Begitu yang disampaikan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal kepada wartawan di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (2/9).
"Narasinya ada pihak luar yang mencoba untuk memanas-manasi, dan ada agenda setting lah. Padahal lebih banyak masyarakat Papua sangat damai, dan sangat enjoy dengan NKRI," tegas Iqbal.
Buktinya, sambung Iqbal, hanya empat dari 29 kabupaten atau kota di Papua yang bergejolak, sementara di Papua Barat hanya tiga kabupaten dari 13 kabupaten/kota yang bergejolak.
"Masyarakat Papua dan Papua Barat yang rusuh kemarin mungkin tidak tahu apa-apa. Ini ada indikasi, provokasi-rovokasi yang disetting oleh pihak luar. Kita sudah petakan itu, orang-orangnya sudah kita petakan," demikian Iqbal.
Mantan Wakapolda Jawa Timur ini mengungkap, pihak dari luar Indonesia tersebut memprovokasi sehingga keadaan di tanah Papua terkesan sangat mengkhawatirkan dengan provokasi bahwa masalah permasalahan Papua dapat dibawa ke forum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Yang mencoba untuk meng-
amplify suatu keadaan, yang tadinya tidak begitu mengkhawatirkan, menjadi sangat mengkhawatirkan sehingga akan dibahas dalam forum PBB," demikian Iqbal.
Direktorat Jenderal Keimigrasian sebelumnya mendeportasi empat Warga Negara Asing (WNA) asal Australia yang kedapatan ikut dalam aksi demonstrasi yang berujung ricuh di halaman kantor Walikota Sorong pada Agustus lalu.
Keempatnya yakni, Baxter Tom (37), Davidson Cheryl Melinda (36), Hellyer Danielle Joy (31) dan Cobbold Ruth Irene (25). Mereka telah dideportasi melalui Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong dengan menggunakan pesawat Batik Air ID 6197, Senin pagi.
BERITA TERKAIT: