Yaman Luluh-lantak Terhempas Gelombang Arab Spring

Sabtu, 20 April 2019, 09:19 WIB | Oleh: Dr. Muhammad Najib

Ilustrasi/Net

BERAWAL dari Tunisia lalu melanda Mesir, kemudian menyebar ke banyak negara Arab, gelombang Arab Spring terus menerpa Timur Tengah dan Afrika Utara sampai sekarang.

Yaman mulai merasakan dahsyatnya gelombang Arab Spring pada awal tahun 2011, dan sampai sekarang masih terus menelan korban. Belum tampak bagaimana bangsa Arab termiskin ini menemukan jalan keluar. Pertanyaannya, sampai kapan bangsa yang dikenal sangat religius ini terus bertikai, sementara kemiskinan, kelaparan, kematian dan eksodus manusia meninggalkan rumahnya dengan status pengungsi, terus menyayat hati masyarakat internasional.

Demo-demo damai menuntut reformasi dan demokratisasi, mengawali gerakkan massa ke jalan khususnya di ibukota Sana'a. Mereka memprotes buruknya situasi ekonomi, tingginya jumlah pengangguran, dan maraknya korupsi. Demo kemudian menyebar ke banyak kota di seluruh negri.

Pemerintah yang waktu itu dipimpin oleh Ali Abdullah Saleh, salah satu  pemimpin di dunia Arab yang dikenal otoriter,  menyikapinya dengan tegas. Akibatnya, korban mulai berjatuhan, dari yang ditahan, luka-luka, sampai ada yang kehilangan nyawa. Ternyata protes rakyat tidak mengendur, bahkan semakin banyak yang bergabung dengan para demonstran dan semakin berani.

Ali Abdullah Saleh kemudian menggunakan aparat yang dilengkapi nya dengsn senjata untuk meredam gelombang protes rakyat yang semakin marak.  Rakyat yang memegang senjata kemudian membalasnya, menandai dimulainya perang sipil.  Pertumpahan darah tak terhindarkan, dan korban berjatuhan dari dua belah pihak.

Sang Presiden sendiri terkena ledakan bom yang menghanguskan sebagian tubuhnya, akibat serangan roket yang diarahkan ke Istana tempat Presiden berkantor. Untuk menolong nyawanya,  ia lalu diterbangkan ke Saudi Arabia untuk mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit terbaik yang ada disana.

Pada saat bersamaan, Pemerintah Saudi Arabia turun tangan, berusaha menjadi penengah dan memediasi perundingan antara Pemerintah dan para demonstran yang didukung kelompok oposisi.

Setelah tarik-menarik antar elite yang diiringi berbagai rencana kesepakatan yang gagal berkali-kali, dan di bawah tekanan massa yang terus turun ke jalan selama hampir satu tahun, pada awal 2012 sang Presiden yang berprestasi menyatukan Yaman Utara dan Yaman Selatan ini, dan setelah berkuasa lebih dari 22 tahun akhirnya bersedia mengundurkan diri. Posisinya digantikan oleh Abd Rabouh Mansur Hadi  yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden.

Dalam perjalanannya,  Saleh dan para pengikutnya termasuk yang berada di jajaran militer menentang Hadi. Sikap oposisinya ini kemudian mendapat dukungan dari pemberontak yang berasal dari Suku Houthi.
Suku Houthi adalah salah satu minoritas yang beragama Islam bermazhab Syi'ah Zaidiah. Secara politik suku Houthi sangat dekat dan mendapatkan dukungan Iran.

Pada 2014, sekutu dua kekuatan ini menggerakkan kekuatan militernya untuk mengepung ibukota Sana'a. Presiden Hadi dan pendukungnya terjepit, lalu lari ke Saudi Arabia. Houthi kemudian menduduki dan mengendalikan ibukota, sembari terus mengembangkan pengaruhnya sampai ke kota Aden yang memiliki akses ke pelabuhan yang cukup penting.

Pada 2015 muncul koalisi Arab yang dimotori oleh Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab yang didukung Amerika, kemudian melibatkan diri secara langsung dalam kancah perang saudara di Yaman. Disamping menggunakan tentaranya secara langsung, koalisi Arab ini juga telah menggunakan senjata berat dan pesawat tempur untuk menyerang posisi-posisi strategis yang dikuasai kelompok Houthi.

