (Pakistan saat ini) dan ke Barat sampai Anatolia (wikayah Turki di Asia saat ini).

Turki Saljuk secara militer walaupun sangat kuat dan melampaui kekuatan Abbasiyah di Bagdad yang waktu itu sudah sangat rapuh, membiarkannya tetap menjadi simbol dunia Islam, khususnya di dunia Arab.

Kedatangan Mongol di kawasan ini menghancurkan keduanya. Hal inilah yang menyebabkan suku-suku Turki kemudian bergerak ke arah Barat untuk menyelamatkan diri, menghindari kebengisan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulaghu Khan.

Salah satu kelompok suku Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Shah, dilanjutkan oleh anaknya Erthugrul, kemudian cucunya Usman, bukan saja berhasil bertahan, akan tetapi kemudian mendirikan Kesulthanan Turki Usmani yang bertahan ratusan tahun, sampai berakhirnya perang dunia pertama.

Tidak mudah bagi Sulaiman Syah dan keturunannya, yang lari dari kejaran tentara Mongol dari Timur, berhadapan dengan tentara Salib yang menghadangnya di Barat.

Sejarah membuktikan, negara yang dibangun oleh Usman bin Erthugrul bin Sulaiman Shah, yang kemudian dikenal dengan Turki Usmani, bukan saja berhasil mempersatukan dunia Islam, kemudian menjadi pelindungnya, bahkan menjati super power satu-satunya di dunia, yang mampu menguasai separo Eropa selama ratusan tahun.

Ada beberapa Sulthan Turki Usmani yang cukup menonjol selain Usman sang pendiri, yang mendapat gelar Al Ghazi (dalam Bahasa Arab berarti sang penyerbu atau kesatria), antara lain: Muhammad Al Fatih yang berkuasa (1444-1446 M) dan (1451-1481 M). Al Fatih sebenarnya gelar atau nama tambahan yang disematkan di belakang namanya, setelah ia berhasil menaklukan Bizantium yang beribukota di Konstantinopel. Nama Konstantinopel lalu diganti menjadi Istanbul yang kemudian dijadikan ibukota Kesulthanan Turki sampai keruntuhannya.

Jadi Sulthan Muhammadlah dan pasukannyalah, sejatinya yang diramalkan Rasulullah dalam hadistnya yang berbunyi: "Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan". Hadist ini masih dipampang di pintu masuk Istana Topkapi yang kini dijadikan museum.

Sulthan lain yang cukup menonjol adalah Bayazid I yang merupakan Sulthan Turki ke-4, yang berkuasa (1389-1402 M). Bayazid dikenal sebagai panglima pemberani dan cerdas, sehingga kekuasaan Turki meluas dengan cepat saat ia berkuasa.

Ia mendapat julukan dalam bahasa Turki Yildirim yang berarti "kilat" atau "petir", karena kemampuannya menggerakkan pasukan yang sangat besar dengan kecepatan tinggi, sehingga seringkali mengejutkan lawan-lawannya.

Selain berhasil menyatukan Anatolia (wilayah Turki di kawasan Asia), Bayazid juga berhasil memperluas wilayahnya di kawasan Eropa, dengan menaklukan Serbia, Bulgaria, dan Bosnia.

Sulthan Turki lain yang juga terkenal adalah Sulaiman Al Kanuni, yang merupakan Sulthan ke-10, yang berkuasa pada (1520-1566 M). Sulaiman berhasil menaklukan Belgrade, Rhodes, dan Hongaria. Tentaranya baru berhenti bergerak kearah Barat, setelah dipukul mundur saat hendak memasuki Kota Wina.

Ia dekenal sebagai seorang tokoh yang sangat berjasa menata manajemen pemerintahan Turki Usmani, dengan memperbaharui dan memoderenisasi hukum yang dibutuhkan untuk mengontrol kekuasaan Turki Usmani yang sangat luas.

Itulah sebabnya ia mendapatkan julukan Alkanuni (dalam bahasa Arab berarti ahli hukum) yang disematkan di belakang namanya. Julukan lain yang juga sering disematkan di belakang namanya adalah Muhtasim yang berarti "agung" atau "luar biasa".

Selain istilah sulthan dan kesulthanan yang kemudian juga dipakai di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang menunjukkan kuatnya pengaruh Kesulthanan Turki Usmani, simbol bintang dan bulan yang menjadi bendera Turki Usmani, diadopsi oleh banyak negara Muslim seperti Aljazair, Tunisia, Libia, Azerbaijan, Mauritania dan Pakistan, termasuk Kesulthanan Aceh. Misi dagang, penasehat militer, serta ulama, dikirim ke seluruh dunia Islam oleh Turki.

Keruntuhan Turki Usmani disebabkan kekalahanya dalam perang Dunia Pertama. Turki yang dibantu oleh Jerman dikeroyok oleh Inggris, Perancis, dan Rusia. Namun sejumlah pengamat menyimpulkan, kekalahan Turki tidak bisa dilepaskan dari pemberontakan bangsa Arab, yang saat itu ingin merdeka dan melepaskan diri dari kekuasaan bangsa Turki.

Kini saat dunia Arab terpecah-belah, dimana penganut Syi'ah berusaha disatukan oleh Iran, sementara Turki berusaha menyatukan penganut Sunni. Bagaimana ujungnya? Wallahua'lam. rmol news logo article

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

ARTIKEL LAINNYA