Teladan Tentara PETA Membela Tanah Air Indonesia

Jumat, 14 Februari 2020, 16:16 WIB

Muhammad Agus Fuad/Repro

TIDAK banyak orang tahu bahwa 14 Pebruari 1945 adalah hari penting dalam perjalanan sejarah pergerakan nasional. Diperingati sebagai Hari Pembela Tanah Air (PETA), hari dimana terjadi peristiwa pemberontakan pasukan PETA di Blitar, Provinsi Jawa Timur.

Saat itu perlawanan terhadap penjajah Jepang dipimpin oleh Supriadi. Enam bulan sebelum kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia diproklamirkan. Supriadi dan beberapa pasukan PETA dinyatakan hilang hingga saat ini.

PETA sendiri lahir berawal dari surat seorang tokoh pergerakan nasional Gatot Mangkoepradja. PETA lahir pada tanggal 3 Oktober 1943. Pembentukan PETA berawal dari surat Gatot Mangkoepradja kepada Gunseikan, pemimpin tertinggi pemerintahan militer Dai Nippon yang berkedudukan di Jakarta.

Tertulis dalam surat itu agar Jepang membentuk barisan pemuda lokal untuk membela tanah air dari ancaman Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.

Berangkat dari sejarah pergerakan tentara PETA di Blitar pada 14 Perbuari itu, seluruh anak bangsa harus meneladani betapa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak didapatkan dengan cara biasa. Harta, waktu, keluarga bahkan nyawa menjadi pertaruhan total oleh seluruh pejuang bangsa kala itu.

Meneladani Tentara PETA


Bukti perjuangan oleh pejuang PETA tentu harus menjadi teladan oleh seluruh anak bangsa saat ini. Berbagai sejarah pergerakan para pejuang bangsa itu menjadi pemantik bahwa seluruh anak bangsa setelah republik Indonesia lahir memiliki mandat untuk mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia.

Tentu di era saat ini pengejawantahan dalam memperjuangkan Indonesia berbeda. Zaman dimana pergerakan informasi yang sangat cepat. Sistem dunia yang sangat berbeda dengan zaman dulu. Bagaimana seluruh anak bangsa saat ini harus memahami betul tugas-tugas kebangsaan dalam merawat Indonesia.

Menurut para founding fathers Indonesia adalah sebuah bangsa yang dapat melindungi segenap rakyat Indonesia, memajukan, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut andil dalam melaksanakan ketertiban dunia.

Seluruh elemen bangsa harus meyakini segala prinsip nilai yang telah diajarkan dalam bentuk pengorbanan para pejuang, termasuk para tentara PETA. Dengan keyakinan yang kuat dan segala upaya para tentara PETA yang berusaha menghapuskan penjajahan Jepang, demi mendapatkan hak kemerdekaan sebagai sebuah bangsa.

Tantangan Bangsa Saat Ini

Memasuki 75 tahun Indonesia merdeka. Semua mahfum bahwa bangsa Indonesia memiliki berbagai tantangan yang harus dihadapi. Beberapa diantaranya merebaknya virus intoleransi yang semakin mengancam elan vital kebangsaan kita, merajalelanya perilaku korupsi dan berbagai ketimpangan ekonomi.

Belum lagi era revolusi industri 4.0 yang memaksa kita untuk bergerak lebih cepat dengan berbagai pendekatan artificial intelegence, big data dan berbagai bentuk akselerasi lainnya yang pergerakan teknologinya sudah sangat susah untuk dikendalikan.

Selain itu, bangsa Indonesia juga dihadapkan dengan masalah narkoba. Merujuk data Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga akhir tahun 2019 lebih dari 3,6 juta nyawa melayang karena menggunakan narkoba.

Permasalahan yang tak kalah kompleks dan harus diantisipasi dengan sangat serius adalah bonus demografi yang memiliki dua sisi mata uang. Bonus demografi yang diprediksi terjadi pada tahun 2030-2040 menghadapkan pada situasi jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar daripada usia tidak produktif.

Indonesia dihadapkan dengan tanggung jawab menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Jika tidak, bukan tidak mungkin membeludaknya usia produktif tanpa kesiapan SDM justru akan jadi tsunami masalah sosial baru.

Dalam pergaulan internasional Indonesia dihadapkan pada situasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China yang mengakibatkan ketidakpastian kondisi ekonomi global. Fluktuasi berbagai harga komoditas dunia.

Belum lagi masalah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tahun 2020 Kementerian Keuangan merilis bahwa defisit APBN 2020 sebesar Rp 307 Triliun, dari total belanja senilai Rp 2.540,4 Triliun.  

Perdebatan masalah ekonomi akan lebih membuat kita mengeryitkan dahi. Soal data rendahnya ekses investasi asing terhadap penyerapan tenaga kerja. Data juga menyebutkan bahwa terjadi defisit neraca perdaganagn yang mencapai 3,1 miliar dolar AS sepanjang tahun 2019

Bagaimana sikap kita?

Merujuk pada berbagai kompleksitas masalah yang telah diulas diatas, seluruh anak bangsa harus meneladani semangat juang para tentara PETA. Cara dan pendekatan yang tentu sangat berbeda dengan para pejuang PETA.
Bagaimana seluruh anak bangsa menyatukan energinya untuk menciptakan kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik dan kedaulatan sebagai sebuah bangsa yang disegani oleh internasional.

Kalau diskursus kita dikaitkan dengan memikirkan berbagai kompleksitas masalah bangsa, maka tidak ada waktu untuk seluruh elemen bangsa untuk memperdebatkan hal-hal kecil seperti ketegangan yang bermuara suku agama ras dan antar golongan (SARA), menggunakan narkoba dan tindakan aproduktif lainnya.

Semua akan fokus bagaimana menciptakan ruang ekonomi baru dengan melahirkan berbagai unit ekonomi yang berhasil guna. Dengan ide dan kemampuan setiap anak bangsa berusaha segigih mungkin menciptakan lapangan kerja, melawan perilaku koruptif dan juga membumihanguskan persebaran narkoba yang sangat mematikan itu.

Tentu ada perbedaan yang signifikan terkait cara membela tanah air dan bangsa Indonesia. Jika dulu para pejuang mengangkat senjata, maka saat ini caranya menyingsingkan lengan baju untuk berkeja lebih keras mewujudkan berbagai mandat dari para pendiri bangsa.

Jika dulu rakyat berkumpul memikirkan strategi perang melawan penjajah, maka saat ini seluruh elemen bangsa mengatur strategi dan menjalankan taktik bagaimana Indonesia bisa berdaulat secara politik dan ekonomi.

Pada ujungnya Indonesia akan menjadi sebuah bangsa yang steril dari perilaku koruptif, kemiskinan yang terus menurun dan juga nihilnya berbagai ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat.

Meneladani para tentara PETA yang memiliki rasa keyakinan tinggi bersikap anti penjajahan dengan cara mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang harus dihormati dan disegani karena memiliki nilai idealisme sebagai bangsa besar.

Muhammad Agus Fuad


Wasekjen PB PMII Bidang Jaringan Kampus 2017-2020

Kolom Komentar


Video

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Harta | Puisi Hari Ini

Senin, 10 Februari 2020
Video

[FULL] | Singgung Film Avengers: Endgame, Pidato Jokowi di Parlemen Australia

Senin, 10 Februari 2020
Video

30 Tahun MURI, Bakti Sosial ke Kampung Sumur

Selasa, 11 Februari 2020