Survei Litbang Kompas: Jokowi Dalam Bahaya?

Ilustrasi/Net

LITBANG Harian Kompas Rabu (20/3) mempublikasikan hasil jajak pendapat. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 49,7 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. 13,4 persen responden menyatakan rahasia.
Bagaimana kita membaca data ini?

Pertama, survei Litbang Kompas mengkonfirmasi data yang sebelumnya dipublikasikan oleh Rico Marbun dari Median dan Eep Saefulloh Fatah dari Polmark. Elektabilitas Jokowi sudah berada di bawah angka 50 persen. Rico menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 47,9 persen. Eep menyatakan lebih rendah, hanya 40.4 persen.

Artinya ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak menghendaki lagi Jokowi, atau setidaknya belum memutuskan memilihnya kembali.

Jelas ini merupakan kabar buruk bagi seorang inkumben seperti Jokowi. Seorang inkumben dapat dikatakan aman, jika setidaknya elektabilitasnya di atas 60 persen.

Angka ini juga menjelaskan mengapa Jokowi dan kubu TKN terlihat sangat panik. Segala macam cara dilakukan. Segala macam sumber daya dikerahkan. Pokoknya halal haram, hantam!

Siapa yang tidak panik coba. Sebagai inkumben yang sudah berkampanye selama hampir lima tahun, punya semua akses sumber daya keuangan dan kekuasaan, kok elektabilitasnya masih di bawah 50 persen?

Kedua, survei Litbang Kompas ini mendelegitimasi dan sekaligus memporak porandakan publikasi lembaga survei yang menjadi tim sukses Jokowi,  antara lain LSI Denny JA, dan SMRC.

LSI Denny JA pada Selasa (5/3) menyebutkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58,7 persen, Prabowo-Sandi 30,9 persen. Yang belum memutuskan 9,9 persen.
SMRC pada Ahad (10/3) merilis survei elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga 32,1 persen. Sepekan kemudian kembali merilis survei, elektabilitas Jokowi dinyatakan naik.

  Baca: Jaga Suara

Pada hari pelaksanaan debat antar-cawapres Ahad (17/3) SMRC menyatakan elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin berada di angka 57,6 persen, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 31,8 persen. Adapun 10,6 persen responden menyatakan tidak tahu/rahasia.

Dengan elektabilitas seperti itu Denny JA sudah dapat memastikan Jokowi akan memenangkan Pilpres 2019. Sementara SMRC juga menyatakan hal yang sama. Hanya bahasanya berbeda. Butuh keajaiban bagi Prabowo untuk memenangkan Pilpres.

Kesimpulan mereka tidak salah. Dengan rentang elektabiltas di atas 25 persen, dan angka yang belum memutuskan lebih kecil, secara matematis tidak ada peluang bagi Prabowo untuk memenangkan pilpres.

Itu kalau data yang mereka sampaikan benar. Tidak memainkan margin of errors. Desain surveinya benar, pengambilan sampelnya benar. Dan yang paling penting,  benar ada surveinya.

Lembaga-lembaga survei ini sesungguhnya nama lain dari tim sukses. Tugas mereka bukan memetakan opini publik, tapi mempengaruhi opini publik. Publikasi hasil survei adalah tugas utama mereka dan menjadi instrumen paling penting.

Coba perhatikan elektabilitas Jokowi yang disebutkan oleh LSI Denny JA dan SMRC. Semua mendekati angka keramat 60 persen. Angka psikologis yang menjadi batas seorang inkumben akan memenangkan kembali kursi kepresidenan.

Publikasi Litbang Kompas menjadi penting, karena mengubah konstelasi. Meski dinyatakan independen, Litbang Kompas  sebenarnya berada dalam satu kelompok bersama belasan lembaga survei yang menjadi pendukung Jokowi.
 
Selisih elektabilitasnya kok bisa sangat jauh? Litbang Kompas hanya menyebut sekitar 12 persen. Sementara SMRC 25.8 persen, dan yang paling fantastis LSI Denny JA 27.8 persen.

Berhembus kabar  ada tarik menarik di internal Kompas dengan istana sebelum sampai pada keputusan mempublikasikan survei itu. Dipublikasikan apa tidak? Kalau dipublikasikan berapa angka elektabilitas yang harus dimunculkan, dan berapa angka yang belum memutuskan untuk memilih?

Sebuah informasi yang beredar luas di media sosial menyebutkan, pengusaha Sofyan Wanandi sudah membocorkan hasil survei itu.

Dalam pertemuan dengan pengusaha yang tergabung dalam APINDO Senin malam (18/3),  Sofyan menyebutkan survei Kompas tidak akan dipublikasikan.  Elektabilitas di bawah 50 persen dengan selisih hanya 11 %,  membuat Jokowi sangat takut.

Sofyan mengingatkan para pengusaha untuk mengerahkan semua sumber daya memenangkan Jokowi. “ Jokowi belum tentu menang, kita tidak boleh lengah,” ujarnya mewanti-wanti.

Soal tidak mempublikasikan survei karena jagoannya bakal kalah pernah dilakukan Kompas. Pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua, Kompas tidak mempublikasikan hasil survei. Data yang mereka  miliki pasangan Ahok-Djarot kalah telak. Kalau dipublikasikan semangat Ahok-Djarot dan pendukungnya bisa langsung runtuh.