Belakangan Ali Abdullah Saleh berkompromi dengan Hadi, kemudian meninggalkan Houthi. Houthi yang menguasai Ibukota dan mendapatkan dukungan dari Iran terlanjur besar dan kuat. Dalam sebuah operasi militer di ibukota,  Saleh dan sejumlah pengawalnya tewas diberondong pasukan Houthi.

Saudi Arabia bersama UEA terus membantu pemerintah Hadi, baik saat di pengasingan maupun setelah kembali ke negrinya dan mengendalikan kekuasaan dengan cara berpindah-pindah. Bentuk bantuan yang diberikan, mulai bantuan ekonomi, politik, sampai bantuan militer. Dengan demikian proxcy war antara Saudi Arabia dan Iran tidak terelakan. Serangan-serangan pesawat tempur Saudi Arabia dibalas oleh Houthi dengan cara mengirimkan roket dan drone ke sejumlah sasaran penting di wilayah Saudi Arabia. Jika Saudi Arabia didukung Amerika, maka Rusia berdiri di belakang Iran.

Sampai saat ini perang saudara di Yaman sudah berlangsung sekitar 8 tahun. Menurut UNHCR memperkirakan sekitar 4.800 warga sipil Yaman tewas sepanjang tahun lalu. Dan sejak perang berkobar lebih dari 85 ribu, anak-anak telah meninggal dunia akibat kelaparan dan gizi buruk. Sementara sekitar 400 ribu anak-anak lagi, sampai kini masih mengalami masalah kelaparan.

Dalam laporan resminya di sidang Dewan Keamanan PBB akhir tahun lalu, Mark Lowcock dalam kapasitasnya sebagai Kepala Kemanusiaan PBB menyatakan bahwa  sistem kekebalan tubuh  jutaan orang yang selamat dari perang saat ini mulai lumpuh, sehingga membuat mereka, khususnya anak-anak dan lansia mengalami gizi buruk, kolera dan jenis penyakit lainnya.

Reuters melaporkan; secara keseluruhan perang di Yaman telah menimbulkan keruntuhan ekonomi negri ini, yang telah mengakibatkan 15,9 juta orang atau 53 persen penduduknya menghadapi kerawanan pangan akut. Disamping menghadapi masalah kematian dan kelaparan, masyarakat sipil juga terus-menerus menghadapi ancaman serius terhadap keselamatan mereka, rasa takut dan putus asa.

Sementara Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab tidak mengendurkan tekanan politik maupun operasi militernya. Padahal tanpa keterlibatan asing pun,  negri ini sudah sangat rawan konflik. Masyarakat Yaman hidup berkelompok berdasarkan ikatan suku yang disebut kabilah. Tiap kabilah bangga dengan kabilahnya masing-masing, dan tidak pernah berhenti bersaing untuk menjaga marwah garis keturunan.

Potensi konflik diperparah dengan tradisi memberikan senjata berbentuk pisau melengkung yang disebutnya jambia kepada anak laki-laki yang menginjak dewasa . Jambia kemudian diselipkan di sabuk besar yang diikatakan di perut yang berfungsi unuk menahan sarung tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat di sana. Karena itu jambia dibawa kemana saja mereka pergi. Lama kelamaan jambia yang semula berfungsi untuk melindungi diri berubah menjadi simbol keberanian atau kejantanan.

Bagi masyarakat Yaman, kini jambia modern namanya AK 47 buatan Rusia. Saat ini
jumlah senjata yang beredar sudah lebih banyak dari jumlah penduduk Yaman sendiri. Seorang teman asal Indonesia yang tinggal disana menganalogikan, bagi orang Yaman memiliki senjata api seperti orang Indonesia memiliki HP.

Kini bukan hanya AK 47 yang dimiliki penduduk, bahkan peluncur roket diperjual-belikan di pasar secara bebas. Sejumlah orang bahkan mengoleksi berbagai jenis senjata canggih untuk menaikan status sosialnya.

Bisa dibayangkan pada masyarakat yang sangat kental persaingan antar kabilah, tidak ada pemerintahan yang dihormati, militer yang terbelah, ditambah setiap orang bisa memegang dan menggunakan  senjata kapan saja dan dimana saja. Kalau membayangkan saja sudah membuat dada menjadi sesak, bagaimana dengan mereka yang mengalaminya secara langsung ? Sungguh pelajaran berharga sekaligus mengingatkan kita betapa mahalnya demokrasi.

(Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi).
Editor: Azairus Adlu

Kolom Komentar


loading