Survei Litbang Kompas terbukti “akurat”. Ahok-Djarot kalah dari Anies-Sandi dengan selisih yang selisih suara 15, 92 persen.
 
Coba bandingkan dengan hasil survei SMRC. Hanya sepekan sebelum pelaksanaan pilkada putaran dua, SMRC menyatakan selisih suara Anies-Sandi dengan Ahok-Djarot hanya 1 persen.
 
Dengan trend Ahok-Djarot naik 3,1%, sedangkan dukungan untuk Anies-Sandi turun sekitar 2,8%. Dengan begitu SMRC ingin menyampaikan pesan bahwa Ahok-Djarot akan memenangkan piligub.

LSI Denny JA malah sudah lebih dahulu tereliminasi pada putaran pertama. Sebagai konsultan pasangan Agus-Silvy, survei LSI selalu menempatkan kliennya di posisi teratas. Anies-Sandi mereka nyatakan akan tersingkir di putaran pertama. Hasilnya terbalik, justru  Agus-Silvy yang tersingkir.

Main Aman Dan Pintu Darurat

Keputusan Litbang Kompas tetap mempublikasikan hasil survei, tampaknya merupakan jalan aman yang harus mereka tempuh. Litbang Kompas tetap ingin menjaga reputasinya, sekaligus tidak tetap dapat mempublikasikan angka elektabilitas yang tidak terlalu “mengganggu” suasana hati Jokowi.
Namun bila kita perhatikan  penjelasan hasil survei, Litbang Kompas sudah memberi kisi-kisi yang sangat jelas.

Penurunan elektabilitas Jokowi-Amin bisa disebabkan  adanya perubahan pandangan atas kinerja pemerintahan, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu ada kelompok bawah, dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Pertama, sebulan menjelang pemungutan suara muncul pandangan-pandangan yang makin kritis terhadap hasil kerja pemerintahan. Kinerja selama lebih dari empat tahun, yang sebetulnya bisa dipakai sebagai modal petahana memperbesar pengaruh politiknya, mendapat perlawanan makin sengit.
 
Kedua, penurunan kepuasan masyarakat terhadap kinerja bidang politik-keamanan, hukum, dan sosial mengindikasikan sulitnya pemerintah menahan serangan terhadap tiga sektor itu.

Ketiga, bertambahnya pemilih ragu, terutama di masyarakat kelas bawah, bisa berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas Jokowi-Amin.
 
Keempat, pasangan Jokowi-Amin juga menghadapi persoalan militansi pendukung yang sejauh ini lebih lemah dibandingkan pendukung Prabowo-Sandi.

Bagaimana dengan LSI Denny JA? Mereka justru sudah melangkah lebih jauh. Secara cerdik mereka sudah menyiapkan pintu darurat ( emergency exit ) bila sampai Jokowi kalah.

LSI Denny JA menyatakan, Jokowi akan kalah jika angka yang tidak memilih (Golput) membesar. Padahal berdasarkan survei mereka, angka Golput diprediksi akan lebih besar dibanding Pilpres sebelumnya.

Pada Pilpres 2014 angka Golput sebesar 30.42 persen. Sementara pada pilpres kali ini hanya 49,4 persen pemilih yang bisa menjawab dengan benar kapan pilpres akan dilaksanakan. Dengan kata lain ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak tahu kapan hari pencoblosan.

Dengan begitu logika yang ingin dibangun LSI Denny JA, kalau sampai Jokowi kalah, bukan mereka yang salah. Tapi KPU yang salah karena kurang melakukan sosialisasi…..

Lembaga survei tidak pernah salah. Salah Anda sendiri mengapa tetap percaya!

Penulis adalah pemerhati ruang publik. Artikel ini dikirim untuk Kantor Berita Politik RMOL

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Negeri Ini Semakin Tidak Aman
Hersu Corner

Negeri Ini Semakin Tidak Ama..

09 Juli 2020 09:28
RUU HIP: PDIP-Jokowi Pecah Kongsi?
Hersu Corner

RUU HIP: PDIP-Jokowi Pecah K..

20 Juni 2020 11:10
Waspadai Ganjar Pranowo!
Hersu Corner

Waspadai Ganjar Pranowo!

10 Juni 2020 05:56
Pasukan Tempur Mulai Melawan Jokowi
Hersu Corner

Pasukan Tempur Mulai Melawan..

28 Maret 2020 13:47
Virus Corona, Indonesia Di Ambang Bencana?
Hersu Corner

Virus Corona, Indonesia Di A..

01 Maret 2020 20:49
Lebih Wingit Kota New York Atau Kota Kediri?
Hersu Corner

Lebih Wingit Kota New York A..

20 Februari 2020 21:17
Untung Bu Risma Bukan Gubernur DKI
Hersu Corner

Untung Bu Risma Bukan Gubern..

06 Februari 2020 18:10
Jaringan K-Popers Dunia Dibalik Tagar #China Is Terrorist
Hersu Corner

Jaringan K-Popers Dunia Diba..

25 Desember 2019 21:42